Melestarikan Seni Tradisi di Tengah Industrialisasi Pulau Obi

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Industrialisasi di suatu daerah tidak selamanya harus dibayar dengan hilangnya identitas budaya. Bahkan, pelestarian seni tradisi dapat berjalan beriringan dengan pembangunan daerah. Potret itu terlihat jelas dalam kehidupan warga Desa Soligi di Pulau Obi yang teguh menjaga budaya mereka.

Desa Soligi terletak di gugusan Pulau Obi, tepatnya di Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Desa seluas 118,4 kilometer persegi ini berjarak sekitar 28 kilometer dari pusat kecamatan dan 129 kilometer dari Labuha, ibu kota kabupaten.

Labuha menjadi titik pendaratan pesawat untuk penerbangan komersial dari Kota Ternate. Dari Labuha, perjalanan menuju Obi dilanjutkan menggunakan transportasi laut berupa kapal cepat selama sekitar empat jam, disusul perjalanan darat menuju Soligi.

Desa ini berada di lingkar operasional PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel), perusahaan pertambangan dan pemurnian bijih nikel serta mineral. Meskipun berdampingan dengan area industri, masyarakat Soligi tetap berupaya mempertahankan identitas budayanya.

Salah satu wujudnya terlihat melalui Pergelaran Kesenian Ngibi yang diadakan di depan Kantor Balai Desa Soligi, Jumat (29/5/2026), tepat dua hari setelah Idul Adha 1447 Hijriah. Kesenian ngibi merupakan tarian berpasangan laki-laki dan perempuan sebagai wujud syukur atas kebersamaan.

Seni tradisi ini berasal dari Tanah Buton di Sulawesi Tenggara dan dibawa oleh warga pendatang yang kini mendiami Desa Soligi. Meski mengusung tajuk ”ngibi”, pergelaran tersebut turut menampilkan kesenian lainnya, seperti tari cungka, tari linda, dan silat, yang seluruhnya merupakan kesenian khas Buton.

Baca JugaPotensi Perikanan di Perairan Obi, Maluku Utara

Pergelaran ini sekaligus menjadi ajang menempa generasi muda dalam melestarikan kesenian daerah. Desmita Musli (16), warga Soligi, masih mengingat betul kemeriahan acara tersebut. Siswi kelas XII SMA Negeri 35 Halmahera Selatan (Halsel) ini tampil membawakan tari cungka.

”Awalnya, saya gugup tampil di depan banyak orang. Tetapi, saya tidak mau dengar omongan orang dan terus menikmati tarian,” ujar Mita, sapaan akrabnya, saat diwawancarai via panggilan video, Jumat (19/6/2026). Saat di panggung, ia hanya berfokus mendengarkan tabuhan gendang dan alunan musik.

Mita tampil bersama dua rekannya sebagai perwakilan sekolah. Berbalut sarung, kaki mereka melangkah selaras dengan irama, sementara tangan mereka perlahan mengayunkan selendang. Sesekali mereka membungkukkan badan dan membentangkan selendang dalam tempo yang pelan.

​”Gerakan dasarnya ini yang susah. Saya latihan hampir setiap hari. Terlebih pada minggu terakhir sebelum tampil. Jadi, akhirnya bisa,” ungkap Mita yang baru mendalami tari selama setahun terakhir. Ia mulai tertarik menari setelah beberapa temannya lebih dulu bergabung dengan sanggar seni sekolah.

Tidak sekadar menjadi ”bintang” panggung malam itu, Mita dan rekan-rekannya juga berhasil meraih hadiah karena pergelaran tersebut dirangkai dengan kompetisi. Meski enggan menyebut detail penghargaan yang diraihnya, Mita yang dikenal pemalu mengaku merasa jauh lebih percaya diri seusai pentas.

​”Orangtua juga senang. Mama bilang dia bangga sama saya,” ucapnya. Mita pun bertekad untuk kembali berpartisipasi jika diberi kesempatan tampil pada tahun depan.

Sepatu bola

Pengalaman serupa dirasakan Mawan Aliadi (17), siswa kelas XI SMAN 35 Halsel. Ia masih mengingat jelas pentas akhir Mei lalu. Kala itu, Mawan tampil sebagai pesilat bersama dua rekannya, diiringi tabuhan gendang dan musik.

Mulai belajar silat sejak duduk di bangku kelas VI SD, Mawan telah menghafal beragam gerakan, termasuk jurus kasturi. Namun, unjuk gigi di acara berskala kompetisi adalah pengalaman perdananya. Biasanya, ia hanya pentas secara sukarela dalam acara hajatan desa seusai Lebaran.

