Hari Panas dan Lembab di Indonesia Meningkat, Tak Lagi Sama dari Era 1970-an

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Bagi banyak orang Indonesia, cuaca panas mungkin terasa sebagai hal yang biasa dari kehidupan di negeri tropis. Namun data terbaru menunjukkan bahwa panas yang kita rasakan hari ini bukan lagi panas yang sama seperti puluhan tahun lalu.

Jumlah hari panas dan lembap yang berbahaya di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan era 1970-an. Jika lima dekade lalu rata-rata terjadi 82 hari panas-lembap berbahaya setiap tahun di Indonesia, kini jumlahnya mencapai 174 hari. Dari angka tersebut, sekitar 118 hari merupakan dampak langsung dari perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Data mengenai tren pemanasan di Indonesia ini merupakan bagian dari laporan terbaru Climate Central “Global Analysis: Dangerous Humid Heat Rising Due to Climate Change”. Secara global, dari total 23 hari panas dan lembap berbahaya pada 2016-2025, 18 hari atau 78 persen diantaranya disebabkan oleh krisis iklim. Kondisi ini berubah drastis dari era 1970-an, dimana jumlah hari panas dan lembap ekstrem akibat krisis iklim hanya 3 hari atau setara 30 persen dari total 10 hari.

Baca JugaSuhu Panas Memanggang Indonesia Saat Pancaroba
Baca JugaSuhu Panas Melanda Indonesia, Tertinggi di Deli Serdang

Peningkatan ini bukan sekadar soal rasa gerah yang lebih menyengat. Di baliknya tersembunyi ancaman kesehatan yang semakin serius bagi jutaan warga, terutama kelompok yang paling rentan, yaitu bayi, anak-anak, perempuan hamil, dan lansia.

"Kondisi panas dan lembap ekstrem yang berbahaya telah berubah dari kejadian luar biasa menjadi kenyataan hidup sehari-hari di beberapa wilayah," kata Kaitlyn Trudeau, ilmuwan iklim terapan Climate Central, menyertai laporan pada Kamis (25/6/2026).

Salah satu dampak nyata dari kenaikan suhu global ini ini adalah gelombang panas yang kini melanda Eropa. Dilaporkan AFP, dua anak meninggal di dalam mobil saat gelombang panas menyapu Perancis pekan ini. Di berbagai kota Eropa, rumah sakit bersiap menghadapi lonjakan pasien. Para ahli cuaca bahkan memperingatkan bahwa gelombang panas yang sedang berlangsung berpotensi menyamai bencana panas tahun 2003 yang menewaskan sekitar 70 ribu orang di seluruh benua.

Peristiwa tragis itu menjadi pengingat bahwa panas ekstrem bukan lagi sekadar ketidaknyamanan musim panas. Ia telah berubah menjadi ancaman kesehatan yang mematikan, terutama bagi kelompok paling rentan: anak-anak, lansia, dan perempuan hamil.

Tiga kota di Indonesia masuk 10 besar dengan jumlah hari panas-lembap berbahaya terbanyak, yakni Pekanbaru dengan 353 hari, Medan 342 hari dan Surabaya 313 hari.

Baca JugaMenjaga Suhu Tubuh di Tengah Hawa Panas
Baca JugaCuaca Panas Bisa Memicu Sakit Kepala dan Migrain

Indonesia memang aman dari gelombang panas. Namun, paparan panas di Indonesia juga diam-diam semakin menguat dan berisiko mengancam kesehatan.

Ancaman itu muncul ketika suhu tinggi bertemu dengan kelembapan udara yang tinggi. Dalam kondisi seperti ini, tubuh kesulitan membuang panas melalui penguapan keringat. Akibatnya, panas terperangkap di dalam tubuh dan meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, gangguan pernapasan, penyakit kardiovaskular, hingga heat stroke yang dapat berujung kematian.

Analisis Climate Central mengkategorikan suhu bola basah (wet-bulb temperatures), yakni suhu terendah yang bisa dicapai udara ketika air menguap, pada level 25 derajat celcius atau lebih tinggi sebagai kondisi panas lembap berbahaya. Pada suhu ini, banyak orang menghadapi peningkatan risiko penyakit terkait panas.

Tiga kota paling panas-lembab

Indonesia termasuk negara yang menghadapi risiko besar. Menurut data Climate Central, sepuluh kota besar Indonesia masuk dalam daftar 50 kota dunia dengan jumlah hari panas-lembap berbahaya terbanyak selama periode 2016–2025.

Bahkan, tiga kota di Indonesia masuk 10 besar dengan jumlah hari panas-lembap berbahaya terbanyak, yakni Pekanbaru dengan 353 hari, Medan 342 hari dan Surabaya 313 hari. Sementara Jakarta, Tangerang Selatan, dan Tangerang, meski tidak masuk 10 besar, memiliki jumlah hari panas dan lembap ekstrem akibat krisis iklim yang cukup tinggi –mencapai 210 hari atau 72 persen dari total 290 hari. Jumlah hari panas dan lembap ketiga kota tersebut hanya kalah dari Makassar yang tercatat 229 hari dari total 287 hari (80 persen).

Baca JugaJakarta Terasa Terik, Warga Diimbau Tak Panik
Baca JugaCuaca Panas di Berbagai Kota Dunia

Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menunjukkan, laju perubahan suhu udara rata-rata di Indonesia selama periode tahun 1981 – 2024 umumnya meningkat sebesar 1,02 derajat celcius dalam 44 tahun. Sementara itu, laju perubahan suhu udara maksimum di Indonesia selama periode tahun 1981 – 2024 umumnya meningkat sebesar 0,85 derajat celcius dalam 44 tahun.

