Jakart, ERANASIONAL.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan produksi compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kilogram mulai berjalan pada Juli 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menekan ketergantungan terhadap impor energi sekaligus mengurangi beban subsidi.
Dalam forum Energy Forum CNBC Indonesia pada Kamis (25/6), Bahlil mengatakan saat ini pengembangan tabung CNG masih berada pada tahap uji coba ketiga sebelum memasuki tahap produksi.
“Sekarang kita lakukan uji tahap ketiga, mudah-mudahan bulan Juli sudah bisa produksi (CNG 3kg),” kata Bahlil.
Ia menjelaskan, pemanfaatan CNG sebenarnya sudah lama diterapkan di berbagai sektor, seperti hotel, restoran, industri, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski demikian, pemerintah kini mulai mengarahkan pemanfaatan CNG untuk masyarakat penerima subsidi yang selama ini menggunakan LPG tabung 3 kilogram.
Menurut Bahlil, pengembangan ini bukan teknologi baru, melainkan adaptasi dari sistem yang telah digunakan sebelumnya dan kini disesuaikan untuk kebutuhan rumah tangga.
Tabung CNG yang dikembangkan disebut memiliki tekanan sekitar 200–250 bar dan saat ini masih menjalani pengujian akhir, termasuk pada sistem katup pengaman (valve).
Pemerintah juga berupaya agar masyarakat nantinya tidak perlu mengganti kompor saat beralih menggunakan tabung tersebut.
Bahlil menambahkan, sistem keamanan tabung terus diuji agar mampu meminimalkan risiko ledakan maupun kebakaran.
Ia menegaskan, program ini ditujukan untuk memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan impor.
Terkait munculnya kritik terhadap rencana tersebut, Bahlil menilai penolakan kemungkinan berasal dari pihak-pihak yang terdampak secara bisnis, terutama pelaku impor energi. []





