Jakarta, VIVA – Venezuela dilanda dua gempa dahsyat dalam waktu berdekatan pada Rabu 24 Juni 2026 malam waktu setempat. Guncangan yang terjadi hanya berselang satu menit itu menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Caracas.
Sejumlah bangunan dilaporkan roboh akibat gempa tersebut. Kerusakan juga terjadi di Bandara Internasional Simón Bolívar Caracas sehingga aktivitas penerbangan untuk sementara dihentikan.
Laporan awal menyebutkan beberapa orang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Hingga kini, otoritas setempat belum mengumumkan jumlah korban jiwa maupun korban luka secara resmi.
Di salah satu lokasi terdampak, suasana haru terlihat ketika seorang warga menangis sambil memanggil nama neneknya yang diduga masih berada di dalam bangunan yang ambruk.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperingatkan potensi dampak bencana yang sangat besar akibat gempa tersebut.
"Korban jiwa yang tinggi dan kerusakan yang luas kemungkinan besar terjadi dan bencana ini kemungkinan meluas," kata USGS, dilansir dari Reuters, Kamis 25 Juni 2026.
Berdasarkan analisis awal lembaga tersebut, terdapat kemungkinan 44 persen jumlah korban meninggal berada pada kisaran 10.000 hingga 100.000 jiwa.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello mengonfirmasi adanya kerusakan serius di sejumlah kawasan.
"Beberapa bangunan telah runtuh (di Caracas), rumah-rumah telah ambruk," kata Cabello melalui siaran televisi pemerintah.
Dua Gempa Kuat dalam Hitungan MenitUSGS melaporkan gempa pertama memiliki magnitudo 7,1. Episentrum berada di wilayah barat Morón, kawasan pesisir Karibia Venezuela, sekitar 168 kilometer dari Caracas. Gempa tersebut terjadi pada kedalaman 13 kilometer.
Tepat satu menit setelah guncangan pertama, gempa kedua yang lebih kuat kembali mengguncang wilayah yang sama.
Gempa susulan itu tercatat magnitudo 7,5 dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Pusat gempa berada sekitar 16 kilometer di barat daya Morón.
Peringatan Tsunami Sempat Dikeluarkan
Pasca-gempa, otoritas internasional sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk sebagian besar kawasan Karibia karena kekuatan gempa yang sangat besar dan berpusat di dekat wilayah pesisir.
Namun beberapa waktu kemudian, Sistem Peringatan Tsunami milik Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat mencabut status tersebut setelah hasil pemantauan menunjukkan ancaman tsunami telah berakhir.