”Kalau acara di desa itu sukarela, hajatan. Tapi, kalau pergelaran yang dibikin Harita, saya dapat uang karena menang lomba,” kata Mawan diiringi tawa. Pergelaran yang melibatkan pelajar SD, SMP, hingga SMA itu memang memberikan ruang kompetisi yang sehat.

Malam itu, Mawan merengkuh juara pertama di kategori silat. Ia mendapat sertifikat penghargaan dan uang tunai. Walau enggan merinci nominalnya, ia mengaku hadiah itu telah digunakan untuk membeli sepatu bola baru. ”Hobi saya main bola, kebetulan sepatu lama juga sudah rusak,” tuturnya.

Selain mendukung hobi, partisipasinya di atas panggung memupuk keberaniannya. Kemampuan silat juga membuatnya merasa lebih aman, meski ia menegaskan bahwa bela diri tersebut bukan untuk berkelahi.

Silat, baginya, pun dapat menguatkan langkahnya dalam mengejar impiannya. ”Yang pastinya, setelah lulus sekolah, saya mau kejar cita-cita dulu. Saya mau jadi TNI, tentara. (Kemampuan) silat saya bisa dimanfaatkan untuk itu,” ucap Mawan yang berjanji ikut pergelaran tahun depan.

Mawan dan Mita menjadi bukti bagaimana seni tradisi di Soligi masih tetap bertahan, bahkan diwariskan ke generasi muda. Musniati Mahulette, pembina Sanggar Pelita Kencana SMAN 35 Halsel, menyaksikan betul bagaimana perubahan antusiasme para siswa terhadap seni tradisi.

Antusiasme remaja

Sebelum 2023, kata Musniati, minat anak muda untuk belajar tari cungka atau ngibi masih rendah. Anggota sanggar paling hanya lima anak. Sejumlah guru bahkan sampai mendatangi rumah siswa untuk ”memaksanya” latihan. Namun, mereka tetap belum semangat ikut menari.

”Setelah ada pergelaran seni dan lomba beberapa tahun terakhir, anak-anak mulai tertarik. Bahkan, yang kemarin kami paksa-paksa setengah mati untuk ikut latihan, sekarang mereka yang mau sendiri ikut,” ungkap Musni, sapaannya. Kini, anggota sanggarnya telah mencapai 15 orang.

Meskipun masih terbilang sedikit dibandingkan total siswa yang mencapai 205 orang, menurut dia, jumlah anggota sanggar sudah meningkat tajam. Apalagi, para siswa kini mendapatkan ruang untuk unjuk kebolehan dan berkompetisi dalam seni, tidak sekadar latihan tari atau silat.

Tidak hanya di tingkat SMA, katanya, sejumlah anak di tingkat SMP dan SD kini belajar tari setelah melihat Pagelaran Kesenian Ngibi. Silat dan tari tradisional juga telah ditampilkan pada perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus dan saat penyambutan tamu.

Kondisi ini adalah sinyal positif dalam pelestarian seni tradisi. Apalagi, katanya, orang tua yang masih bisa menari di desa berpenduduk 3.402 jiwa pada 2024 itu hanya berkisar 20 orang. Kini, para penari tradisional mulai didominasi para pelajar. Namun, mereka kekurangan pelatih tari.

”Saya sebenarnya enggak bisa menari. Cuma, melihat anak-anak yang ingin menari, saya kasihan kalau mereka tidak ada pembinanya. Makanya, saya ikut mendidik mereka. Kalau mereka dibiarkan tanpa pendamping, bakatnya tidak muncul,” ujar Musni yang belajar tari secara otodidak.

Menurut dia, belajar seni tradisi tidak hanya membuat para siswa mendapat penghargaan dan meningkatkan rasa percaya diri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya. Tari cungka, misalnya, menggambarkan perjalanan manusia sejak dalam kandungan hingga lahir ke dunia.

”Tari ini sebagai bentuk rasa syukur dan memiliki pesan tentang pentingnya penghormatan kepada perjuangan seorang ibu yang mengandung dan menyusui,” ucap Musni yang juga guru sejarah. Begitu pula dengan tari linda yang menceritakan tradisi tentang pingitan atau bakurung.

Tradisi dilaksanakan ketika remaja perempuan yang memasuki usia dewasa harus menjalani pengasingan diri selama tujuh hari. Hingga saat ini, kata Musni, tradisi ini masih berlangsung di Soligi. ”Itu melambangkan betapa berharganya seorang perempuan,” ucapnya.

Adapun tari ngibi menjadi penutup dalam pergelaran. Tarian berpasangan ini menggambarkan proses kehidupan antara laki-laki dan perempuan dan ungkapan rasa syukur setelah mendapatkan pasangan. Ia pun berharap pergelaran seni terus berlanjut untuk menjaga berbagai nilai tersebut.

