"Orang Dalam" Hantui Pencari Kerja, Pakar Soroti Celah pada Tahap Akhir Rekrutmen

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena adanya "orang dalam" yang mempermudah seseorang mendapatkan pekerjaan masih menjadi keluhan yang kerap muncul di kalangan pencari kerja.

Tak sedikit pelamar yang merasa kompetensi dan hasil seleksi bukan satu-satunya faktor yang menentukan diterima atau tidaknya seseorang dalam proses rekrutmen.

Bagi sebagian pelamar, relasi atau kedekatan dengan pihak tertentu di sebuah perusahaan atau tempat kerja dianggap dapat memberikan keuntungan dibandingkan kandidat lain yang hanya mengandalkan kemampuan dan pengalaman kerja.

Baca juga: Berdiri di Lahan Bandara Soetta, TPS Ilegal di Tangerang Akhirnya Ditutup

Seleksi Terbuka, Keputusan Akhir yang Sulit Diawasi

Guru Besar sekaligus Pakar Ketenagakerjaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjuddin Noer Effendi, mengatakan, tahapan awal rekrutmen di banyak perusahaan umumnya telah berjalan sesuai prosedur.

Proses pendaftaran, tes, hingga wawancara kerap melibatkan pihak independen seperti psikolog untuk menilai kemampuan kandidat.

"Namun, titik terakhir penentuan itulah yang biasanya menjadi tempat masuknya 'orang dalam'," kata dia saat dihubungi Kompas.com melalui panggilan WhatsApp, Kamis (25/6/2026).

Menurut dia, setelah proses seleksi menyisakan beberapa kandidat terbaik, keputusan akhir biasanya berada di tangan manajemen perusahaan.

Pada tahap inilah proses seleksi menjadi sulit diawasi dari luar.

"Kalau dibilang pelanggaran hukum, sebenarnya tidak, tapi praktiknya memang tidak fair (adil)," ujarnya.

Ia menjelaskan, hasil tes dan wawancara umumnya menghasilkan tiga hingga empat kandidat yang dinilai layak mengisi posisi yang dibutuhkan.

Namun, penentuan satu nama yang diterima sepenuhnya menjadi kewenangan perusahaan.

Baca juga: Puncak HUT ke-499 Jakarta Digelar di Bundaran HI 27-28 Juni, Ini Rangkaian Acaranya

"Di sinilah manajemen yang menentukan, dan kita tidak tahu siapa yang mereka pilih. Sering kali yang dipilih adalah 'orang dalam' atau ada titipan dari pihak-pihak tertentu," jelas dia.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua pelamar yang gagal dalam proses rekrutmen menjadi korban nepotisme.

Perusahaan juga memiliki berbagai pertimbangan lain, seperti pengalaman kerja dan kompetensi kandidat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia mencontohkan kasus ketika lulusan sarjana kalah bersaing dengan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang memiliki pengalaman kerja lebih relevan dengan kebutuhan perusahaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mayat Wanita Dalam Mobil Pelat Merah: Keluarga Duga Dibunuh, Minta CCTV Dibuka
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Menkeu Purbaya Sidak Perusahaan Baja Asal Tiongkok di Pulogadung, Pastikan Persaingan Usaha Berjalan Adil
• 5 jam laludisway.id
thumb
Undip Ungkap Peminat Sejumlah Prodi Turun, Sains hingga Sastra
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Indonesia Harus Fokus Pembinaan Usia Muda untuk Jalan ke Piala Dunia
• 3 jam lalubola.com
thumb
Gempa M 7,5 Guncang Venezuela, Korban Tewas Diperkirakan Capai 100.000
• 11 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.