Jutaan Lapangan Kerja Dijanjikan, Mengapa "Mismatch" Tenaga Kerja Masih Terjadi?

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah kerap menonjolkan capaian penciptaan lapangan kerja sebagai indikator keberhasilan ekonomi.

Namun, di balik angka tersebut, muncul pertanyaan yang semakin mengemuka: apakah pekerjaan yang tercipta benar-benar layak dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat?

Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Jaya Darmawan menilai, persoalan utama ketenagakerjaan Indonesia saat ini bukan semata jumlah pekerjaan yang tersedia, melainkan kualitas pekerjaan yang tercipta.

Menurut dia, sekitar 60 persen tenaga kerja Indonesia masih terserap di sektor informal, sementara sisanya bekerja di sektor formal.

Baca juga: HUT ke-499 Jakarta, DPRD DKI Desak Tambah Lapangan Kerja dan Sekolah Gratis

Kondisi ini menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja belum sepenuhnya mampu menghadirkan pekerjaan yang berkualitas.

“Konsekuensinya adalah bukan konteks bahwa sektor informal memiliki versibilitas yang tinggi, atau memiliki kecenderungan pada sektor informal yang high labor, atau high skill, tapi sebenarnya sektor informal kita juga banyak terserap di low skill labor,” ujar Jaya, kepada Kompas.com, Rabu (24/6/2026).

“Sehingga menimbulkan konsekuensi di mana banyak pekerjaan kita tidak mendapatkan upah yang layak, tidak mendapatkan jaminan kesehatan yang cukup, tidak mendapatkan asuransi kerja yang memadai ini, yang sebenarnya disayangkan dari data tersebut,” ucap dia.

Jaya menilai, keberhasilan penciptaan jutaan lapangan kerja seharusnya tidak hanya diukur dari jumlahnya, tetapi juga kualitas pekerjaan yang dihasilkan.

Masalah lain yang mengemuka adalah meningkatnya fenomena lulusan perguruan tinggi yang bekerja di sektor yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan mereka.

Sarjana menjadi pekerja kasar

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 menunjukkan banyak lulusan perguruan tinggi akhirnya terserap ke pekerjaan kasar atau pekerjaan berkeahlian rendah.

Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata terjadinya mismatch atau ketidaksesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.

“Generasi muda, termasuk Gen Z, ketika lulus akhirnya banyak yang terserap di pekerjaan kasar. Data itu terekam dalam Sakernas 2025,” kata Jaya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat kualitas ketenagakerjaan Indonesia masih jauh dari ideal.

Tak hanya itu, CELIOS juga menemukan bahwa generasi muda saat ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan generasi sebelumnya.

Jika generasi X maupun baby boomer relatif lebih cepat memasuki pasar kerja, Gen Z justru harus menunggu sekitar lima hingga tujuh bulan setelah lulus untuk memperoleh pekerjaan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Padahal Indonesia masih menunjukkan demografi anak muda, angka produktifnya masih tinggi,” ujar dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penyamarataan akses perbankan dapat picu peningkatan pembiayaan UMKM
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo Ungkap Alasan Tetap Berpolitik Meski Empat Kali Kalah Pilpres: Melawan Neoliberalisme
• 4 jam laludisway.id
thumb
Program BOOM Periode 1 Resmi Diundi, Puluhan Mitra Ojol Dapat Hadiah Motor Gratis
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
BPKH: Dana Haji Haji Harus Beri Manfaat Untuk Semua Jemaah
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Dokter Tifa dan Roy Suryo Tak Ditahan, Polisi Lepas Tangan di Kasus Ijazah Jokowi: Tanya Kejaksaan
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.