Di sebuah daerah perbatasan, seorang anak harus berjalan cukup jauh hanya untuk mendapatkan sinyal internet agar bisa mengikuti pelajaran. Ketika hujan turun atau banjir datang, sekolah berhenti. Bagi sebagian anak Indonesia, belajar masih menjadi perjuangan panjang.
Kisah seperti ini bukanlah cerita yang berdiri sendiri. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pemerataan pendidikan. Saat ini, sekitar 3,9 juta anak dan remaja berada di luar sistem persekolahan atau sering disebut sebagai Anak Tidak Sekolah (ATS). Mereka tersebar di daerah terpencil, wilayah perbatasan, kawasan rawan bencana, hingga komunitas pekerja migran di luar negeri.
Tantangan tersebut semakin besar ketika bencana alam datang. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, lebih dari seribu bencana alam melanda Indonesia. Banjir dan cuaca ekstrem menyebabkan banyak sekolah terganggu dan kegiatan belajar mengajar terhenti. Fakta ini menyadarkan kita bahwa pendidikan tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada ruang kelas konvensional.
Berangkat dari tantangan tersebut, pemerintah mulai membangun Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sebagai salah satu solusi. PJJ bukan sekadar memindahkan pembelajaran ke aplikasi digital atau mengganti papan tulis dengan layar komputer. Lebih dari itu, PJJ merupakan ikhtiar menghadirkan pendidikan yang fleksibel, inklusif, dan berkeadilan, sehingga setiap anak tetap dapat belajar di mana pun mereka berada. Tujuannya sederhana, tetapi sangat penting: memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena jarak, kondisi geografis, atau situasi darurat.
Langkah ini dimulai pada tahun 2025 melalui proyek percontohan di Sekolah Indonesia Luar Negeri Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) bekerja sama dengan SMAN 2 Padalarang Bandung dan untuk melayani anak-anak pekerja migran di Malaysia. Dari pengalaman tersebut, banyak pelajaran berharga diperoleh. Teknologi memang mampu mendekatkan yang jauh, tetapi teknologi saja tidak cukup.
Beragam dukungan disiapkan termasuk penyiapan modul cetak sebagai bagian dari upaya mendukung pembelajaran yang berkelanjutan dan juga peningkatan kapasitas satuan pendidikan dan para pendidik. Dukungan tersebut datang dari multi pihak, unit kerja di lingkungan Kemendikdasmen, SEAMOLEC, Universitas Terbuka serta pihak swasta/masyarakat.
Berbagai pembelajaran dari proyek percontohan itu kemudian dibagikan dalam SEAMEO Centres Policy Research Networks (CPRN) Summit 2026 yang dihadiri kementerian pendidikan negara-negara ASEAN, perguruan tinggi, mitra internasional, serta Kedutaan Australia. Forum tersebut menegaskan bahwa tantangan pendidikan masa depan membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan kolaboratif.
Karena itu, PJJ dibangun melalui sebuah ekosistem yang saling terhubung. Sekolah pusat berperan menjaga mutu pembelajaran dan kurikulum. Platform digital menyediakan sistem pembelajaran dan asesmen daring. Sementara itu, learning hub di komunitas lokal menjadi ruang belajar bersama, tempat peserta didik memperoleh akses teknologi sekaligus pendampingan sosial.
Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak belajar sendirian di depan layar. Mereka tetap memperoleh bimbingan guru, dukungan keluarga, dan lingkungan yang mendukung proses belajar. Pemerintah menyadari bahwa secanggih apa pun teknologi, pendidikan tetap membutuhkan sentuhan manusia. Anak-anak membutuhkan guru yang menginspirasi, komunitas yang menguatkan, dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Karena itulah, model pembelajaran hibrida menjadi pilihan utama.
Keberhasilan proyek percontohan mendorong pemerintah memperluas implementasi PJJ. Pada pertengahan tahun 2026, program ini mulai dilaksanakan di dalam negeri pada 32 provinsi dengan melibatkan 132 sekolah, terdiri dari 32 Sekolah Induk dan 100 Sekolah Mitra yang berfungsi sebagai learning hub yang berada di daerah kantong-kantong ATS. Langkah ini menunjukkan keseriusan untuk memastikan pendidikan dapat menjangkau siapa pun, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil, wilayah perbatasan, kawasan rawan bencana, maupun anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri.
Pendidikan Jarak Jauh bukan semata soal teknologi. Yang sedang dibangun adalah harapan. Harapan bagi anak di daerah perbatasan yang selama ini harus berjalan jauh untuk mendapatkan sinyal. Harapan bagi anak-anak di wilayah bencana yang pembelajarannya sering terhenti. Harapan bagi anak-anak pekerja migran yang tetap ingin menjadi bagian dari masa depan Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara pernah mengingatkan bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia. Semangat itulah yang menjadi ruh Pendidikan Jarak Jauh. Tidak ada anak yang terlalu jauh untuk belajar. Tidak ada pulau yang terlalu terpencil untuk dijangkau pendidikan.
Ketika teknologi, guru, keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak berjalan bersama, sesungguhnya kita sedang membangun jembatan harapan bagi jutaan anak di tanah air. Sebab masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh mereka yang tinggal paling dekat dengan sekolah, melainkan oleh kemampuan kita memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bertumbuh, dan meraih cita-citanya.
Pendidikan harus mampu menembus batas. Sebab tidak ada tempat yang terlalu jauh bagi pendidikan, dan tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi anak-anak di mana pun mereka berada. Semoga ikhtiar ini terus berhasil dan menjadi jalan bagi lahirnya generasi yang unggul, berkarakter, dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik, insyaAllah.





