JAKARTA, KOMPAS.com - Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Tatacipta Dirgantara mengusulkan agar sistem penerimaan mahasiswa baru di Indonesia meniru mekanisme yang diterapkan di Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Dalam sistem tersebut, calon mahasiswa yang menjalani Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) terlebih dahulu mengetahui nilai yang diperolehnya sebelum menentukan pilihan perguruan tinggi.
"Di negara-negara yang maju itu sistemnya seperti itu. Dia tes, dapat nilainya, kemudian dia tahu dia bisa diterima di mana," ujar Tatacipta, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI terkait evaluasi penerimaan mahasiswa baru, Rabu (24/6/2026).
Dengan sistem tersebut, kata Tatacipta, calon mahasiswa akan lebih mudah menentukan kampus tujuan karena telah mengetahui hasil ujian yang diperolehnya.
Baca juga: UGM Minta Pemerintah Evaluasi Kampus Asing di Indonesia, Singgung Hanya Cari Uang
Dia mencontohkan sistem seleksi masuk perguruan tinggi di AS yang menggunakan Scholastic Assessment Test (SAT).
Menurut dia, mekanisme serupa juga diterapkan di Inggris.
"Kalau di Amerika kan ada SAT gitu ya. Di Inggris juga ada sistemnya dan kemudian universitas itu sudah punya passing grade-nya, kemudian nanti tinggal di ranking yang melewati passing grade tersebut," ungkap Tatacipta.
Oleh karena itu, dia berharap sistem tersebut dapat dipertimbangkan dalam penyelenggaraan penerimaan mahasiswa baru di Indonesia pada masa mendatang.
Tata juga mengusulkan agar pelaksanaan seleksi nasional dan seleksi mandiri perguruan tinggi diselaraskan dalam satu kalender yang sama.
"Nah, jadi yang mungkin bisa dilakukan adalah pelaksanaan seleksi nasional dan mandiri itu diselaraskan kalendernya," kata Tatacipta.
Baca juga: Pembubaran Kopdar di UGM dan Jebakan Hiperpolitik
Ia mengusulkan agar nilai UTBK dapat dimanfaatkan lebih luas, tidak hanya oleh perguruan tinggi negeri (PTN), tetapi juga perguruan tinggi swasta (PTS).
Menurut Tatacipta, pemanfaatan nilai UTBK secara lebih luas akan membantu calon mahasiswa dalam menentukan pilihan perguruan tinggi sesuai dengan capaian nilainya.
“Di Inggris juga ada sistemnya dan kemudian universitas itu sudah punya passing grade-nya. Kemudian nanti tinggal di ranking yang melewati passing grade tersebut. Saya kira mungkin itu yang penting,” pungkas Tatacipta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




