Jakarta: Tiongkok mendorong penguatan kemitraan strategis dengan Indonesia memasuki periode baru setelah berakhirnya Plan of Action for Strengthening the Comprehensive Strategic Partnership 2022–2026.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Presiden Tiongkok Public Diplomacy Association (CPDA), Tong Xiaoling, dalam Tiongkok-Indonesia Think Tank and Media Forum 2026 yang diselenggarakan Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, CPDA, dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Tong mengatakan hubungan Tiongkok dan Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping dan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kerja sama kedua negara telah menghasilkan berbagai capaian konkret di bidang perdagangan, investasi, infrastruktur, dan pertukaran antarmasyarakat.
Ia menyebut Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut dan masuk dalam tiga besar sumber investasi asing terbesar di Indonesia selama 10 tahun terakhir. Kerja sama ekonomi kedua negara juga diperkuat melalui berbagai proyek infrastruktur, peningkatan perdagangan produk pertanian, serta pertumbuhan kunjungan wisatawan.
"Tiongkok dan Indonesia memiliki potensi kerja sama yang sangat besar. Kedua negara dapat saling mendukung dalam bidang pertanian, ekonomi digital, kecerdasan buatan, energi hijau, kesehatan, dan ekonomi biru," ujar Tong.
Menurutnya, berakhirnya rencana aksi kerja sama 2022–2026 harus menjadi momentum untuk menyusun agenda kemitraan yang lebih ambisius pada periode 2026–2030. Tiongkok menilai kedua negara memiliki kepentingan bersama sebagai negara berkembang dan bagian penting dari Global South dalam menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik global.
Tong juga menyoroti pentingnya hubungan antarmasyarakat sebagai fondasi utama kemitraan jangka panjang. Ia menilai peningkatan interaksi antara akademisi, lembaga pemikir, media, dan masyarakat kedua negara dapat memperkuat saling pengertian sekaligus membuka peluang kerja sama baru di masa depan.
Dalam forum tersebut, Tong mendorong media dan lembaga pemikir dari kedua negara untuk memperkuat dialog serta menghasilkan kajian yang dapat mendukung pengambilan kebijakan. Ia menilai kerja sama media memiliki peran penting dalam membangun pemahaman publik di tengah meningkatnya persaingan narasi dan ketidakpastian global.
Selain itu, Tong menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama di sektor-sektor baru seperti transformasi digital, kecerdasan buatan, dan ekonomi hijau. Menurutnya, kolaborasi di bidang tersebut dapat mendukung target modernisasi kedua negara sekaligus menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Tong menambahkan Tiongkok mendukung peran Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat kerja sama negara-negara berkembang. Ia berharap kemitraan Indonesia-Tiongkok pada periode berikutnya dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan maupun dunia.
(Keysa Qanita)




