Likuiditas Belum Merata, Bank Menengah Masih Berebut Dana Deposito?

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Penurunan suku bunga deposito secara industri per April 2026 menunjukkan likuiditas perbankan secara umum masih memadai. Kendati begitu, adanya perbedaan arah kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) menunjukkan bahwa likuiditas tidak sepenuhnya merata.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam laporan Perkembangan Pasar Keuangan Mei 2026 mencatat suku bunga simpanan rupiah pada April 2026 secara industri masih melanjutkan tren penurunan secara terbatas. Kondisi tersebut sejalan dengan likuiditas perbankan yang masih memadai serta arah transmisi kebijakan moneter yang kian longgar.

Meski secara industri menunjukkan tren penurunan, pergerakan suku bunga simpanan antar kelompok bank masih bervariasi seiring dengan strategi penghimpunan dana masing-masing KBMI. LPS mengungkapkan, suku bunga deposito KBMI 1 turun 4 basis poin (bps) menjadi 3,78%, sementara KBMI 4 juga turun 4 bps menjadi 2,86%.

Di sisi lain, suku bunga simpanan pada kelompok KBMI 2 dan KBMI 3 justru mengalami kenaikan. LPS mencatat suku bunga deposito KBMI 2 naik 3 bps menjadi 3,72%, sedangkan KBMI 3 meningkat 3 bps menjadi 3,50%.

“Perkembangan tersebut menunjukkan kompetisi penghimpunan dana masih berlangsung di tengah distribusi likuiditas yang belum merata,” ungkap LPS dalam laporannya, dikutip pada Rabu (24/6/2026).

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) sebagai salah satu penghuni KBMI 3 mengungkapkan likuiditas di pasar sejatinya masih tersedia. 

Baca Juga

  • OJK Dorong Konsolidasi KBMI I, Merger Bukan Lagi Sekadar Wacana
  • OJK: Merger Jadi Salah Satu Opsi Pemenuhan Free Float Bank
  • Likuiditas Perbankan RI Tetap Solid hingga Kuartal II/2026, OJK Ungkap Risikonya

Kendati begitu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut menyerap dana di pasar sehingga berpotensi meningkatkan biaya dana (cost of fund/CoF).

Selain itu, Lani menyebut bahwa rencana pemerintah menarik sebagian dana yang ditempatkan di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga Juli 2026 berpotensi mendorong bank-bank besar untuk lebih agresif menghimpun dana masyarakat.

“Bank-bank Himbara besar akan segera mengambil dana dari masyarakat lebih banyak sehingga kemungkinan besar akan menaikkan cost of fund,” kata Lani kepada Bisnis, Rabu (24/6/2026).

Direktur Community Financial Services PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) Bianto Surodjo menilai kenaikan suku bunga deposito sejumlah bank tidak terlepas dari penyesuaian terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Selain itu, likuiditas pasar yang relatif lebih ketat turut mendorong persaingan dana pihak ketiga (DPK) semakin sengit dibandingkan sebelumnya.

Bianto mengatakan perbankan saat ini tidak hanya mengandalkan penawaran suku bunga yang lebih tinggi untuk mempertahankan dana nasabah, tetapi juga memperkuat keterikatan nasabah melalui pengembangan produk simpanan dan layanan wealth management.

“Kami di Maybank terus berusaha meningkatkan engagement nasabah kami dengan menyediakan produk-produk yang inovatif, baik yang berbasis DPK maupun wealth management,” tutur Bianto kepada Bisnis, Rabu (24/6/2026).

Meski demikian, Direktur PT Bank Jago Tbk. (ARTO) Sonny Christian Joseph menilai kenaikan bunga deposito tidak dapat digeneralisasi berdasarkan kelompok KBMI. 

Menurutnya, besaran bunga deposito lebih ditentukan oleh kebutuhan likuiditas masing-masing bank, ketersediaan DPK, hingga kesesuaian tenor pendanaan dengan penyaluran kredit.

“Bisa jadi di KBMI 2 dan KBMI 3 ada bank yang menaikkan bunga, ada yang mempertahankan, dan ada juga yang menurunkan. Tergantung kondisi likuiditas masing-masing bank,” ujar Sonny saat ditemui Bisnis di Kantor Bank Jago, Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026).

Persaingan Dana Kian Ketat 

Di lain sisi, Sonny tidak menampik bahwa persaingan penghimpunan dana saat ini memang masih ketat. Kendati begitu, pertumbuhan DPK tak selalu bergantung pada kenaikan bunga deposito.

Dia menilai, strategi membangun ekosistem dan menghadirkan produk yang relevan juga dapat menjadi sumber pertumbuhan dana yang signifikan.

