Menkes soal AI untuk Atasi Kekurangan Dokter: Jangan Geser Fokus Utama

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, merespons usulan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu mengatasi kekurangan dokter di daerah.

Menurutnya, teknologi AI dan telemedicine dapat dimanfaatkan sebagai pendukung layanan kesehatan, namun tidak boleh mengalihkan fokus dari upaya utama memperbanyak dan mendistribusikan dokter ke wilayah yang membutuhkan.

"Mungkin kita boleh didahului dengan telemedicine. Yang secara fundamental harus dijawab adalah kekurangan dokter itu terjadi terutama di daerah-daerah terpencil. Jadi itu harus dijawab," kata Budi kepada wartawan, usai rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6).

Menurut Budi, akar persoalan layanan kesehatan di daerah bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan masih terbatasnya jumlah tenaga medis yang bertugas di wilayah terpencil dan tertinggal.

Karena itu, ia menegaskan pemerintah tetap memprioritaskan peningkatan jumlah dokter serta pemerataan distribusi tenaga kesehatan ke seluruh daerah di Indonesia.

"Saya rasa prioritas utamanya yang ke satu. Bahwa kemudian nanti ditambah dengan telemedicine, dengan AI, dan teknologi-teknologi lainnya," ujar Budi.

Meski demikian, Budi mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien.

“Tapi jangan sampai itu mengalihkan fokus kita atau perhatian kita untuk memperbanyak jumlah dokter dan mendistribusikan mereka ke daerah-daerah,” tegasnya.

"Karena dokter dan tenaga kesehatan atau nakes ini kan mesti melihat, mesti menyentuh pasiennya juga," lanjutnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh mengusulkan pemanfaatan AI sebagai solusi sementara untuk menjembatani keterbatasan layanan kesehatan di daerah yang belum memiliki dokter. Menurutnya, teknologi dapat membantu proses analisis penyakit maupun pemeriksaan jarak jauh sambil menunggu tersedianya tenaga medis yang cukup.

"Bisa enggak, ya, Pak, kira-kira di daerah-daerah tertentu yang mungkin ada tenaga medis dan sebagainya, kita bisa dibantu AI sebagai paling tidak untuk membantu pasien kita menganalisis penyakit dan sebagainya. Untuk menjembatani saja, Pak," kata Nihayatul dalam rapat kerja Komisi IX DPR RI bersama Kementerian Kesehatan.

Namun, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pemanfaatan AI dan telemedicine hanya bersifat pelengkap. Pemerintah tetap menempatkan penambahan jumlah dokter dan pemerataan penugasan tenaga kesehatan sebagai solusi utama untuk mengatasi kekurangan dokter di berbagai daerah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
LPSK Verifikasi Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya dalam Kasus Dugaan Korupsi Program MBG
• 17 jam lalupantau.com
thumb
IAEA Klaim Akan Segera Inspeksi Fasilitas Nuklir Iran
• 1 jam laludetik.com
thumb
Kerja, Macet, dan Biaya Hidup: Kombinasi yang Bikin Warga Jakarta Rentan Gangguan Mental
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Tak Hanya Top Skor, Ini 11 Rekor Lionel Messi di Piala Dunia yang Jarang Diketahui
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Eks Hotel Sultan Dikosongkan Total, Ribuan Aset Dipindah ke Dua Gudang Raksasa Ini
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.