Lora Shofwan Sebut NU Kritis Menjelang Muktamar, Para Preman Berkuasa

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - KEDIRI - Pengasuh Pondok Pesantren Sembilangan, Bangkalan, KH Muhammad Shofwan Taj atau biasa dikenal dengan Lora Shofwan, menilai Nahdlatul Ulama saat ini dalam kondisi kritis.

“Salah satunya terlihat saat sidang pleno III konbes dan munas NU di Ploso. Para preman bermanuver di hadapan para masyayikh NU dan sesepuh pesantren. Tanpa adab, mereka meluapkan pikiran dan sikap emosional,” kata Lora Shofwan.

BACA JUGA: Lora Shofwan Melihat Ada yang Tak Beres dengan Susunan Panitia Inti Muktamar NU

Menurutnya, banyak preman yang beraktivitas di dalam jam’iyyah (organisasi). Preman itu adalah mereka yang merasa bebas di dalam struktur NU, tidak ingin terikat pada norma dan etika jam’iyyah, memaksakan kepentingannya dengan intimidasi dan ancaman.

“Tidak hanya yang muda-muda, yang tua pun bertindak, sama. Padahal, mereka tokoh di lingkungan NU, dan memiliki pengikut tidak sedikit. Bila itu ditiru generasi berikutnya, awan gelap akan terus menyelimuti NU,” tutur Lora Shofwan.

BACA JUGA: Lokasi Muktamar NU akan Diputuskan dalam Munas dan Konbes di Ploso

Dia menjelaskan, fenomena selama konbes dan munas menjadi cermin pragmatisme dan kapitalisasi jam’iyyah sudah menjangkiti secara akut pada struktur dan kader organisasi. Dan, kehadiran masyayikh NU dan sesepuh pesantren di tengah-tengah mereka tidak lagi dipertimbangkan dan dijadikan kompas moral berjam’iyyah.

“Kalau sudah seperti ini, ingat, Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari telah mengingatkan dalam fatwanya di kitab ‘tanbih an-nahdliyyin’ karya KH Imam Zarkasyi Junaidi, Banyuwangi tentang kerusakan NU bila pragmatisme meluas di dalam jam’iyyah,” ujar Lora Shofwan.

BACA JUGA: Prabowo Minta Ulama NU Bersatu Menjaga Kepentingan Rakyat dan Bangsa

Dia menilai kerusakan jam’iyyah NU dimulai dari kepentingan ingin berkuasa di dalam NU. 

"Para pemimpin NU makin jauh untuk bisa menghadirkan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. NU sekarang bukan lagi sebagai rumah besar untuk berteduh semua warganya dan masyarakat. Namun, dikuasai preman-preman yang ingin mendapat keuntungan pribadi dan kelompok dengan menunggangi kebesaran NU,” katanya.

"NU sekarang tidak lagi menjadi civil society atau pusat keseimbangan strategis yang hidup di tengah masyarakat; yang berkhidmah melayani keluh kesah rakyat demi kemashalatan umat,” imbuhnya.

Lora Shofwan menilai dinamika pelaksanaan Konbes dan Munas NU di Ploso Kediri telah membuka tabir yang sesungguhnya tentang NU yang ditarik sepenuhnya di dalam arus besar kekuasaan.

"Sepanjang pengurus PBNU menjadi pejabat politik atau mendapat posisi di kekuasaan, maka sepanjang itu pula NU tidak bisa menegaskan posisinya sebagai pembawa risalah dan kemashlahatan umat,” kata Lora Shofwan.

“Coba lihat keputusan Muktamar ke-20 NU 1954. NU sudah tegas melarang pengurus merangkap jabatan politik di pemerintahan. Kenapa? Kaarena konflik kepentingan," imbuhnya. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cak Imin di Haul Ponpes Al Falah Ploso: Santri Harus Ambil Peran Hadapi Tantangan Global
• 3 jam lalumatamata.com
thumb
Pramono: Jakarta Siap Dukung PON 2028 di NTT-NTB dengan Venue & Transportasi
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Ada Cerita Lain di Balik Grand Final PFL 2026, Pelaku Usaha Mikro Ikut Panen Peluang
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
RI-Rusia Tanda Tangani Kerja Sama Hukum, Perkuat Mutual Legal Assistance
• 52 menit lalukumparan.com
thumb
Penampakan Taufik Hidayat Penyekap Pacar saat Ditangkap, Tangan Diborgol Tali Tis
• 18 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.