Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Level Rp17.943 per USD

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di level Rp17.943 pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Mata uang Garuda menguat tipis 9 poin dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.952 per USD.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan ini dipicu oleh upaya pemerintah yang telah melakukan berbagai skenario analisis dampak perang untuk rentang waktu lima hingga 10 bulan sejak konflik Timur Tengah pecah pada Februari lalu dan semua bisa dilalui dengan baik.

"Ketergantungan impor minyak Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah kini hanya berada di level 20%. Langkah diversifikasi pasokan telah dilakukan dengan menyasar negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon. Selain itu, pemenuhan energi juga ditopang oleh komitmen pembelian dari AS dan Venezuela melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART)," ungkap dia kepada wartawan.

Oleh karena itu, kata Ibrahim, pemerintah meyakini kondisi perekonomian Indonesia 2026 masih terjaga dengan baik. Apalagi, kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 5,61%.

Angka tersebut berada di atas rata-rata negara G20 maupun pertumbuhan ekonomi global. Ketahanan makro juga tercermin dari posisi cadangan devisa yang bertengger di level US$144,9 miliar per akhir Mei 2026, realisasi investasi yang mencapai angka Rp498,8 triliun pada kuartal I/2026, serta Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang masih tertahan di zona ekspansi marjinal pada level 50.

Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, Perusahaan Asuransi Mulai Hitung Ulang Premi

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Dekati Level Rp18.000 per Dolar AS

Di balik capaian tersebut, ada catatan khusus terkait kinerja neraca perdagangan. Meski berhasil mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut, tren surplus tersebut kian menyusut.

"Dengan kondisi yang semakin menipis, pemerintah terus menggenjot sektor-sektor yang bisa menghasilkan devisa. Salah satunya adalah pariwisata yang menjadi low hanging fruit," ungkap dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ASPEDI FEST 2026 Satukan Pegiat Dekorasi dari 19 Provinsi di Jakarta
• 5 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Cari masukan RUU Satu Data, Baleg DPR-Bappenas kunjungi China
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Batu Cinta Kediri, Hutan Bak Djawatan Banyuwangi yang Viral di Media Sosial
• 9 jam laluberitajatim.com
thumb
Ibas Nilai Merah Putih Bond Bisa Perkuat Modal Domestik
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
RMKE Kantongi Dana Pelunasan Obligasi Seri A Senilai Rp116 Miliar
• 2 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.