Jakarta (ANTARA) - Kepala Sekretariat Nasional Sustainable Development Goals (SDGs) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Pungkas Bahjuri Ali menyatakan jumlah SDGs Center terus menunjukkan pertumbuhan signifikan dari tahun ke tahun.
“Hingga Juni 2026, telah terdapat sepanjang 80 SDGs Center yang teregister di Bappenas. Sebenarnya yang SDGs (Center) sudah ada 100 secara informal tahun ini SDG Center yang ada, dan ini tersebar di 27 provinsi,” katanya dalam agenda SDGs Center Conference 2026 di Jakarta, Kamis.
Pada tahun 2015, terdapat dua SDGs Center di Indonesia, lalu berkembang menjadi tiga pada 2017, lima pada 2017, tujuh pada 2018, 13 pada 2019, 22 pada 2020, 30 pada 2021, 40 pada 2022, 47 pada 2023, 60 pada 2024, 74 pada 2025, hingga 80 pada 2026.
Menurut dia, pertambahan jumlah SDGs Center disebabkan meningkatnya perhatian perguruan tinggi terhadap isu SDGs selama beberapa tahun terakhir yang berlangsung secara konsisten dan menjangkau lebih banyak wilayah. Akselerasi ini semakin kuat ketika Indonesia diterpa pandemi Covid-19, yang menuntut untuk segera mengimplementasikan SDGs.
Karena perkembangan SDGs Center tersebut, Bappenas meluncurkan Indonesia SDGs Center Network (ISCN) pada 2024 sebagai jejaring nasional SDGs Center.
ISCN disebut berkembang menjadi jaringan strategis dalam memperkuat kerjasama antar perguruan tinggi. Melalui jaringan ini, lanjutnya, SDGs Center dari berbagai daerah dapat saling berbuka informasi, berbagi pengetahuan dan mendiseminasikan praktek baik serta mengembangkan berbagai inovasi yang mendukung pencapaian SDGs.
Selain memperkuat kolaborasi internasional, ISCN turut memperluas kegiatan dengan berbagai pemangku kepentingan dan pembangunan konektivitas dalam jaringan global.
Pungkas menganggap perguruan tinggi memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dari berbagai pemangku kepentingan. Modal kepercayaan tersebut menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat keunggulan (center of excellence) yang mampu menghadirkan solusi relevan bagi kebutuhan pembangunan.
“Kami mengajak bapak-ibu sekalian untuk memanfaatkan ruang ini sebagai ruang bertukar gagasan, memperluas jaring, dan membuat kolaborasi,” ujar dia yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas.
Baca juga: Bappenas harap perguruan tinggi dapat kawal pembangunan nasional
Baca juga: Bappenas sebut perguruan tinggi berperan sebagai katalisator SDGs
“Hingga Juni 2026, telah terdapat sepanjang 80 SDGs Center yang teregister di Bappenas. Sebenarnya yang SDGs (Center) sudah ada 100 secara informal tahun ini SDG Center yang ada, dan ini tersebar di 27 provinsi,” katanya dalam agenda SDGs Center Conference 2026 di Jakarta, Kamis.
Pada tahun 2015, terdapat dua SDGs Center di Indonesia, lalu berkembang menjadi tiga pada 2017, lima pada 2017, tujuh pada 2018, 13 pada 2019, 22 pada 2020, 30 pada 2021, 40 pada 2022, 47 pada 2023, 60 pada 2024, 74 pada 2025, hingga 80 pada 2026.
Menurut dia, pertambahan jumlah SDGs Center disebabkan meningkatnya perhatian perguruan tinggi terhadap isu SDGs selama beberapa tahun terakhir yang berlangsung secara konsisten dan menjangkau lebih banyak wilayah. Akselerasi ini semakin kuat ketika Indonesia diterpa pandemi Covid-19, yang menuntut untuk segera mengimplementasikan SDGs.
Karena perkembangan SDGs Center tersebut, Bappenas meluncurkan Indonesia SDGs Center Network (ISCN) pada 2024 sebagai jejaring nasional SDGs Center.
ISCN disebut berkembang menjadi jaringan strategis dalam memperkuat kerjasama antar perguruan tinggi. Melalui jaringan ini, lanjutnya, SDGs Center dari berbagai daerah dapat saling berbuka informasi, berbagi pengetahuan dan mendiseminasikan praktek baik serta mengembangkan berbagai inovasi yang mendukung pencapaian SDGs.
Selain memperkuat kolaborasi internasional, ISCN turut memperluas kegiatan dengan berbagai pemangku kepentingan dan pembangunan konektivitas dalam jaringan global.
Pungkas menganggap perguruan tinggi memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dari berbagai pemangku kepentingan. Modal kepercayaan tersebut menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat keunggulan (center of excellence) yang mampu menghadirkan solusi relevan bagi kebutuhan pembangunan.
“Kami mengajak bapak-ibu sekalian untuk memanfaatkan ruang ini sebagai ruang bertukar gagasan, memperluas jaring, dan membuat kolaborasi,” ujar dia yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas.
Baca juga: Bappenas harap perguruan tinggi dapat kawal pembangunan nasional
Baca juga: Bappenas sebut perguruan tinggi berperan sebagai katalisator SDGs





