Jakarta (ANTARA) - Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ahmad Faisal Suralaga mengatakan Indonesia sudah bergerak pada ekonomi sirkular untuk menghadapi permasalahan dari produksi baterai kendaraan listrik.
Ahmad Faisal mengatakan secara global penyediaan baterai kendaraan listrik menghadapi beberapa tantangan diantaranya ketersediaan mineral, menjawab keperluan penguraian karbon dan perhatian pada sumber daya berkelanjutan.
“Dengan tiga tantangan itu, saya rasa untuk mencapai keberlanjutan sekarang pemerintah Indonesia memberikan kebijakan bahwa kita tidak hanya berhenti pada mengambil sumber daya untuk produksi baterai tetapi kita juga akan bergerak ke recycling,” kata Ahmad dalam acara Korea-Indonesia Economic Partnership Forum, di Jakarta, Rabu.
Pada saat ini transisi global sedang menuju pada energi terbarukan dan elektrifikasi yang berjalan sangat cepat. Baterai telah menjadi komponen kritis dalam persaingan industri, keamanan energi, dan perkembangan keberlanjutan.
Pada saat yang sama, peningkatan produksi baterai dan penggunaannya membawa tantangan baru yang berkaitan dengan efisiensi sumber daya, manajemen sampah, dan kesejahteraan lingkungan.
Ahmad mengatakan pemerintah Indonesia saat ini memiliki regulasi yang komprehensif untuk perusahaan yang mendukung proses daur ulang dari baterai yang juga akan terhubung dengan regulasi yang berlaku di internasional.
Ia mengatakan pendekatan daur ulang baterai dapat menjadikan Indonesia kuat dalam rantai pasok produksi baterai kendaraan listrik dan memungkinkan Indonesia menjadi negara yang terintegrasi dalam produksi baterai mulai dari material baterai untuk memproduksi battery cell dan pengemasan baterai.
Untuk mendukung inisiatif ini, Ia mengatakan Indonesia saat ini juga telah melakukan transformasi dari negara yang ekspor bahan mentah ke luar negeri menjadi negara yang menghasilkan nilai tambah dari pendekatan hilirisasi.
Ahmad mengatakan Indonesia juga melakukan reformasi pada kebijakan bisnis untuk mengurangi tantangan resiko bisnis, serta menjalankan sistem terintegrasi untuk mempermudah investor yang ingin berinvestasi di Indonesia hanya melalui satu pintu.
“Kita juga mempertimbangkan beberapa regulasi internasional misalnya EU Battery Pasport telah terpenuhi di beberapa negara, mungkin di masa depan kita bisa berdiskusi bagaimana Indonesia bisa inline dengan regulasi internasional,” katanya.
Ia mengatakan pemerintah Indonesia tidak bisa bekerja sendiri untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik termasuk untuk melindungi sumber daya alam bahan baku pembuatan baterai yang tersedia di Indonesia seperti nikel.
Ahmad mengajak para investor Korea Selatan untuk berpartisipasi membawa teknologi yang mendukung ekonomi sirkular untuk berinvestasi di Indonesia dan melengkapi rantai pasok dari ekstraksi nikel ke fasilitas teknologi daur ulang baterai.
Baca juga: Pengamat: Hilirisasi nikel jadi modal RI di rantai baterai EV global
Baca juga: Ekonom meyakini insentif EV momen perkuat industri baterai
Ahmad Faisal mengatakan secara global penyediaan baterai kendaraan listrik menghadapi beberapa tantangan diantaranya ketersediaan mineral, menjawab keperluan penguraian karbon dan perhatian pada sumber daya berkelanjutan.
“Dengan tiga tantangan itu, saya rasa untuk mencapai keberlanjutan sekarang pemerintah Indonesia memberikan kebijakan bahwa kita tidak hanya berhenti pada mengambil sumber daya untuk produksi baterai tetapi kita juga akan bergerak ke recycling,” kata Ahmad dalam acara Korea-Indonesia Economic Partnership Forum, di Jakarta, Rabu.
Pada saat ini transisi global sedang menuju pada energi terbarukan dan elektrifikasi yang berjalan sangat cepat. Baterai telah menjadi komponen kritis dalam persaingan industri, keamanan energi, dan perkembangan keberlanjutan.
Pada saat yang sama, peningkatan produksi baterai dan penggunaannya membawa tantangan baru yang berkaitan dengan efisiensi sumber daya, manajemen sampah, dan kesejahteraan lingkungan.
Ahmad mengatakan pemerintah Indonesia saat ini memiliki regulasi yang komprehensif untuk perusahaan yang mendukung proses daur ulang dari baterai yang juga akan terhubung dengan regulasi yang berlaku di internasional.
Ia mengatakan pendekatan daur ulang baterai dapat menjadikan Indonesia kuat dalam rantai pasok produksi baterai kendaraan listrik dan memungkinkan Indonesia menjadi negara yang terintegrasi dalam produksi baterai mulai dari material baterai untuk memproduksi battery cell dan pengemasan baterai.
Untuk mendukung inisiatif ini, Ia mengatakan Indonesia saat ini juga telah melakukan transformasi dari negara yang ekspor bahan mentah ke luar negeri menjadi negara yang menghasilkan nilai tambah dari pendekatan hilirisasi.
Ahmad mengatakan Indonesia juga melakukan reformasi pada kebijakan bisnis untuk mengurangi tantangan resiko bisnis, serta menjalankan sistem terintegrasi untuk mempermudah investor yang ingin berinvestasi di Indonesia hanya melalui satu pintu.
“Kita juga mempertimbangkan beberapa regulasi internasional misalnya EU Battery Pasport telah terpenuhi di beberapa negara, mungkin di masa depan kita bisa berdiskusi bagaimana Indonesia bisa inline dengan regulasi internasional,” katanya.
Ia mengatakan pemerintah Indonesia tidak bisa bekerja sendiri untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik termasuk untuk melindungi sumber daya alam bahan baku pembuatan baterai yang tersedia di Indonesia seperti nikel.
Ahmad mengajak para investor Korea Selatan untuk berpartisipasi membawa teknologi yang mendukung ekonomi sirkular untuk berinvestasi di Indonesia dan melengkapi rantai pasok dari ekstraksi nikel ke fasilitas teknologi daur ulang baterai.
Baca juga: Pengamat: Hilirisasi nikel jadi modal RI di rantai baterai EV global
Baca juga: Ekonom meyakini insentif EV momen perkuat industri baterai





