Tak Mau Senasib Amerika, China Siapkan Senjata Canggih

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: (Dok. Defence Security Asia)

Jakarta, CNBC Indonesia - China memamerkan senjata laser portabel anti-drone yang dapat dibawa oleh satu orang tentara. Senjata tersebut merupakan bagian dari seri Lijian, yakni Lijian II dan Lijian III, buatan perusahaan pertahanan China, Harbin Xinguang Optic-Electronics Technology.

Produk itu dipamerkan dalam Defence Information Equipment & Technology Exhibition 2026 yang berlangsung selama tiga hari dan dibuka di Beijing pada Selasa lalu.

Kedua model itu hanya terdiri dari tiga komponen utama, yakni pemancar laser, pendingin udara, dan terminal kendali genggam. Seluruh komponen dapat disimpan dan dibawa menggunakan tas ransel.


Lijian II memiliki berat sekitar 30 kilogram, sedangkan Lijian III berbobot 25 kilogram. Kedua model juga memiliki sudut elevasi lebih dari 90 derajat sehingga memungkinkan operator menembak drone secara lebih fleksibel.

Meski demikian, jangkauan serangannya lebih pendek dibandingkan dengan model anti-drone tetap Lijian-10G yang mampu menjangkau target hingga 1.200 meter. Lijian II dan Lijian III memiliki jarak efektif sekitar 500 meter.

Pilihan Redaksi
  • Bandara Lumpuh Diserang Drone, Tiba-Tiba Muncul Peluang Rp 258 Triliun
  • Amerika Serbu Israel, Buka Markas Senjata Pembunuh Super Canggih

"Peralatan anti-drone portabel kami berukuran kecil, dengan pemancar berbobot 15 kilogram dan sistem pendingin udara berbobot 10 kilogram," kata Zhao Yao, promotor produk perusahaan tersebut dalam pameran, dikutip dari South China Morning Post, Senin (22/6/2026).

"Secara teori, perangkat ini dapat dibawa dan digunakan di medan perang hanya oleh satu atau dua orang menggunakan ransel. Perangkat untuk prajurit individu ini lebih mudah dioperasikan serta dapat dikerahkan dan ditarik kembali dengan cepat," lanjutnya.

Zhao menjelaskan konsumsi daya sistem tersebut dirancang sekitar 2 kilowatt. Ia menyebut teknologi utama yang digunakan dalam seri Lijian telah mencapai tahap matang pada 2023, ketika perang Ukraina mulai mengubah cara pandang militer terhadap peperangan drone.

Menurut Zhao, Lijian III mampu membakar satu drone hanya dalam waktu empat detik. Setelah menembakkan laser, sistem itu juga hanya memerlukan waktu kurang dari lima detik untuk mendinginkan perangkat sebelum menembak kembali.

Meski portabel, harga perangkat tersebut tidak murah. Setiap unit dibanderol sekitar 2 juta yuan atau sekitar Rp 5,3 miliar.

Perusahaan pengembang menyatakan seri Lijian juga dibekali kemampuan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi target dan menyerang drone yang memasuki area jangkauan. Sistem itu dapat bekerja dengan bantuan perangkat eksternal seperti radar.

"Kami dapat melengkapi perangkat ini dengan radar kecil, dan perangkat tersebut juga dapat diintegrasikan ke dalam sistem anti-drone secara keseluruhan melalui antarmuka panduan eksternal," ujar Zhao.

Ia menambahkan, seri Lijian telah ditempatkan di sejumlah fasilitas penting di China, terutama di pangkalan udara militer. Perusahaan berharap dapat memperoleh lebih banyak pesanan dari pangkalan militer dan lapangan udara melalui pameran tersebut.

Analis militer China, Song Zhongping, mengatakan sistem anti-drone berbasis laser yang telah diperkecil ukurannya dapat ditempatkan secara fleksibel oleh prajurit di berbagai lokasi, sehingga membentuk titik pertahanan udara dadakan di medan tempur.

"Senjata baru ini dapat berfungsi sebagai peralatan pendukung organik bagi unit lapangan, khususnya di tingkat regu dan peleton, untuk melindungi pasukan dari serangan drone dengan biaya lebih rendah dibandingkan rudal bahu," kata Song.

Senjata baru ini menandai pergeseran dari peralatan berskala besar dan konsep eksperimental menuju persenjataan yang dapat digunakan secara konvensional di medan perang.

Peran penting drone dalam peperangan mulai tampak dalam peran Rusia-Ukraina. Kemudian, Iran menunjukkan efektivitas dan efisiensi serangan balasan menggunakan drone murah untuk merespons hantaman rudal Israel dan Amerika Serikat.

AS bahkan ikut mengembangkan sendiri drone murah untuk menghilangkan ketergantungan terhadap rudal jelajah yang harganya jauh lebih mahal.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Tantangan RI Perkuat Ekonomi Digital Lewat Industri Game, e-Sport & Sp

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Judicial Review UU Pesantren, AMALI: Negara Wajib Biayai Pendidikan Pesantren Secara Proporsional
• 17 jam laludisway.id
thumb
Intip Situasi Terkini Proses Pengosongan Barang-Barang Peninggalan Eks Hotel Sultan
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Update Jadwal Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi PPPK Sekolah Rakyat 2026
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Menhut: RI Punya Dukungan Politik Tertinggi-Landasan Hukum Kuat untuk Konservasi Alam
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Ketika Prabowo sebut Nama Sherly Tjoanda, Penonton Auto Riuh
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.