JAKARTA, DISWAY.ID -- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merespons usulan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu mengatasi kekurangan dokter di berbagai daerah.
Ia menekankan bahwa kehadiran fisik seorang tenaga medis tetap tidak tergantikan oleh mesin dalam proses penyembuhan pasien.
Sebab, pelayanan kesehatan tidak hanya membutuhkan analisis data atau konsultasi jarak jauh, tetapi juga pemeriksaan fisik yang mengharuskan tenaga medis berinteraksi langsung dengan pasien.
BACA JUGA:Proyek Geospasial Didominasi Vendor Cina, KPK Watch Minta BIG Terbuka soal Proses Tender
"Karena dokter dan tenaga kesehatan, tenaga medis, kan mesti melihat, mesti menyentuh pasiennya juga," kata Budi usai rapat dengan Komisi IX DPR RI, Kamis, 25 Juni 2026.
Lebih lanjut, Budi mengatakan pemanfaatan teknologi kesehatan memang dapat menjadi salah satu solusi pendukung.
Namun, pemerintah saat ini lebih memprioritaskan penguatan layanan telemedicine serta upaya menambah jumlah dan pemerataan distribusi dokter di seluruh Indonesia
"Mungkin kita mulai dulu dengan telemedicine. Yang secara fundamental harus dijawab adalah kekurangan dokter itu terjadi terutama di daerah-daerah terpencil. Itu yang harus dijawab," jelas Budi.
Menurut Budi, akar persoalan layanan kesehatan di daerah bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan masih terbatasnya jumlah tenaga medis yang bertugas di wilayah terpencil dan tertinggal.
BACA JUGA:Komisi IX DPR Usulkan AI untuk Atasi Kekurangan Dokter di Daerah Terpencil
Karena itu, pemerintah akan terus mendorong peningkatan jumlah dokter dan pemerataan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.
"Saya rasa prioritas utamanya ke sana dulu. Bahwa kemudian nanti ditambah dengan telemedicine, dengan AI, dan teknologi-teknologi lainnya, tapi jangan sampai itu mengalihkan fokus kita atau perhatian kita untuk memperbanyak jumlah dokter dan mendistribusikan mereka ke daerah-daerah," imbuhnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh mengusulkan agar Kementerian Kesehatan menggunakan artificial intelligence (AI) untuk mengatasi kekurangan dokter di daerah.
Nihayatul mengatakan AI tersebut nantinya hanya untuk menjembatani analisis penyakit pasien.
BACA JUGA:Kejar Wisatawan Global, AHY Targetkan Soetta Masuk 10 Besar Bandara Terbaik Dunia pada 2029
- 1
- 2
- »





