3 Peserta SPPI Meninggal Saat Latihan Militer, Komisi I DPR Minta Evaluasi

detik.com
12 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi I DPR Anton Sukartono Suratto menyampaikan duka cita atas meninggal dunia 3 anggota sarjana penggerak pembangun Indonesia (SPPI) program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNPM) saat mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil). Anton mendesak adanya evaluasi dari tahap administrasi hingga kesehatan.

"Diperlukan adanya evaluasi sejak dari tahap pemeriksaan administrasi persyaratan hingga pelaksanaan pelatihan. Pertama, pemeriksaan kesehatan bagi peserta sipil harus diperketat, tidak boleh sekadar memenuhi syarat formalitas," kata Anton kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).

Baca juga: Peserta SPPI Kopdes-KNPM Meninggal Saat Latihan Militer Jadi 3 Orang

Anton mengatakan niat para peserta mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan merupakan semangat yang patut dihormati. Namun, insiden tersebut harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi penyelenggara.

Sebagai pimpinan Komisi I DPR, Anton memahami program pembinaan karakter dan bela negara itu memiliki tujuan positif. Namun, katanya, pelatihan tersebut harus memprioritaskan keselamatan warga.

"Namun, kejadian yang menimpa ketiga peserta harus menjadi pengingat bahwa keselamatan jiwa warga negara adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa dikompromikan," ujarnya.

Kemudian, Anton meminta pelatihan itu dievaluasi sejak tahap awal rekrutmen hingga pelaksanaan pelatihan. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan peserta sipil harus diperketat dan tidak sekadar memenuhi persyaratan administratif.

"Pemeriksaan kesehatan bukan lagi sekadar memiliki surat sehat, tetapi harus benar-benar dilakukan pemeriksaan kesehatan secara mendetail di rumah sakit, seperti pemeriksaan medis komprehensif mulai dari fungsi jantung, tekanan darah, serta riwayat penyakit bawaan sebelum mereka diizinkan mengikuti latihan fisik," jelasnya.

Politikus Partai Demokrat itu menilai hanya peserta yang benar-benar sehat dan layak secara medis yang seharusnya diperbolehkan mengikuti latihan fisik berat.

Selain itu, Anton juga meminta kurikulum dan modul pelatihan disesuaikan dengan karakteristik peserta sipil. Ia menilai materi pelatihan perlu mempertimbangkan batas kemampuan fisik peserta dan kondisi lingkungan, termasuk cuaca ekstrem.

"Modul pelatihan sebaiknya mengurangi aktivitas fisik dan luar ruangan serta lebih difokuskan pada aktivitas dalam ruangan yang membangun kedisiplinan, kepemimpinan, dan kemampuan manajerial," katanya.




(azh/rfs)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Region 6 Hadir di Media Gathering Bersama Media Partner
• 10 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Polisi Periksa Firdaus Oiwobo Terkait Laporannya ke Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardiyanto
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Satgas Mitigasi PHK Mulai Petakan Perusahaan Rawan PHK
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sinopsis Drama China The Prisoner of Beauty, Cinta Tumbuh di Tengah Permusuhan Dua Keluarga Besar
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Kemenhut dorong kemitraan masyarakat di 29 juta hektare konsesi hutan
• 20 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.