Kantong Semar Punya Manfaat Ekologis, Bukan Cuma Pemangsa Serangga

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Tanaman kantong semar dikenal sebagai tanaman yang unik yang dapat memangsa serangga untuk kebutuhan nutrisinya. Bentuknya yang menarik pun membuat tanaman ini cocok dijadikan tanaman hias.

Di balik keunikan itu, kantong semar juga menyimpan berbagai manfaat ekologis. Kantong semar dapat berperan sebagai penjaga ekosistem lingkungan, indikator kesehatan lingkungan, serta simbol adaptasi yang evolusioner.

Hal tersebut terungkap dalam orasi ilmiah yang disampaikan Muhammad Mansur dengan judul “Kantong Semar di Indonesia: dari Keanekaragaman Hayati menuju Sistem Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan”. Orasi tersebut disampaikan dalam pengukuhannya sebagai profesor riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Baca JugaSpesies Baru Kantong Semar Raksasa Ditemukan di Sabah
Baca JugaWaktunya Melindungi Kantong Semar Lereng Gunung Slamet

Selain Mansur, sebanyak empat periset lain juga dikukuhkan profesor riset BRIN, yakni Enny Widyati dengan kepakaran ekologis mikrobiom dan ekologi restorasi; I Gusti Komang Dana Arsana dengan kepakaran tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan; Andri Frediansyah dengan kepakaran mikrobiologi bahan alam dan pangan fungsional; serta Cecep Hidayat dengan kepakaran rekayasa pangan dan nutrisi unggas.

Mansur mengatakan, kantong semar atau tanaman yang memiliki nama ilmiah Nepenthes ini mampu hidup di habitat yang ekstrem, seperti lahan gambut, hutan kerangas yang sangat asam dan minim unsur hara, gunung berbatu granit, serta kerang tepi pantai. Habitat-habitat ekstrem tersebut umumnya kurang nitrogen dan fosfor.

“Oleh karena itu, organisme yang terperangkap di dalam kantong semar berperan sebagai sumber nutrisi tambahan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup tanaman (kantong semar) ini,” tuturnya.

Menurut dia, kemampuan kantong semar memeroleh nutrisi tambahan dari serangga dan organisme kecil lainnya menjadi strategi adaptif dalam bertahan di kondisi yang ekstrem. Kantong Nepenthes berfungsi sebagai perangkap pasif yang dirancang secara evolusioner untuk menarik perhatian, menjebak, dan mencerna mangsa.

Kemudian, nektar, aroma, serta struktur licin pada bibir kantong berperan menarik perhatian serangga yang akhirnya akan tergelincir ke dalam cairan kantong. Mangsa tidak dapat kembali baik dan keluar dari kantong karena dinding yang amat licin.

Mangsa yang terjebak pun akhirnya mati dan terurai oleh enzim Nepenthesin. Unsur hara yang terbentuk dari mangsa yang terurai tersebut lalu diserap oleh kantong semar. Variasi bentuk dan ukuran kantong semar menggambarkan strategi yang berbeda menyesuaikan lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh.

Manfaat lain

Mansur menyebutkan, kantong semar punya manfaat ekologis yang melebihi dari perannya sebagai pemangsa serangga. Kantong semar punya manfaat untuk meregulasi populasi serangga lokal dan menyerap karbon dioksida. Ditemukan pula beberapa jenis kantong semar seperti Nepenthes weda di Halmahera Tengah yang mampu mengakumulasi logam berat.

Baca JugaMerawat Flora Ikonik Sumatera di Kebun Raya Itera, dari Gaharu hingga Kantong Semar
Baca JugaTaman Tematik Nepenthes

“Beberapa jenis Nepenthes mampu mengakumulasi unsur logam berat, seperti timbah, mangan, besi, nikel, kobalt, tembaga, dan timah sehingga berpotensi digunakan sebagai biomonitoring kondisi lingkungan,” katanya.

Kantong semar punya manfaat ekologis yang melebihi dari perannya sebagai pemangsa serangga.

Ia menambahkan, kantong semar juga telah dimanfaat oleh masyarakat lokal sebagai obat tradisional. Masyarakat dayak di Kalimantan memanfaatkan cairan kantong semar sebagai obat sakit mata, batuk, dan mengobati kulit yang terbakar.

Perasan daun dan akar kantong semar dimanfaatkan pula sebagai larutan penyegar (astringent), obat disentri, obat batuk, dan demam. Meski belum ada penelitian skala laboratorium untuk membuktikan manfaat tersebut, hal ini dapat menjadi peluang di bidang fitofarmaka sebagai potensi obat bahan alam.