Akar budaya

Nurwydi Ladqmani, Kepala Adat Desa Soligi, menilai, kesenian ngibi tidak bisa dilepaskan dari akar budaya Buton. Sebab, hampir seluruh warga berasal dari Buton. Sejak puluhan tahun lalu, mereka bermigrasi menyeberangi laut Banda menuju Obi dan menetap di sana.

Soligi menjadi harapan untuk hidup lebih baik. Nurwydi, misalnya, menginjakkan kaki di desa itu pada 1977 setelah tamat sekolah dasar di Buton. ”Cita-cita saya sebenarnya mau lanjut sekolah. Tapi, karena orangtua tidak mampu, kami akhirnya ikut keluarga di Soligi,” kenangnya.

Ia masih ingat perjuangan menuju Soligi dengan perahu layar yang membutuhkan waktu paling cepat satu pekan. ”Tapi, kalau ada angin kencang, perjalanannya pernah sampai 40 hari,” ucapnya. 

Di Soligi, warga mencari peruntungan sebagai nelayan dan petani. Bersamaan dengan itu, mereka membawa kesenian, seperti tari ngibi, cungka, dan silat. Namun, terdapat perubahan. Ngibi yang dulunya digelar setelah panen raya kini dilakukan pasca-Idul Fitri atau Idul Adha.

Perubahan ini menyesuaikan dengan waktu berkumpul warga setelah hari raya. Saat itu, para mahasiswa dan pekerja di industri tambang nikel sedang libur sehingga bisa hadir dalam pergelaran. Meski demikian, ia meyakini, nilai-nilai kesenian ngibi masih terjaga.

Begitu pula dengan aktivitas warga yang bergerak ke arah industri. Warga yang dulunya bertani dan melaut kini punya pilihan bekerja di area tambang. Infrastruktur penunjang pun tengah terbangun. ”Jalan dari Soligi ke Desa Kawasi, misalnya, jalannya sudah mulai bagus,” ujarnya.

Nurwydi berharap, pelestarian seni budaya desa tetap berjalan seiring dengan industrialisasi. ”Saya juga berharap Harita dapat membangun Gedung Balai Pertemuan untuk menampung warga saat pergelaran. Selama ini, penontonnya ramai sampai ke jalan-jalan,” ucapnya.

Community Relation Supervisor Harita Nickel Wigit Yan Sukmawan mengatakan, perusahaan bersandar pada penghormatan terhadap kearifan lokal. Bagi Harita, lanjutnya, merawat kelestarian budaya sama pentingnya dengan menjalankan laju operasional perusahaan. 

”Tari ngibi adalah identitas luhur masyarakat Soligi. Perusahaan hadir bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial, tetapi ingin memastikan keberlangsungan tradisi ini ke tangan generasi penerus," ujar Wigit dalam keterangan tertulisnya awal Juni lalu.

Tidak hanya di Soligi, pihaknya juga berupaya menjaga budaya daerah yang berada di sekitar area operasional Harita. Di Desa Kawasi, misalnya, pihaknya berkolaborasi dengan dua pemuda setempat, Jofi Cako dan Teo Jurumudi, untuk menggelar Jelajah Warisan Budaya.

Baca JugaMerajut Masa Depan Pemuda Obi melalui Pelatihan Vokasi

Kegiatan ini mengajak masyarakat menyusuri jejak leluhur di Pulau Obi, seperti Danau Karo dan Benteng De Brill. Tempat-tempat tersebut menyimpan sejarah dan warisan budaya. Benteng De Brill yang dibangun pada 1674, misalnya, digunakan VOC untuk mengawasi lalu lintas pelayaran dan perdagangan rempah di kawasan Maluku. 

Penelusuran jejak sejarah Obi hingga pergelaran kesenian ngibi merupakan upaya warga dan perusahaan untuk tetap melestarikan seni budaya di tengah laju perubahan. Upaya tersebut diharapkan tetap lestari di masa depan.  



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Sebut Aset Iran yang Dicairkan untuk Beli Produk AS
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Data Sensus Ekonomi 2026 Jadi Modal Perkuat UMKM di Indonesia
• 9 jam laludetik.com
thumb
Bungkam Kritik, Begini Reaksi Blak-blakan Cristiano Ronaldo Usai Portugal Pesta 5 Gol
• 9 menit lalutvonenews.com
thumb
Bisa Dongkrak Nilai Jual, Mas Rusdi Dorong IKM Pasuruan Percantik Kemasan Produk
• 19 jam laluberitajatim.com
thumb
Banjir Genangi Sejumlah Titik di Kota Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi Minta Maaf
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.