Bebas Visa Kunjungan Perkuat Daya Saing Pariwisata Indonesia di Tengah Kompetisi Global

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kementerian Pariwisata menilai kebijakan Bebas Visa Kunjungan atau BVK merupakan salah satu instrumen strategis untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia. BVK bukan semata-mata kebijakan visa, melainkan bagian dari upaya memperkuat aksesibilitas, kemudahan perjalanan, dan daya tarik Indonesia sebagai destinasi wisata di tengah kompetisi global yang semakin ketat dalam menarik wisatawan mancanegara.

Kemenpar memandang bahwa Indonesia perlu melihat BVK dalam kerangka yang lebih luas, yaitu sebagai kebijakan yang dapat berdampak langsung terhadap kunjungan wisatawan, belanja wisatawan, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi masyarakat. Kemudahan masuk menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih destinasi, terutama ketika negara-negara pesaing di kawasan juga terus memperkuat kebijakan fasilitasi perjalanan.

Baca Juga :
Anggota DPR: Ketahanan Energi Jadi Faktor Penentu Stabilitas Ekonomi Negara
Staf Ahli TP PKK Yane Ardian Dukung Kelor NTT Jadi Komoditas Unggulan Bernilai Gizi dan Ekonomi

Dikutip dari keterangan resmi Kemenpar, Selasa, 25 Juni 2026, BVK bukan sekadar fasilitas visa. BVK adalah instrumen daya saing, instrumen pertumbuhan, dan instrumen penciptaan lapangan kerja. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia perlu memastikan tidak tertinggal dalam memberikan kemudahan perjalanan bagi wisatawan mancanegara. 1 Indonesia sejatinya memiliki pengalaman dalam menerapkan kebijakan BVK secara luas. Pada 2016, Indonesia pernah memberikan fasilitas Bebas Visa Kunjungan kepada 169 negara.

Kajian World Travel & Tourism Council (WTTC) bersama Oxford Economics menunjukkan bahwa kebijakan tersebut menjadi salah satu studi kasus yang berhasil, dengan kontribusi terhadap peningkatan permintaan wisatawan mancanegara sebesar 24 persen, serta mendukung terciptanya sekitar 400.000 lapangan kerja.

Berdasarkan penyempurnaan perhitungan dengan menggunakan realisasi kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2018, dampak BVK terhadap peningkatan permintaan wisatawan mancanegara diperkirakan lebih tinggi, yakni mencapai 32,4 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebijakan fasilitasi perjalanan memiliki korelasi kuat terhadap pertumbuhan kunjungan wisatawan.

Selain itu, kajian WTTC juga menunjukkan bahwa kebijakan bebas visa memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan sejumlah bentuk fasilitasi visa lainnya. Median peningkatan kedatangan wisatawan dari kebijakan visa-free tercatat sebesar 16,6 persen per tahun, lebih tinggi dibandingkan kebijakan new visa types yang berada pada 8,1 persen per tahun.

Dari perspektif kawasan, kebijakan visa Indonesia juga perlu terus diperkuat agar lebih kompetitif. Berdasarkan perbandingan terhadap negara-negara ASEAN, jumlah negara yang memperoleh fasilitas bebas visa ke Indonesia saat ini masih relatif lebih terbatas dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Baca Juga :
Ganggu Pasokan Minyak RI, Bahlil Sebut Ketidakpastian Geopolitik Global Ibarat Malaria
Rupiah Lanjut Melemah ke Rp 17.976 Meski Pemerintah Bakal Beri Stimulus Ekonomi di Semester II-2026
Airlangga Sebut Data Center Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
LPSK Telusuri Dugaan Korban Lain Taufik Hidayat di Bandung
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
Wamendagri Bima Tegaskan ASN Jangan Hanya Kejar Output, Pastikan Berdampak
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Alphonso Davies Tak Bermain Meski Digaungkan akan Diturunkan, Pelatih Kanada: Itu untuk Mengelabui
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Keluarga Ungkap Alasan Kenapa Tak Lapor Polisi saat YTR Hilang Bertahun-Tahun
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Didakwa Terima Suap Rp4,8 Miliar, Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Tak Ajukan Eksepsi
• 2 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.