Berdasarkan analisis dari 105 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata bulan Mei 2026 di Indonesia mencapai 27,5 derajat celcius. Padahal, suhu udara rata-rata secara klimatologis untuk bulan Mei selama periode 1991-2020 di Indonesia adalah sebesar 27 derajat celcius.

Ini berarti, suhu udara di bulan Mei tahun 2026 ini lebih panas 0,5 derajat celcius dari rata-rata klimatologisnya. Anomali suhu udara Indonesia pada bulan Mei 2026 ini merupakan nilai anomali tertinggi ke-7 sepanjang periode pengamatan sejak 1991.

Risiko anak hingga lanjut usia

Risiko terhadap paparan panas tidak dirasakan secara merata. Sebagian kelompok menghadapi ancaman yang jauh lebih besar dibandingkan yang lain.

Laporan terpisah dari The Lancet Countdown 2026 menunjukkan bahwa paparan gelombang panas terhadap lansia meningkat 266 persen secara global selama periode 2015–2024 dibandingkan periode 1991–2000. Pada bayi berusia di bawah satu tahun, peningkatannya mencapai 121 persen.

Para ahli menjelaskan bahwa baik lansia maupun anak-anak memiliki kemampuan yang lebih terbatas dalam mengatur suhu tubuh. Mereka lebih sedikit berkeringat, lebih mudah mengalami dehidrasi, dan sering kali bergantung pada orang lain untuk melindungi mereka dari cuaca ekstrem.

Lansia maupun anak-anak memiliki kemampuan yang lebih terbatas dalam mengatur suhu tubuh. Mereka lebih sedikit berkeringat, lebih mudah mengalami dehidrasi.

Baca JugaTerus Memanas, Suhu Naik 0,6 Derajat Celsius, Ciputat Jadi yang Terpanas
Baca JugaTangkal Suhu Panas dengan Air Putih, Sayur, Buah, dan ”Water Spray”

Lansia menghadapi risiko paling besar karena kombinasi faktor biologis dan sosial. Keterbatasan fisiologis, kondisi kesehatan yang tidak stabil, isolasi sosial, dan ketergantungan pada orang lain membuat mereka sangat rentan terhadap panas ekstrem. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk mengontrol suhu menurun. Sensasi haus juga berkurang sehingga banyak lansia terlambat menyadari bahwa mereka mengalami dehidrasi.

Kondisi menjadi lebih berbahaya ketika panas ekstrem bertemu dengan penyakit kronis yang umum dialami lansia, seperti penyakit jantung atau gangguan pernapasan. Beberapa obat yang dikonsumsi kelompok ini bahkan dapat memperparah risiko kesehatan selama cuaca sangat panas.

Anak-anak menghadapi ancaman yang berbeda. Meski kematian akibat panas pada anak relatif jarang terjadi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa panas ekstrem meningkatkan risiko kunjungan ke unit gawat darurat, memperburuk asma, memicu penyakit terkait panas, hingga menurunkan kemampuan belajar dan konsentrasi di sekolah.

Dampaknya bahkan dapat dimulai sejak dalam kandungan. Kajian yang diterbitkan dalam Journal of Climate Change and Health pada 2024 menemukan bahwa paparan panas ekstrem meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Sementara itu, Climate Central sebelumnya melaporkan bahwa perubahan iklim setidaknya telah menggandakan jumlah hari kehamilan berisiko panas di lebih dari 200 negara.

Manager Outreach dan Advokasi CERAH, Bondan Andriyanu, mengatakan data terbaru ini seharusnya menjadi alarm kesehatan publik yang tidak boleh diabaikan. Ia menyinggung meninggalnya salah satu peserta Jakarta International Marathon beberapa waktu lalu sebagai pengingat bahwa risiko panas ekstrem kini sudah berada di sekitar kita. Tak hanya anak-anak dan lansia, hal itu juga mengancam segala lapisan umur.

"Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa risiko panas ekstrem sudah nyata dan sangat berpotensi mengancam keselamatan jiwa, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan," kata Bondan.

Baca JugaCuaca Panas Ekstrem Melanda Asia Tenggara
Baca JugaCuaca Panas Ekstrem Ancam Kesehatan dan Keselamatan, Bagaimana Tubuh Beradaptasi?

Menurutnya, ancaman ini semakin besar di kota-kota besar yang juga dibebani polusi udara. Kombinasi panas ekstrem dan polusi menciptakan tekanan ganda bagi sistem pernapasan dan kardiovaskular masyarakat.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim akan membuat gelombang panas menjadi lebih sering, lebih intens, dan berlangsung lebih lama. Apa yang kini dirasakan warga Indonesia bukan lagi anomali cuaca sesaat, melainkan bagian dari perubahan iklim yang sedang berlangsung.

Bagi jutaan warga, terutama mereka yang paling rentan, ancamannya bukan sekadar rasa tidak nyaman. Krisis iklim perlahan mengubah panas menjadi persoalan kesehatan publik yang dapat menentukan siapa yang mampu bertahan dan siapa yang paling terdampak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Info Cuaca BMKG: Sebagian Jakarta Bakal Diguyur Hujan Hari Ini
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bukti Perbankan BUMN Jadi Tulang Punggung Ekonomi, Laba Himbara Tembus Triliunan
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Batu Cinta Kediri, Hutan Bak Djawatan Banyuwangi yang Viral di Media Sosial
• 7 jam laluberitajatim.com
thumb
Emisi Pertamina Trans Kontinental Susut Jadi 66.721 Ton CO2e Sepanjang 2025
• 29 menit lalukumparan.com
thumb
Menegangkan! Pria di Bandar Lampung Panjat Tower 52 Meter, Mau Turun usai Dibujuk Istri
• 17 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.