Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris meminta Kementerian Kesehatan mengkaji ulang ihwal rencana penderita tuberkulosis (TBC) menjadi kelompok penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pada prinsipnya saya setuju dengan adanya intervensi gizi buat masyarakat rentan, termasuk yang apa penderita penyakit TBC. Tetapi apakah tepat memberikan MBG kepada penderita TBC? Saya rasa ini perlu dikaji kembali," kata Charles ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Rabu.
Menurut Charles, secara teknis pemberian akan sulit karena belum tentu ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dekat penderita TBC. Di samping itu, rencana ini dinilai riskan mengingat TBC merupakan penyakit menular.
"Ompreng yang dipakai itu apakah nanti dikembalikan ke SPPG dan digunakan kembali? Atau nanti malah bisa menularkan kepada penerima manfaat lainnya yang bukan penderita TBC," katanya.
Selaku legislator yang membidangi sektor kesehatan dan jaminan sosial, Charles menyarankan Kemenkes untuk sebaiknya berkoordinasi dengan dinas kesehatan hingga memanfaatkan puskesmas guna membantu penderita TBC.
"Ada cara-cara lain yang lebih tepat untuk bisa melakukan intervensi gizi kepada penderita TBC. Jangan semua-semua MBG," ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan penderita TBC masuk sebagai kelompok penerima manfaat MBG.
Menurut Budi, pemenuhan gizi bagi penderita bisa mempercepat pemulihan dan menekan angka kematian.
Budi saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (23/6), mengatakan bahwa usulan tersebut didasari berbagai hasil penelitian internasional yang menunjukkan pasien TBC membutuhkan asupan gizi cukup.
"Penderita TBC diobati selama enam sampai 12 bulan, itu daya tahan kondisi fisiknya itu lemah sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya dan itu menyelamatkan nyawa karena TBC itu mematikan," ucapnya.
Budi mengaku telah berkomunikasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryati Deyang mengenai wacana tersebut.
"Itu sebabnya kemarin saya bicara dengan Ibu Nanik, kan ingin meningkatkan, memfokuskan penyaluran MBG. 'Targetnya ke siapa aja?' dia tanya ke saya. Saya bilang, 'Bu, MBG itu sangat membantu saya memecahkan masalah kesehatan'," kata dia.
Menurut Menkes, ada empat kelompok yang rawan terhadap masalah kekurangan gizi, yakni ibu hamil, ibu menyusui, balita di bahwa lima tahun, dan penderita TBC.
"Kalau empat target ini kecukupan gizinya dipenuhi, masalah kesehatan kita akan turun drastis. Buktinya, itu sudah ada di jurnal-jurnal internasional," tuturnya.
Baca juga: Prabowo perluas CKG dan perkuat penanganan TBC nasional
Baca juga: Pemerintah percepat penanganan TBC setelah temuan 241.000 kasus
Baca juga: Prabowo tegaskan program MBG penting atasi kelaparan
"Pada prinsipnya saya setuju dengan adanya intervensi gizi buat masyarakat rentan, termasuk yang apa penderita penyakit TBC. Tetapi apakah tepat memberikan MBG kepada penderita TBC? Saya rasa ini perlu dikaji kembali," kata Charles ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Rabu.
Menurut Charles, secara teknis pemberian akan sulit karena belum tentu ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dekat penderita TBC. Di samping itu, rencana ini dinilai riskan mengingat TBC merupakan penyakit menular.
"Ompreng yang dipakai itu apakah nanti dikembalikan ke SPPG dan digunakan kembali? Atau nanti malah bisa menularkan kepada penerima manfaat lainnya yang bukan penderita TBC," katanya.
Selaku legislator yang membidangi sektor kesehatan dan jaminan sosial, Charles menyarankan Kemenkes untuk sebaiknya berkoordinasi dengan dinas kesehatan hingga memanfaatkan puskesmas guna membantu penderita TBC.
"Ada cara-cara lain yang lebih tepat untuk bisa melakukan intervensi gizi kepada penderita TBC. Jangan semua-semua MBG," ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan penderita TBC masuk sebagai kelompok penerima manfaat MBG.
Menurut Budi, pemenuhan gizi bagi penderita bisa mempercepat pemulihan dan menekan angka kematian.
Budi saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (23/6), mengatakan bahwa usulan tersebut didasari berbagai hasil penelitian internasional yang menunjukkan pasien TBC membutuhkan asupan gizi cukup.
"Penderita TBC diobati selama enam sampai 12 bulan, itu daya tahan kondisi fisiknya itu lemah sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya dan itu menyelamatkan nyawa karena TBC itu mematikan," ucapnya.
Budi mengaku telah berkomunikasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryati Deyang mengenai wacana tersebut.
"Itu sebabnya kemarin saya bicara dengan Ibu Nanik, kan ingin meningkatkan, memfokuskan penyaluran MBG. 'Targetnya ke siapa aja?' dia tanya ke saya. Saya bilang, 'Bu, MBG itu sangat membantu saya memecahkan masalah kesehatan'," kata dia.
Menurut Menkes, ada empat kelompok yang rawan terhadap masalah kekurangan gizi, yakni ibu hamil, ibu menyusui, balita di bahwa lima tahun, dan penderita TBC.
"Kalau empat target ini kecukupan gizinya dipenuhi, masalah kesehatan kita akan turun drastis. Buktinya, itu sudah ada di jurnal-jurnal internasional," tuturnya.
Baca juga: Prabowo perluas CKG dan perkuat penanganan TBC nasional
Baca juga: Pemerintah percepat penanganan TBC setelah temuan 241.000 kasus
Baca juga: Prabowo tegaskan program MBG penting atasi kelaparan