Sebagai contoh, Bank Jago berhasil mencatat pertumbuhan dana rekening dana nasabah (RDN) yang kuat seiring meningkatnya aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) dan sinergi dengan ekosistem Stockbit. Kondisi tersebut memungkinkan perseroan meningkatkan penghimpunan dana tanpa harus menawarkan bunga deposito di atas rata-rata pasar.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menyebut kenaikan bunga deposito pada KBMI 2 dan KBMI 3 sebesar 3 bps bukan tanda tekanan berat, melainkan sinyal bahwa persaingan dana mulai lebih terasa pada kelompok bank menengah.

Fenomena ini, lanjut dia, juga memperlihatkan bahwa deposan besar semakin peka terhadap imbal hasil. Ketika pilihan investasi jangka pendek seperti SRBI dan SBN menawarkan imbal hasil menarik, deposan besar tidak hanya membandingkan antarbank, tetapi juga membandingkan deposito dengan instrumen pasar uang dan surat berharga negara. 

Akibatnya, bank yang tidak memiliki basis dana murah kuat harus lebih agresif menjaga dana, terutama jika porsi pendanaan mereka banyak berasal dari deposito besar yang mudah berpindah.

“Inilah sebabnya, meskipun likuiditas industri masih cukup, biaya dana bank menengah bisa naik lebih cepat daripada bank besar,” kata Josua kepada Bisnis, Rabu (24/6/2026).

Perbedaan ini tidak serta-merta berarti bank menengah berada dalam kondisi tidak sehat. Josua mengatakan, masalahnya lebih tepat disebut sebagai ketimpangan distribusi likuiditas dan perbedaan daya tawar dalam pasar dana.

Apabila persaingan ini meningkat, Josua menyebut bahwa margin bunga bank menengah bisa lebih tertekan, terutama bila kenaikan bunga deposito tidak dapat langsung diteruskan ke bunga kredit karena permintaan kredit masih harus dijaga.

Josua memperkirakan, fenomena ini berpotensi berlanjut pada semester II/2026. Apalagi, setelah BI menaikkan BI Rate menjadi 5,75% pada Juni 2026 untuk memperkuat stabilitas rupiah.

Sebagaimana diketahui, bank sentral turut menjaga struktur suku bunga SRBI tenor 6, 9, dan 12 bulan agar tetap menarik bagi aliran modal asing, sekaligus membuka kembali lelang repo tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan.

“Ini berarti sistem perbankan tetap disuplai likuiditas, tetapi harga dana tetap berisiko naik karena suku bunga acuan dan instrumen pasar uang menjadi lebih menarik,” ungkap Josua.

Namun, dia melihat kenaikan bunga deposito pada bank menengah tidak akan menjadi lonjakan besar, melainkan cenderung selektif dan bertahap. LPS, lanjut Josua, memperkirakan suku bunga simpanan rupiah ke depan cenderung stabil dengan ruang penurunan yang masih terbuka, meskipun terbatas. 

Penyesuaian bunga juga diperkirakan tetap bervariasi antarbank karena dipengaruhi kebutuhan likuiditas, strategi penghimpunan dana, dan persaingan pada deposan besar. Dengan demikian, arah industrinya bisa stabil, tetapi di tingkat kelompok bank, terutama KBMI 2 dan KBMI 3, tekanan untuk mempertahankan dana tetap lebih besar.

Menurutnya, bank menengah sebaiknya tidak menanggapi kondisi ini hanya dengan menaikkan bunga deposito karena itu berisiko memicu perang bunga dan menekan margin.

Josua menilai, strategi yang lebih sehat adalah memperbesar dana murah melalui layanan transaksi, rekening operasional korporasi, penggajian, ekosistem digital, dan peningkatan loyalitas nasabah ritel. Bank juga perlu lebih selektif dalam pertumbuhan kredit agar tidak menciptakan kebutuhan likuiditas yang terlalu mahal.

Sementara itu, regulator perlu memantau likuiditas bukan hanya dari angka industri, tetapi juga per kelompok bank dan konsentrasi deposan besar.

“Karena risiko likuiditas sering muncul dari ketimpangan distribusi, bukan dari kekurangan likuiditas agregat,” pungkasnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arda dan Tantri Kotak Kumpulkan Bukti soal Dugaan Penipuan Rp 10 M
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Tak Bagi Dividen Demi Perkuat Modal Kerja, BSML Kejar Target Kinerja Tumbuh 152 Persen
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Viral Emak-emak Disebut Nyopet di Transjakarta, Begini Faktanya
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Kasus Penyekapan Wanita di Bandung, Kriminolog Ungkap Analisis Korban Tidak Kabur Selama 3 Tahun
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Lestari Moerdijat: Piala Dunia Momentum Menata Masa Depan Sepak Bola Indonesia
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.