Breaking News! IHSG Naik 1%

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Bursa (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (25/6/2026), melanjutkan sentimen positif dari bursa global seiring meredanya kekhawatiran geopolitik dan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 09.18 WIB, IHSG berada di level 5.949,22, naik 65,34 poin atau 1,11% dibandingkan penutupan sebelumnya di level 5.883,88.

Sejak awal perdagangan, IHSG dibuka di level 5.873,07 dan sempat turun ke 5.864 sebelum akhirnya bergerak ke zona hijau. 


Aktivitas transaksi juga mulai ramai. Nilai transaksi mencapai Rp1,88 triliun dengan volume perdagangan 3,15 miliar saham yang diperdagangkan sebanyak 235 ribu kali.

Mayoritas saham bergerak menguat, dengan 403 saham naik, 167 saham turun, dan 389 saham stagnan.

Memasuki perdagangan Kamis (25/6/2026), pergerakan IHSG diperkirakan masih dipengaruhi sentimen hasil review MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market.

Baca: Rekomendasi Saham Hari Ini: Ada SCMA hingga BFIN

Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi keluarnya dana asing secara besar-besaran apabila status Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market. Meski demikian, MSCI masih memberikan catatan terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas implementasi reformasi pasar modal yang akan kembali dievaluasi pada November 2026.

Dari domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah menilai keputusan MSCI mencerminkan masih kuatnya kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia. OJK menegaskan akan melanjutkan reformasi untuk memperkuat integritas dan transparansi pasar, sementara pemerintah menilai evaluasi lanjutan MSCI merupakan proses yang wajar.

Di sisi eksternal, perhatian investor beralih ke rilis inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menjadi acuan utama The Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Jika inflasi PCE kembali menunjukkan kenaikan, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) berpotensi menguat, mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury, sehingga dapat memicu tekanan terhadap aset berisiko termasuk IHSG dan rupiah.

Selain itu, pasar juga menunggu data klaim pengangguran mingguan AS untuk membaca kondisi terbaru pasar tenaga kerja. Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang tetap solid berpotensi memperkuat pandangan bahwa The Fed belum memiliki ruang untuk segera memangkas suku bunga.

Di tengah sentimen tersebut, indeks dolar AS yang telah menembus level 101,609 menjadi faktor yang masih membatasi ruang penguatan rupiah dan pasar saham domestik, seiring meningkatnya tekanan terhadap arus modal ke negara berkembang.

Merujuk data Refinitiv, rupiah harus rela parkir di zona merah setelah ditutup melemah 0,50% ke level Rp17.925/US$ kemarin, Rabu (25/6/2026). Dengan posisi tersebut, mata uang Garuda belum mampu keluar dari tekanan dan sudah melemah selama empat hari perdagangan beruntun.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Reli IHSG Berlanjut & Rupiah Menguat ke Rp 17.875 per Dolar AS

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mahasiswa Tulungagung Desak PLN Beri Kompensasi Dampak Pemadaman Listrik
• 4 jam laluberitajatim.com
thumb
Menko AHY: Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun untuk Revitalisasi 1.400 Madrasah
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Warga Cilacap Hilang Misterius di Hutan Nambo Girang, Tim SAR Turun Tangan
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Nickel Industries Akuisisi 36% Kepemilikan Smelter PT CNE di IMIP Lewat Tukar Saham
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Ada 100 SPPG Fiktif di Cilacap, DPR Minta BGN Evaluasi Total, Tutup yang Bermasalah
• 2 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.