Suhu udara mencapai 28 derajat celsius di kota Suzhou, Provinsi Jiangsu, China, siang itu. Matahari bersinar terik, tetapi arus pengunjung tak putus memasuki Liu Garden di Jalan Liuyuan, Distrik Gusu, Sabtu (16/5/2026).
Di dalam taman yang masuk ke dalam daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 1997 ini, ratusan wisatawan berjalan menyusuri koridor beratap yang berkelok-kelok dan naik-turun. Sebagian pengunjung tampak duduk menikmati suasana di tepi kolam, sementara rombongan wisatawan bergerak dari satu paviliun ke paviliun lain mengikuti pemandu yang sibuk memberikan penjelasan sembari membawa bendera penanda kelompok. Beragam dialek lokal China dan bahasa asing pun terdengar, termasuk bahasa Indonesia.
Pengunjung terus berdatangan. Banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam di taman yang juga dikenal sebagai Lingering Garden atau ”taman untuk berlama-lama” itu. Di beberapa sudut taman terlihat wisatawan perempuan yang mengenakan hanfu, pakaian tradisional China, asyik berfoto.
Liu Garden seluas 23.300 meter persegi yang dibangun lebih dari empat abad lalu ini memang populer, baik di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara. Sebagai salah satu dari empat taman klasik paling terkenal di China, Liu Garden memadukan kolam, paviliun, koridor beratap, halaman, dan gugusan bebatuan artistik dengan sangat apik.
Keramaian di Liu Garden hanyalah satu contoh dari pesatnya pertumbuhan pariwisata di China. ”Negeri Tirai Bambu” ini tengah menikmati kemajuan pariwisata yang luar biasa. Arus masuk wisatawan asing mengalir deras, bahkan jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata pertumbuhan global.
Sepanjang 2025, lebih dari 68 juta wisatawan asing berkunjung ke China, atau bertambah 9,1 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya. Angka kunjungan ini naik 15,5 persen, hampir tiga kali lipat dari rata-rata pertumbuhan wisatawan internasional global yang hanya 5,4 persen.
Pengeluaran wisatawan asing di China juga meningkat 10,5 persen dibandingkan 2024 menjadi 135 miliar dolar AS. Jika dikomparasikan dengan rata-rata pertumbuhan global yang hanya 3,2 persen, angka kenaikan yang dicatatkan China berlipat ganda.
Lonjakan kunjungan dan belanja wisatawan asing ini berbuah manis bagi perekonomian negara. Kontribusi sektor perjalanan dan pariwisata terhadap ekonomi China mencapai 1,8 triliun dolar AS, tumbuh hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
China berpotensi menjadi negara dengan sektor perjalanan dan pariwisata terbesar di dunia.
Menurut Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (World Travel and Tourism Council/WTTC), China kini telah menjelma menjadi negara dengan kinerja pariwisata terbaik di kawasan Asia-Pasifik. Negara ini juga menjadi bukti nyata bagaimana kebijakan yang terkoordinasi, inovasi, serta investasi jangka panjang di bidang infrastruktur berhasil mendorong roda pertumbuhan pariwisata.
Salah satu kebijakan yang dirasakan paling signifikan adalah kemudahan visa dari China untuk puluhan negara, termasuk Indonesia. Sejak 12 Juni 2025, warga negara Indonesia (WNI) dapat menikmati kebijakan bebas visa transit selama 10 hari atau 240 jam.
”Warga negara dari 55 negara, termasuk Indonesia, yang memegang dokumen perjalanan internasional yang masih berlaku dan tiket transit dengan tanggal serta tempat duduk yang telah dikonfirmasi, dapat transit secara bebas visa,” jelas Kedutaan Besar China untuk Indonesia melalui situs resminya, 13 Juni 2025.
Pemerintah China juga terus mempermudah transaksi para pelancong melalui meluasnya penggunaan platform pembayaran digital, seperti Alipay dan WeChat. Di sisi lain, investasi besar-besaran pada transportasi udara dan jaringan kereta cepat semakin membuka akses ke beberapa kota di penjuru negeri. Konektivitas yang lebih baik ini membantu menyebarkan arus wisatawan ke wilayah-wilayah di luar destinasi utama, seperti Beijing dan Shanghai.
Liu Garden di Suzhou menjadi salah satu destinasi yang ikut menikmati manfaat dari konektivitas tersebut. Kini, Suzhou dapat diakses menggunakan kereta cepat selama 1,5 jam dari Shanghai, ataupun dengan berbagai pilihan kendaraan darat lainnya.
