Bisnis.com, BANDUNG -- Kelurahan Pasirlayung, Kota Bandung, kini menjadi titik sentral lahirnya inovasi pengelolaan limbah organik revolusioner bertajuk Bersemi Farm.
Melalui sistem "Apartemen Ayam Maggot", tumpukan sampah dapur yang semula menjadi beban lingkungan kini dikonversi menjadi sumber pangan bergizi tinggi seperti telur, daging ayam, hingga ikan sebagai bagian dari penguatan ekonomi sirkular.
Inovasi tersebut digagas oleh Linus Pasasa, dosen Program Studi Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Berawal dari keprihatinan terhadap krisis sampah yang kronis di Kota Bandung, Linus menghadirkan sistem peternakan vertikal yang mampu mengolah sampah organik hanya dalam waktu 48 jam, sekaligus memproduksi protein hewani bagi masyarakat.
"Saya sebagai warga Bandung merasa prihatin melihat persoalan sampah. Sebagai dosen, saya berpikir bagaimana ilmu yang kami miliki bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Dari situlah lahir Bersemi Farm, dari sampah menjadi gizi," kata Linus.
Konsep peternakan terpadu ini memanfaatkan larva lalat tentara hitam atau maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen pengurai primer. Berbeda dengan metode komposter konvensional yang membutuhkan waktu hingga tiga bulan, maggot mampu menyelesaikan proses degradasi limbah dalam hitungan hari. Hasilnya, maggot tersebut menjadi pakan bernutrisi bagi ternak, sementara kotoran ternak diolah kembali dalam siklus yang nyaris tanpa residu.
Fasilitas Bersemi Farm di RW 02 Pasirlayung saat ini memiliki kapasitas olah hingga 300 kilogram sampah organik per hari. Angka ini melampaui target Pemerintah Kota Bandung yang menetapkan angka 25 kilogram sampah organik per RW. Saat ini, warga setempat telah mampu menyuplai 50 hingga 75 kilogram sampah per hari untuk dikelola di fasilitas tersebut.
"Kami ingin memperpanjang siklus sampah organik. Jangan berhenti menjadi kompos saja, tetapi bisa menghasilkan protein untuk masyarakat," ujar Linus.
Linus Pasasa merupakan akademisi dengan rekam jejak panjang. Meraih gelar Doktor dari Universität Karlsruhe, Jerman, ia telah aktif mengembangkan riset mulai dari fisika kebumian, mitigasi bencana, hingga kecerdasan buatan. Sejak 2024, fokus pengabdian masyarakatnya kian tajam pada pengelolaan sampah berbasis Zero Waste dan ketahanan pangan.
Implementasi teknologi ini juga didesain untuk mendukung program nasional, termasuk penurunan angka stunting melalui penyediaan sumber protein gratis serta dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis. Desain "Apartemen Ayam Maggot" yang vertikal sangat relevan untuk kawasan perkotaan yang minim lahan, di mana telur ayam dapat dipanen dengan sistem otomatis yang meminimalisir kerusakan.
Kesuksesan Bersemi Farm merupakan buah kolaborasi antara ITB, Pemerintah Kota Bandung, Dinas Lingkungan Hidup, hingga disiplin warga dalam memilah sampah di tingkat hulu. Pola ini mulai direplikasi di berbagai wilayah seperti Bandung Wetan, Lebak Siliwangi, Tamansari, hingga Cipadung. Bahkan, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman mulai melirik model ini sebagai standar pengelolaan sampah di kawasan permukiman nasional.
Ketua RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, mengungkapkan bahwa kehadiran inovasi ini telah mengubah perilaku masyarakat secara signifikan. Sejak awal 2026, warga tidak hanya memisahkan sampah organik dan anorganik, tetapi juga melakukan kategorisasi limbah dapur untuk pakan ternak dan pakan maggot.
"Alhamdulillah masyarakat mulai terbiasa memilah sampah. Bahkan saya sendiri ikut belajar bagaimana mengolah sampah yang benar agar bisa memberikan manfaat," ujar Rahayu.
Melalui Bersemi Farm, Linus berharap budaya mengolah sampah dari rumah dapat menjadi gerakan masif di seluruh Indonesia. Menurutnya, jika pengelolaan sampah selesai di tingkat lingkungan, beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan berkurang drastis dan limbah akan bertransformasi menjadi aset ekonomi yang menyejahterakan masyarakat.
"Kami berharap ide ini bisa diadopsi di seluruh Indonesia. Sampah organik seharusnya selesai di tingkat lingkungan. Kalau itu bisa dilakukan, persoalan sampah bukan lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi sumber pangan, sumber ekonomi, dan sumber kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.





