(Catatan Ringan Jelang Musda Partai Golkar Sulawesi Selatan)
Oleh: Dr. Attock Suharto, M. Si. (Pengamat Politik)
Pak Ilham
Izinkan Saya menulis surat politik ini untuk Bapak yang baru saja menerima tiket resmi dari DPP Partai Golkar untuk bisa bertarung memperebutkan kursi ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan. Saya memahami bahwa untuk mendapatkan sepucuk surat itu bukanlah pekerjaan mudah, butuh waktu, butuh tenaga dan fikiran. Intinya, butuh perjuangan panjang.
Ada pepatah Bugis yang berbunyi, “Resopa temmangingi namalomo naletei pammase Dewata.” — Hanya dengan kerja keras tanpa henti, rahmat Tuhan akan turun dengan mudah. Saya kira, pepatah ini sedang menemukan momentumnya di lorong-lorong sejarah Partai Golkar Sulawesi Selatan menjelang Musda yang akan segera digelar.
Surat ini bukan surat resmi. Ini lebih mirip catatan warung kopi — ditulis dengan niat baik, sedikit humor, dan banyak harapan. Sebab, membicarakan Golkar di Sulawesi Selatan tanpa menyebut nama Ilham Arief Sirajuddin rasanya seperti membicarakan coto Makassar tanpa ketupat: kurang lengkap, kurang greget.
Beringin yang Pernah Rindang
Bapak tentu ingat masa-masa kejayaan Beringin di tanah Sulawesi Selatan. Ketika lambang pohon beringin bukan sekadar simbol di kertas suara, melainkan bayangan nyata yang menaungi hampir setiap sudut politik di provinsi ini. Gubernur, bupati, walikota, legislator — nyaris semua berlindung di bawah dahannya.
Tapi pohon, sebagaimana manusia, bisa sakit. Daunnya bisa rontok, cabangnya bisa patah, akarnya bisa goyah. Dan Beringin Sulsel, harus kita akui, pernah mengalami masa-masa itu. Bukan karena tanahnya tandus, melainkan karena tukang kebunnya sedang sibuk dengan urusan lain — atau mungkin terlalu banyak tukang kebun yang saling berebut selang air.
Itulah sebabnya, pada 2024 kemarin pohon ini kehilangan keseimbangan untuk terus bertahan pada posisinya, sehingga ia harus pasrah pada kenyataan karena harus tergantikan sementara dari pohon yang pernah tumbuh kembang di bawah naungannya.
Mengapa Harus Diskresi?
Bapak, saya menulis ini dengan pendekatan “diskresi” karena Bapak baru saja menerima surat Diskresi itu — sebuah kata yang dalam bahasa birokrasi berarti kebijaksanaan untuk mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan situasional. Dalam konteks ini, saya ingin menyampaikan bahwa kembalinya Bapak ke pucuk kepemimpinan Golkar Sulsel bukan sekadar soal elektabilitas atau popularitas. Ini soal restorasi.
Restorasi bukan berarti kembali ke masa lalu. Restorasi adalah seni memperbaiki sesuatu yang bernilai dengan tetap menghormati karakternya, sambil menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Seperti rumah adat Tongkonan yang direnovasi: fondasinya tetap, tapi instalasi listriknya sudah pakai meteran pintar.
Untuk itu, bukan kebetulan Bapak mendapat Diskresi dari DPP Partai Golkar, pengendali partai secara nasional itu tentu mentracking rekam jejak Bapak, lantaran Bapak dinilai tidak bersyarat untuk bertarung di Musda Golkar karena pernah “meninggalkan” partai Beringin ini sementara waktu, sehingga DPP Partai Golkar kemudian melakukan kajian panjang dan mendalam terkait sosok Bapak, kelayakan, keseriusan, ketokohan dan kepaiwaian Bapak jika kelak kembali memimpin Golkar, hingga pada akhirnya Sang Ketua Umum Bahlil Lahadalia memutuskan untuk memberikannya kepada Bapak dengan harapan agar Bapak dapat mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan.
Surat Diskresi itu bukan sekedar tiket resmi memasuki arena Musda, tetapi sebenarnya itu merupakan “surat sakti” yang hanya diberikan kepada satu orang kader atau tokoh yang dinilai layak sehingga maknanya adalah DPP Partai Golkar memang sudah menghendaki atau merestui untuk menjadi ketua Golkar Sulawesi Selatan.
Catatan untuk Para Kader
Kepada para kader Golkar Sulsel yang akan menghadiri Musda, izinkan saya menyampaikan beberapa catatan ringan:
Pertama, politik adalah maraton, bukan sprint. Yang penting bukan siapa yang paling keras berteriak di garis start, melainkan siapa yang masih bisa tersenyum di garis finish — sambil membawa rombongan, bukan sendirian.
Kedua, Beringin yang rimbun butuh akar yang kuat dan daun yang banyak. Akar adalah para senior yang punya pengalaman dan jaringan. Daun adalah generasi muda yang punya energi dan ide segar. Keduanya harus tumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan.
Ketiga, ingatlah bahwa rakyat Sulawesi Selatan sedang menonton. Mereka tidak butuh drama politik yang menghibur tapi tidak bergizi. Mereka butuh pemimpin yang bisa mengantarkan Sulsel ke level berikutnya — bukan sekadar mempertahankan status quo.
IAS dan Rumus Kepemimpinan
Pak Ilham, ada yang menarik dari rekam jejak Bapak. Sebagai mantan Walikota Makassar dua periode, Bapak pernah membuktikan bahwa birokrasi bisa digerakkan, bahwa pembangunan bisa dirasakan langsung oleh warga, dan bahwa pemimpin bisa dekat dengan rakyatnya tanpa harus kehilangan wibawa.
Tentu, perjalanan Bapak tidak mulus sempurna — siapa yang sempurna? Tapi yang membedakan adalah bagaimana seseorang bangkit, belajar, dan kembali dengan bekal yang lebih matang. Dalam konteks ini, pengalaman Bapak justru menjadi modal, bukan beban.
Saya teringat ungkapan Karaeng Pattingalloang, intelektual Gowa abad ke-17: “Tau tenaya nasseng kalenna, tena nasseng ri paranna tau.” — Orang yang tidak mengenal dirinya sendiri, tidak akan dikenal oleh sesamanya. Bapak, tampaknya, sudah cukup mengenal diri sendiri untuk kembali dikenal oleh partai dan rakyat.
Menanti Rimbunnya Kembali
Musda Golkar Sulsel bukan sekadar ajang pemilihan ketua. Ini adalah momen penentuan arah. Apakah Beringin akan kembali rimbun dan menaungi, atau tetap meranggas menunggu musim yang tak kunjung datang?
Saya bukan kader Golkar. Saya hanya pengamat yang kebetulan suka minum kopi sambil membaca dinamika politik lokal. Tapi sebagai warga Sulawesi Selatan, saya punya harapan sederhana: bahwa partai-partai di daerah ini bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya pandai berpolitik, tapi juga pandai melayani.
Dan jika Beringin Sulsel memutuskan untuk menyerahkan kepercayaan kepada Ilham Arief Sirajuddin, saya hanya berpesan: jadikan ini bukan tentang kembalinya satu orang, melainkan tentang bangkitnya satu gerakan.
Sebab pohon beringin yang sejati tidak pernah membanggakan batangnya sendiri. Ia dikenang karena teduhnya, karena seberapa banyak orang yang bisa berteduh di bawahnya. Wallahu A’lam Bissawwab
Selamat bermusyawarah, Partai Golkar Sulawesi Selatan.
Semoga Beringin kembali rimbun.