Berkat strategi-strategi ini, derap pariwisata China sepertinya belum akan berhenti. ”China berpotensi menjadi negara dengan sektor perjalanan dan pariwisata terbesar di dunia,” ujar Presiden dan CEO WTTC Gloria Guevara, sebagaimana dikutip dari situs resmi WTTC, Rabu (3/6/2026).
Dalam satu dekade ke depan, rata-rata pertumbuhan sektor ini diproyeksikan mencapai 6,5 persen per tahun. Pada 2036, kontribusinya terhadap perekonomian China diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 3,5 triliun dolar AS.
Dari sisi ketenagakerjaan, industri perjalanan dan pariwisata yang telah menyerap 84,6 juta tenaga kerja warga China pada 2025 ini diperkirakan akan menyediakan lebih dari 103 juta lapangan pekerjaan pada 2036. Dengan kata lain, satu dari setiap lima pekerjaan baru di sektor pariwisata dunia dalam 10 tahun mendatang diproyeksikan berasal dari China.
Lonjakan jumlah wisatawan asing tidak hanya terekam dalam statistik, dampaknya juga mulai terasa langsung di berbagai obyek wisata. Demi melayani pelancong mancanegara, kian banyak pekerja di sektor pariwisata China yang kini fasih menguasai bahasa asing. Bahasa Indonesia menjadi salah satunya.
Hal ini dialami oleh Liao Juan, seorang perempuan warga Shanghai yang telah bertahun-tahun bekerja di agen perjalanan milik Pemerintah China. Siang itu, ia dan rekannya tengah memandu sekitar 90 wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke Liu Garden. Juan bertugas mendampingi separuh dari rombongan tersebut.
Berbekal bendera kecil bertuliskan nama rombongan, Juan memandu 48 wisatawan menyusuri koridor-koridor teduh di taman sembari menjelaskan sejarah dan fungsi setiap bangunan yang mereka lewati. Sesekali ia mengingatkan rombongannya agar tetap berbaris rapi mengingat padatnya pengunjung Liu Garden pada siang hari.
”Bapak dan Ibu, tolong jangan terlalu jauh dari rombongan, nanti tersesat,” imbaunya dalam bahasa Indonesia yang lancar.
Juan mengaku berguru langsung dari penutur asli asal Indonesia agar mahir berbahasa Indonesia. Ia bahkan pernah bertandang ke Indonesia dan mengunjungi kediaman pengajarnya. Kemampuan itu membuat Juan kian laris ditugaskan mendampingi wisatawan Nusantara yang pelesiran ke Shanghai, Suzhou, dan kota-kota sekitarnya.
Seiring bertambahnya jam terbang, kosakata bahasa Indonesianya pun semakin kaya. Ia mulai fasih memahami kebiasaan khas wisatawan Indonesia, tak terkecuali kegemaran mereka berbelanja saat liburan.
Pengalaman serupa dibagikan oleh Kevin (26), pemandu wisata lain di agen perjalanan yang sama. Ia turut mempelajari bahasa Indonesia karena tuntutan pekerjaan dan kini semakin sering mendapat tugas mendampingi rombongan wisatawan asal Indonesia.
”Semakin ke sini, saya perhatikan semakin banyak rombongan dari Indonesia ke China. Lalu, banyak juga rombongan dari Vietnam,” ungkap Kevin.
Dalam beberapa tahun terakhir, China memang makin diminati wisatawan Indonesia. Olahan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah perjalanan wisatawan Indonesia ke China menembus angka 619.622 perjalanan pada tahun 2025. Jumlah ini meningkat sekitar 30 persen jika dibandingkan tahun 2019—sesaat sebelum pandemi—yang tercatat sebanyak 478.080 perjalanan.
Lonjakan tersebut turut mengerek posisi China sebagai destinasi favorit wisatawan nasional. Sebelum pandemi, China tertahan di peringkat kelima setelah Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Timor Leste. Namun, pada 2025, China berhasil naik ke peringkat keempat, membayangi Malaysia, Arab Saudi, dan Singapura.
Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, peningkatan kunjungan wisatawan asal Indonesia ini dipengaruhi oleh perubahan strategi pembangunan di China.
China bisa menawarkan tiga hal sekaligus, yaitu murah, mudah, dan banyak yang bisa dilihat.
”Pertama, mereka melakukan moving up value chain (peningkatan rantai nilai). Kedua, China juga melakukan transisi struktur ekonomi. Struktur ekonomi yang sebelumnya sangat bertumpu pada produksi dan investasi asing kini menjadi lebih berbasis pada konsumsi,” paparnya.
