Emiten supermarket dan jaringan ritel, PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) tak membagikan dividen untuk tahun buku 2025 meski memberikan sinyal pembagian dividen kepada pemegang saham pada masa depan. Mereka juga berencana untuk mengerek free float hingga 15%.
Perusahaan yang menaungi merek Guardian dan IKEA itu terakhir membagikan dividen kepada pemegang saham pada 1997. Keputusan tersebut telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Tangerang Selatan, Kamis (25/6).
Presiden Direktur DFI Retail Nusantara, Hadrianus Wahyu Trikusumo mengatakan perseroan memilih menahan laba guna memperkuat kondisi internal perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi global maupun domestik. Dana yang tersedia akan difokuskan untuk mendukung kebutuhan bisnis dan memperkuat fundamental perusahaan.
“Mudah-mudahan (pada) tahun yang akan datang (membagikan dividen),” kata Hadrianus dalam paparan publik di Tangerang Selatan, Kamis (25/6).
Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per akhir Mei 2026, porsi free float HERO sebesar 10,63% atau sebanyak 444.707.083 saham. Sementara itu, jumlah saham tercatat di BEI sebesar 4.183.634.000 saham.
Hadrianus juga mengungkapkan perusahaan tengah menyiapkan langkah untuk memenuhi ketentuan free float minimum 15% yang ditetapkan regulator. Saat ini, manajemen masih membahas berbagai opsi secara internal untuk meningkatkan porsi kepemilikan saham publik.
Perusahaan berkomitmen untuk memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku. Ia mengatakan, HERO masih memiliki waktu hingga 2029 dan hingga kini masih mengkaji sejumlah alternatif demi meningkatkan porsi saham publik secara bertahap.
“Intinya kami selalu berusaha untuk memenuhi ketentuan regulasi, langkahnya, kami masih on going internal assessment dan hal apa yang akan dilakukan,” ucapnya.
Pertumbuhan Bisnis HEROSeiring dengan itu Head of Finance Guardian Indonesia, Melia Asmita Natawidjaja, mengatakan lini bisnis Guardian masih menjadi salah satu motor pertumbuhan utama perseroan.
Dengan pengalaman lebih dari 36 tahun di industri ritel kesehatan dan kecantikan, Guardian saat ini mengoperasikan lebih dari 370 gerai yang tersebar di lebih dari 90 kota di seluruh Indonesia.
Menurut Melia, posisi Guardian semakin diperkuat setelah menjadi peritel kesehatan dan kecantikan pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi halal.
Ia menilai model bisnis yang telah teruji, ditopang oleh kemampuan operasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
Selain mengandalkan ekspansi jaringan gerai, Guardian juga terus mempercepat pengembangan strategi omnichannel guna memperluas jangkauan pelanggan. Melia mengatakan kanal digital perseroan, baik melalui aplikasi milik perusahaan maupun platform e-commerce, mencatat pertumbuhan yang positif.
Kinerja tersebut didukung oleh pengembangan ekosistem digital yang semakin beragam, perluasan kehadiran di berbagai marketplace, penguatan kapabilitas direct-to-consumer (D2C), serta peluncuran Guardian TikTok Shop sebagai salah satu kanal penjualan baru.
“Seiring dengan perluasan jangkauan kami, fokus utama Guardian tetap pada penciptaan nilai dan pengalaman terbaik bagi pelanggan,” ucap Melia.
Sementara itu, pada bisnis IKEA, perseroan melihat peluang pertumbuhan yang didukung kenaikan peran Indonesia dalam rantai pasok global IKEA. Saat ini semakin banyak produk IKEA yang diproduksi dan bersumber dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Produk-produk tersebut telah diekspor ke lebih dari 60 negara dan dipasarkan melalui lebih dari 500 toko IKEA di seluruh dunia. Bahkan, volume ekspor produk IKEA dari Indonesia tercatat dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan volume impor ke Indonesia.




