Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan transaksi digital yang dilakukan dalam platform monetisasi gim bisa perkuat ekspansi gim lokal ke global.
Hal tersebut ia sampaikan dalam acara penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding) antara platform monetisasi dan konten digital Coda dengan Kementerian Ekonomi Kreatif.
"Saya sangat mengapresiasi Coda yang membantu membukakan pintu karena ini adalah sistem plug-and-play jadi permainan apapun bisa masuk ke Coda, kemudian kita bisa akses ke pasar global," kata Irene di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan kesempatan MoU ini juga akan membuka jalan bagi pengembang gim di Indonesia untuk bisa ekspansi karyanya ke ranah global melalui platform Coda.
Ia mengatakan platform pembayaran digital seperti Coda juga mampu mendatangkan keuntungan bagi negara yang datang dari industri kreatif khususnya gim.
"Apapun yang kita jual secara digital dan secara global, yang paling penting adalah adaptasi bagaimana kita bisa menerima keuntungan dari pelanggan potensial kita. Ini akan sangat sulit jika kita sebagai bisnis atau pengembang gim jika kita harus masuk ke negara demi negara untuk melihat bagaimana pembayaran bisa berdampak," kata Irene.
Irene mengatakan kolaborasi ini menunjukkan keseriusan pemerintah dan private sector untuk mengembangkan industri gim, yang menurutnya Indonesia bukan hanya diisi oleh talenta gamers yang sudah menjuarai berbagai pertandingan tapi juga kreator gim yang jarang diketahui negara sendiri.
Ia mengatakan kementerian bersama dengan asosiasi terus mendorong pengembangan gim lokal untuk membuat konten yang menarik sesuai dengan genre pasar lokal.
Penandatanganan ini juga untuk memberikan pendalaman terkait pembuatan keputusan untuk membangun pengembang gim lokal agar bisa bersaing di industri internasional.
"Bersama sebagai negara, kita bisa lebih baik dalam mengalahkan seluruh dunia dengan permainan yang kita bangun karena saya percaya bahwa pengembang gim kita adalah top-notch," kata Irene.
Saat ini, Kementerian Ekraf terus melakukan aktivasi untuk memperkenalkan gim lokal seperti penempatan game corner di Bandara Terminal 2 dan 3 dan juga kolaborasi dengan hotel agar masyarakat bisa mengetahui permainan lokal baik digital maupun board game.
CEO Coda Shane Happach mengatakan Indonesia telah menjadi pasar yang potensial yang mana sekitar 20 persen pendapatan Coda datang dari pelanggan Indonesia.
Infrastruktur Coda juga akan mendukung komersialisasi yang bisa memaksimalkan 38 persen gim Indonesia di platform global.
"Kami telah membangun seksi untuk menemukan konten Indonesia yang bernama local favorites. Kami berharap untuk meningkatkan channel ini secara besar di masa depan yang termasuk sebagai bagian dari kolaborasi ini," kata Shane.
Baca juga: Menekraf dorong IP jadi motor perkuat ekosistem ekonomi kreatif
Baca juga: Ekraf sebut industri gim dan esport buka peluang lapangan kerja baru
Baca juga: Wamenekraf: Industri gim jadi mesin pertumbuhan baru ekraf
Hal tersebut ia sampaikan dalam acara penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding) antara platform monetisasi dan konten digital Coda dengan Kementerian Ekonomi Kreatif.
"Saya sangat mengapresiasi Coda yang membantu membukakan pintu karena ini adalah sistem plug-and-play jadi permainan apapun bisa masuk ke Coda, kemudian kita bisa akses ke pasar global," kata Irene di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan kesempatan MoU ini juga akan membuka jalan bagi pengembang gim di Indonesia untuk bisa ekspansi karyanya ke ranah global melalui platform Coda.
Ia mengatakan platform pembayaran digital seperti Coda juga mampu mendatangkan keuntungan bagi negara yang datang dari industri kreatif khususnya gim.
"Apapun yang kita jual secara digital dan secara global, yang paling penting adalah adaptasi bagaimana kita bisa menerima keuntungan dari pelanggan potensial kita. Ini akan sangat sulit jika kita sebagai bisnis atau pengembang gim jika kita harus masuk ke negara demi negara untuk melihat bagaimana pembayaran bisa berdampak," kata Irene.
Irene mengatakan kolaborasi ini menunjukkan keseriusan pemerintah dan private sector untuk mengembangkan industri gim, yang menurutnya Indonesia bukan hanya diisi oleh talenta gamers yang sudah menjuarai berbagai pertandingan tapi juga kreator gim yang jarang diketahui negara sendiri.
Ia mengatakan kementerian bersama dengan asosiasi terus mendorong pengembangan gim lokal untuk membuat konten yang menarik sesuai dengan genre pasar lokal.
Penandatanganan ini juga untuk memberikan pendalaman terkait pembuatan keputusan untuk membangun pengembang gim lokal agar bisa bersaing di industri internasional.
"Bersama sebagai negara, kita bisa lebih baik dalam mengalahkan seluruh dunia dengan permainan yang kita bangun karena saya percaya bahwa pengembang gim kita adalah top-notch," kata Irene.
Saat ini, Kementerian Ekraf terus melakukan aktivasi untuk memperkenalkan gim lokal seperti penempatan game corner di Bandara Terminal 2 dan 3 dan juga kolaborasi dengan hotel agar masyarakat bisa mengetahui permainan lokal baik digital maupun board game.
CEO Coda Shane Happach mengatakan Indonesia telah menjadi pasar yang potensial yang mana sekitar 20 persen pendapatan Coda datang dari pelanggan Indonesia.
Infrastruktur Coda juga akan mendukung komersialisasi yang bisa memaksimalkan 38 persen gim Indonesia di platform global.
"Kami telah membangun seksi untuk menemukan konten Indonesia yang bernama local favorites. Kami berharap untuk meningkatkan channel ini secara besar di masa depan yang termasuk sebagai bagian dari kolaborasi ini," kata Shane.
Baca juga: Menekraf dorong IP jadi motor perkuat ekosistem ekonomi kreatif
Baca juga: Ekraf sebut industri gim dan esport buka peluang lapangan kerja baru
Baca juga: Wamenekraf: Industri gim jadi mesin pertumbuhan baru ekraf





