JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Wening Udasmoro meminta pemerintah meninjau ulang pemberian izin dan keberadaan perguruan tinggi asing di Indonesia.
Menurut dia, kampus asing yang semakin banyak masuk ke Indonesia perlu dievaluasi untuk memastikan manfaatnya bagi pengembangan pendidikan tinggi nasional.
"Jadi, ini perlu meninjau ulang masuknya perguruan tinggi negeri eh perguruan tinggi dari luar negeri ke Indonesia. Ini semakin banyak, jadi perlu kita lihat bermanfaat tidak, perguruan tinggi luar negeri masuk ke Indonesia itu bagi Indonesia?" ujar Wening, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI terkait evaluasi penerimaan mahasiswa baru, Rabu (24/6/2026).
Wening mengatakan, jumlah perguruan tinggi asing yang beroperasi di Indonesia saat ini terus bertambah dan telah hadir di sejumlah kota besar.
Baca juga: UGM Minta Pemerintah Perluas Beasiswa agar Lulusan SMA Bisa Kuliah
"Semakin banyak sekali, bahkan di banyak kota itu mereka mendirikan ya. Di Bandung sudah ada, Jakarta, Surabaya, dan sebagainya," ungkap Wening.
Wening juga menyinggung kemungkinan sebagian kampus asing lebih berorientasi pada keuntungan, dibanding penguatan kapasitas pendidikan tinggi di Indonesia.
"Pada kenyataannya, mungkin mereka ke sini hanya nyari uang, tidak membuat perguruan tinggi kita bertambah berdaya. Karena kita sendiri sebetulnya sudah sangat berdaya kalau kita maksimal melakukan," ujar dia.
Oleh karena itu, Wening menilai, pemerintah perlu lebih selektif dalam membuka akses bagi perguruan tinggi asing untuk beroperasi di Indonesia.
"Mungkin ini saya kira perlu diberi masukan agar tidak semua masuk," ujar Wening.
Baca juga: Ahli UGM di Sidang MK: Hampir 70 Persen Dosen Bergaji di Bawah Upah Minimum
Selain menyoroti keberadaan kampus asing, Wening juga meminta pemerintah memperluas jangkauan program beasiswa agar lebih banyak lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dia mengatakan, selama bertahun-tahun angka lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan tinggi masih berada pada kisaran 30-35 persen.
"Sudah sejak lama, bertahun-tahun, berpuluh tahun, jumlah mahasiswa SMA yang masuk perguruan tinggi ini hanya sekitar 30 sampai 35 persen setiap tahunnya," kata Wening.
Untuk itu, Wening menilai, pemerintah perlu memperluas akses bantuan pendidikan untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi.
Baca juga: Relawan Garda Prabowo Adukan Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ke Bareskrim
"Jadi, kalau menurut saya pemerintah mungkin perlu memperluas jangkauan beasiswa agar mahasiswa SMA yang masuk ke perguruan tinggi itu tidak hanya 30 sampai 35 persen, tapi bisa mungkin 50 sampai 60 persen," tutur Wening.
"Jadi, ini menjadi akan bisa menambah jumlah entah mereka itu nanti masuk perguruan tinggi negeri atau bisa masuk ke perguruan tinggi swasta," pungkas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