Instrumen utama yang dipilih adalah sektor pariwisata. Industri jasa ini tidak hanya menggerakkan roda ekonomi domestik, tetapi juga ampuh menarik devisa dari mata uang asing yang dibawa para pelancong. Selain gencar mengembangkan pariwisata massal, China kini juga membidik wisatawan kelas atas dengan menyediakan hotel serta beragam fasilitas premium berstandar tinggi.
”China tidak hanya mendorong pariwisata massal. Kalau program bebas visa transit tadi bisa dikategorikan sebagai upaya menarik pariwisata massal, mereka (juga) tak luput mengembangkan pariwisata kelas atas atau high-end tourism,” tambah Faisal.
Faisal menilai keberhasilan China dalam menarik minat wisatawan Indonesia juga tak lepas dari perubahan kondisi ekonomi di Tanah Air. Jumlah masyarakat kelas atas Indonesia dengan pengeluaran per kapita di atas Rp 10 juta per bulan terus meningkat. Kalangan inilah yang memegang porsi mobilitas perjalanan terbesar ke luar negeri.
”Berdasarkan data Susenas terakhir, kelompok ekonomi atas di Indonesia memang mengalami peningkatan dan menjadi kelompok penyumbang terbesar dalam perjalanan ke luar negeri,” paparnya.
Selain itu, kelompok menengah ke atas dengan pengeluaran Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan juga turut menggenjot tren perjalanan wisata. China, sebagai negara tujuan, dinilai sangat mampu memenuhi preferensi kedua kelompok tersebut.
”China mampu menawarkan tiga keunggulan sekaligus, yaitu wisata yang murah, mudah diakses, dan kaya akan atraksi yang memanjakan mata,” ujar Faisal.
Di tengah fenomena melejitnya harga tiket penerbangan saat ini, mobilitas wisata kelompok kelas atas cenderung tidak terpengaruh. Hal ini tentu berbeda dengan kelompok menengah ke atas yang akan lebih ketat dalam mengalkulasi anggaran liburan mereka.
”Harga akan menjadi pertimbangan utama. Jadi, kelompok menengah ke atas ini akan tetap bepergian ke luar negeri, tetapi menjadi jauh lebih selektif,” jelasnya.
Keberhasilan China dalam memikat wisatawan global seyogianya dapat menjadi cerminan berharga bagi Indonesia. Salah satu tantangan terbesar bagi kepariwisataan Nusantara adalah biaya transportasi yang dirasa masih terlalu tinggi. Menurut catatan Faisal, banyak destinasi wisata di dalam negeri—terutama destinasi unggulan di kawasan Indonesia timur—sering kali menuntut ongkos yang jauh lebih mahal dibandingkan pelesiran ke luar negeri.
Ia juga menyoroti ketimpangan yang terjadi antara lokasi sumber wisatawan dan letak destinasi potensial. Saat ini, sebagian besar wisatawan domestik masih berpusat di wilayah barat Indonesia, sementara sekian banyak surga tersembunyi bertebaran di kawasan timur Indonesia.
”Destinasi wisata unggulan kita tidak hanya berada di Jawa, tetapi juga tersebar luas hingga ke kawasan timur Indonesia. Namun, kawasan timur ini tidak akan pernah berkembang maksimal tanpa adanya dukungan permintaan wisatawan dari wilayah barat,” ujarnya.
Selain itu, masih banyak daerah yang menyimpan potensi wisata raksasa, tetapi belum cukup dikenal luas oleh publik. Penguatan citra destinasi secara masif sangat mendesak dilakukan dan menuntut peran aktif dari pemerintah.
Regulator perlu merancang strategi pembangunan kepariwisataan yang komprehensif, termasuk memberikan stimulus wisata melalui program-program kementerian atau lembaga yang menggunakan anggaran negara. Semua kegiatan ini hendaknya diintegrasikan dengan upaya menggerakkan wisata domestik.
Kembali ke Suzhou siang itu, arus wisatawan tampak silih berganti memadati Liu Garden. Ada yang asyik berlama-lama menikmati nuansa sejarah, sebagian lain bergegas untuk melanjutkan penjelajahan ke destinasi-destinasi berikutnya.
Pemandangan ritmis ini menjadi bukti nyata dari manisnya buah investasi panjang pariwisata China. Ketika akses masuk dipermudah, konektivitas diperkuat, dan pengalaman wisata terus-menerus diperbaiki, jutaan wisatawan dari berbagai penjuru dunia pun dengan sendirinya berdatangan membawa devisa dan menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang tangguh.





