REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Pengawas Negara Israel, Matanyahu Englman, memperingatkan bahwa Israel berisiko kehilangan kemandirian energi dalam dua dekade ke depan.
Jika tingkat konsumsi saat ini terus berlanjut, negara itu kemungkinan akan terpaksa mengimpor gas alam dalam sekitar 22 tahun mendatang akibat menipisnya cadangan yang tersedia.
Baca Juga
Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
Hubungan Memanas, AS Waspadai Spionase Intelijen Israel hingga Level Membahayakan
'Spanyol Itu Kristen Bukan Muslim', Serangan Keras ke Lamine Yamal Seusai Sujud Rayakan Gol
Menurut laporan lembaga pengawas tersebut yang dirilis pada Rabu (25/6/2026) dan dikutip oleh Otoritas Penyiaran Israel, dilansir Aljazeera, cadangan gas yang telah ditemukan saat ini mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik di masa depan.
Kondisi ini terjadi di tengah berlanjutnya ekspor sebagian besar produksi gas Israel ke luar negeri.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Laporan itu menyebutkan bahwa sekitar 49 persen produksi gas alam Israel pada tahun 2024 diekspor ke Mesir dan Yordania.
Pengawas Negara mengkritik pemerintah karena tidak meningkatkan alokasi gas untuk pasar domestik, meskipun cadangan yang ditemukan terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.
Gas alam saat ini menyumbang sekitar 70 persen produksi listrik Israel. Namun, Kementerian Energi Israel dinilai belum memiliki kebijakan jangka panjang untuk menjamin kebutuhan pasar lokal.
Selain itu, belum tersedia rencana komprehensif bagi sektor energi maupun fasilitas penyimpanan gas yang memadai.