Di beberapa daerah di Kalimantan, kantong semar digunakan juga sebagai wadah untuk menanak nasi saat berada di hutan. Beras yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam kantong Nepenthes, kemudian diberi air dan dikukus. Biasanya itu menggunakan kantong semar yang berukuan besar seperti Nepenthes rafflesiana dan Nepenthes bicalcarata.

Di daerah Kalimantan dan Sumatera, jenis Nepenthes yang lebih kecil digunakan untuk pembungkus makanan seperti kue beras atau kue ketan. Kue-kue tersebut umum dijadikan camilan ringan.

Pusat keanekaragaman

Mansur mengatakan, Indonesia saat ini menjadi pusat keanekaragaman kantong semar di dunia. Dari 211 spesies yang telah ditemukan di dunia, sekitar 39 persen atau 83 jenis berada di Indonesia. Sebarannya meliputi Sumatera (39 jenis), Kalimantan (24 jenis), Sulawesi (14 jenis), Papua (13 jenis), Maluku (5 jenis), dan Jawa (3 jenis).

Terdapat tiga jenis Nepenthes yang baru ditemukan, yaitu Nepenthes pitopangii dari Sulawesi Tengah pada 2009, Nepenthes monticola dari Papua Barat pada 2012, serta Nepenthes diabolica dari Sulawesi Tengah pada 2020. Selain itu, Mansur telah berhasil menghasilkan hibrida Nepenthes thalita melalui persilangan Nepenthes maxima dan Nepenthes reinwardtiana.

Baca JugaWajah Natural Taman Kantong Semar Dibuka untuk Umum Hari Ini
Baca JugaFibriantoni Merawat Rumah untuk ”Nepenthes”

Namun, di balik kekayaan tersebut, kondisi kantong semar di Indonesia membutuhkan perhatian lebih. Berdasarkan penilaian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), sebanyak 23 jenis kantong semar di Indonesia termasuk pada kategori terancam punah. Indonesia bahkan tercatat sebagai negara urutan kedua setelah Brasil dengan jumlah tumbuhan karnivora terancam punah terbanyak di dunia.

Mansur mengatakan, kantong semar memiliki sebaran yang terbatas serta pertumbuhan yang cenderung lambat. Di sisi lain, tanaman ini tengah menghadapi tekanan yang tinggi akibat degradasi habitat dan perdagangan ilegal. Itu membuat ancaman kepunahan semakin besar.

Ia pun mendorong adanya strategi konservasi yang komprehensif dan terintegrasi untuk melindungi kelestarian kantong semar. Konservasi in-situ (di habitat asli) lewat perlindungan habitat serta konservasi ex-situ (di luar habitat asli) melalui budidaya konvensional dan kultur jaringan bisa diperkuat. Hukum yang tegas juga diperlukan terhadap perdagangan ilegal.

“Keberadaan banyak jenis Nepenthes saat ini menghadapi ancaman serius akibat hilangnya habitat, degradasi ekosistem, dan tekanan perdagangan ilegal. Oleh karena itu, konservasi insitu dan eksitu merupakan usaha yang perlu dilakukan segera untuk menjaga Nepenthes dari kepunahan dan tetap lestari hidup di bumi Indonesia,” kata Mansur.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menuturkan, riset pada hakikatnya perlu dikembangkan agar bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian perlu diterjemahkan menjadi solusi bagi kehidupan sehari-hari.

Ia pun berharap agar para profesor riset yang baru dikukuhkan dapat menjadi teladan dalam menjunjung etika keilmuan, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan solusi yang relevan terhadap berbagai tantangan pembangunan nasional. Lima profesor riset yang baru dikukuhkan ini merupakan profesor riset BRIN ke-110 sampai dengan ke-115 dari 5.563 peneliti dan 1.809 perekayasa di BRIN.

“Dengan demikian, riset tidak berhenti sebagai kumpulan data, publikasi atau temuan ilmiah, melainkan riset menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Denmark Mulai Kerahkan Wajib Militer ke Greenland yang Diincar Trump
• 5 jam laludetik.com
thumb
KPK Periksa ASN Imigrasi dan Pengusaha Visa di Bali
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Inggris buntu hadapi Ghana sehingga hanya bisa seri
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
2 Wanita di Kendari Disekap dan Dijual ke Pria Hidung Belang, Pelaku Ditangkap
• 9 jam laludetik.com
thumb
Pezeshkian: Tanpa Punya Rudal, Iran Akan Seperti Gaza Dihancurkan AS-Israel
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.