Momentum 35 tahun kemitraan Rusia dan ASEAN mungkin tidak menjadi perhatian utama banyak orang. Di tengah derasnya arus informasi mengenai konflik Timur Tengah, perang dagang, perlambatan ekonomi global, hingga ketegangan geopolitik yang terus berubah, peringatan hubungan Rusia dan ASEAN mudah sekali tenggelam dari pemberitaan.
Padahal bagi Presiden Vladimir Putin, peristiwa ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar seremoni diplomatik.
Di hadapan para pemimpin dan perwakilan negara-negara ASEAN, Putin sedang menyampaikan satu pesan penting kepada dunia. Rusia ingin tetap hadir sebagai mitra strategis yang aktif dalam percaturan Asia Pasifik dan Indo-Pasifik.
Rusia ingin menjadi bagian dari percakapan besar mengenai masa depan kawasan yang saat ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus titik temu berbagai kepentingan geopolitik global.
Banyak orang melihat Putin hanya melalui lensa konflik, sanksi ekonomi, dan rivalitas dengan Barat. Cara pandang seperti itu terlalu sempit untuk membaca keseluruhan arah kebijakan Rusia hari ini. Seorang pemimpin negara sebesar Federasi Rusia tentu berpikir jauh melampaui satu atau dua krisis yang sedang berlangsung.
Ia harus memikirkan keseimbangan kekuatan dunia, jalur perdagangan internasional, ketahanan energi, keamanan pangan, dan stabilitas kawasan yang akan menentukan masa depan generasi berikutnya.
Karena itulah hubungan dengan ASEAN menjadi penting. Kawasan Asia Tenggara hari ini dihuni lebih dari 680 juta penduduk dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak maju. ASEAN telah berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi dunia yang paling dinamis.
Siapa pun pemimpin global yang memiliki pandangan jauh ke depan pasti menaruh perhatian serius terhadap kawasan ini.
Dalam berbagai kesempatan, Putin terus mempertegas komitmen Rusia untuk meningkatkan kemitraan strategis dengan negara-negara ASEAN. Kerja sama ekonomi diperluas. Kerja sama energi diperkuat. Ketahanan pangan menjadi agenda bersama.
Isu keamanan kawasan juga mendapat perhatian khusus. Semua ini menunjukkan bahwa Rusia memandang ASEAN sebagai mitra penting dalam membangun tatanan dunia yang lebih seimbang dan lebih inklusif.
Perhatian Rusia terhadap ASEAN juga tidak dapat dipisahkan dari dinamika global yang sedang berlangsung. Konflik di Timur Tengah masih menyimpan banyak ketidakpastian. Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan secara luas.
Dunia tentu berharap berbagai mekanisme diplomasi dapat berjalan dengan baik sehingga ketegangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Jika situasi memburuk, dampaknya akan dirasakan oleh hampir seluruh negara. Jalur perdagangan internasional dapat terganggu. Harga energi berpotensi mengalami gejolak. Distribusi pangan global ikut terdampak. Negara-negara berkembang akan menghadapi tekanan yang jauh lebih berat dibandingkan negara-negara maju.
Karena itulah para pemimpin dunia yang memiliki visi jauh ke depan mulai membangun berbagai jalur komunikasi dan kerja sama untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan tersebut.
Dalam konteks inilah posisi Indonesia menjadi sangat strategis. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan poros maritim yang menghubungkan Samudra Hindia serta Samudra Pasifik, Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga stabilitas kawasan.
Jalur pelayaran internasional yang melewati wilayah Indonesia menjadi urat nadi perdagangan global. Stabilitas Indonesia memiliki pengaruh langsung terhadap stabilitas kawasan yang lebih luas.
Indonesia juga memiliki posisi yang unik karena mampu membangun hubungan baik dengan berbagai kekuatan dunia. Politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dijalankan memberikan ruang yang luas bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam membangun dialog, menciptakan jembatan komunikasi, dan memperkuat kerja sama antarnegara.
Saya memandang bahwa perhatian Putin terhadap ASEAN dan kawasan Asia Pasifik merupakan refleksi dari cara berpikir seorang pemimpin yang melihat jauh ke depan. Ketika sebagian pihak masih sibuk membaca dunia dari sudut konflik yang sedang berlangsung hari ini, Putin terlihat sedang mempersiapkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan.
Pada tanggal 24 Juni mendatang, saya mendapat kehormatan untuk menghadiri pertemuan Komite Internasional Gerakan Untuk Pembebasan Bangsa-Bangsa di St. Petersburg sebagai anggota tetap dari Indonesia. Kehadiran Indonesia dan Partai Golkar dalam forum internasional ini memiliki arti yang penting karena menjadi jembatan dialog antara berbagai bangsa yang memiliki komitmen terhadap kedaulatan, kemerdekaan, dan kerja sama antarnegara yang setara.
Forum ini juga menjadi kelanjutan dari semangat yang muncul dalam peringatan 35 tahun kemitraan Rusia dan ASEAN. Dunia membutuhkan lebih banyak dialog daripada konfrontasi. Dunia membutuhkan lebih banyak kerja sama daripada permusuhan. Dunia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu memikirkan masa depan umat manusia secara menyeluruh.
Sejarah selalu memberi tempat khusus bagi para pemimpin yang mampu melihat lebih jauh daripada zamannya. Dari berbagai perkembangan yang terjadi hari ini, saya melihat Vladimir Putin sedang berupaya menempatkan Rusia sebagai bagian penting dari percakapan besar mengenai masa depan ASEAN, Asia Pasifik, dan tatanan dunia yang sedang berubah.
Waktu yang akan membuktikan sejauh mana visi tersebut terwujud. Namun satu hal yang pasti, para pemimpin dunia yang memiliki pandangan jauh ke depan selalu memahami bahwa masa depan dibangun melalui kemitraan, bukan melalui keterasingan.
Ali Mochtar Ngabalin. Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional. Anggota Tetap Gerakan Internasional untuk Pembebasan Bangsa-Bangsa berkedudukan di Moskow Rusia.
(rdp/imk)




