Saat Menkes Ungkap PR Besar Dunia Kedokteran di DPR: dari Krisis Dokter-Bullying

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Indonesia masih menghadapi persoalan serius di sektor kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap masih banyak daerah yang kekurangan dokter, bahkan sejumlah puskesmas beroperasi tanpa dokter sama sekali.

Kondisi tersebut, menurut Budi, menjadi akar dari berbagai persoalan lain, mulai dari tingginya beban kerja dokter, ketimpangan pendapatan, sulitnya dokter muda memperoleh tempat praktik, hingga maraknya perundungan di lingkungan profesi kesehatan.

Hal itu disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6).

RI Masih Kekurangan Dokter

Budi mengatakan persoalan paling mendasar dalam sistem kesehatan nasional adalah jumlah dokter yang masih jauh dari kebutuhan.

Akibatnya, banyak dokter harus bekerja dengan beban sangat tinggi.

"Masalah pertama yang kita lihat adalah beban dari dokter itu banyak sekali. Jadi kita sering sekali dengar, internship itu dipekerjakan pengganti dokter yang ada BPJS, RSUD, sampai pagi-pagi, subuh-subuh," kata Budi.

Menurutnya, kondisi tersebut terutama terjadi di daerah yang masih kekurangan tenaga medis.

"Banyak sekali puskesmas yang tidak ada dokternya," ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi di Kabupaten Mamberamo Raya, Papua.

"Tidak ada satu pun dokter spesialis di sana. Dokter giginya nol. Puskesmasnya mungkin ada dari 17, 12 enggak punya dokter."

Karena itu, menurut Budi, memperbanyak jumlah dokter menjadi solusi paling mendasar.

"Masalah utamanya karena memang kita kekurangan dokter sehingga akibatnya bebannya tinggi sekali."

Ketimpangan Penghasilan Dokter

Selain jumlah dokter yang minim, Budi juga menyoroti besarnya ketimpangan penghasilan tenaga medis.

Menurutnya, terdapat dokter yang memperoleh pendapatan hingga miliaran rupiah setiap bulan, sementara sebagian lainnya hanya memperoleh penghasilan sangat kecil.

"Ada yang dapatnya sebulan miliaran, ada kita sering dengar tuh, apakah seperti tukang parkir yang ratusan ribu."

Ia bahkan menyebut selisih pendapatan tersebut bisa mencapai ribuan kali lipat.

"Gap-nya tinggi sekali. Mungkin bisa ribuan kali antara yang paling atas dan paling bawah."

Ketimpangan juga terlihat dari besaran tunjangan di daerah.

Sebagai contoh, dokter spesialis di Kabupaten Bone menerima tunjangan sekitar Rp 3 juta per bulan, sedangkan dokter spesialis di Mahakam Ulu memperoleh hingga Rp 80 juta.

Sementara dokter gigi di Indragiri hanya mendapat tunjangan Rp 1 juta, sedangkan di Cianjur mencapai Rp 30 juta.

Dokter Muda Sulit Mendapat Tempat Praktik

Budi juga mengungkap dokter-dokter muda masih kesulitan memperoleh tempat praktik karena izin praktik di sejumlah rumah sakit telah diisi dokter senior.

"Ada dokter yang SIP-nya tiga, ada dokter muda mau masuk enggak bisa karena SIP-nya sudah terisi oleh dokter-dokter yang lama."

Menurutnya, kondisi tersebut memperlebar ketimpangan pendapatan karena dokter yang telah memiliki banyak tempat praktik memperoleh penghasilan jauh lebih besar.

"Padahal dokter-dokter yang lama itu mungkin kerjanya enggak penuh di rumah sakit."

Karena itu, pemerintah akan menata kembali distribusi kesempatan praktik dokter.

Bullying Jadi Keluhan Terbesar Dokter

Selain persoalan kesejahteraan, Budi mengungkap perundungan menjadi keluhan yang paling banyak diterima Kementerian Kesehatan dari tenaga medis.

"Yang pertama yang agak mengagetkan saya, ternyata paling banyak yang dikeluhkan oleh dokter adalah perundungan."

Menurut Budi, sebagian besar bullying justru dilakukan oleh senior maupun rekan sejawat.

"Sebagian besar dari teman-teman atau seniornya."

Ia menyebut praktik tersebut kerap dialami dokter yang baru bertugas di daerah atau memasuki lingkungan kerja baru.

"Ada satu dokter mau masuk ke daerah lain yang bukan FK-nya beliau, ditekan. Atau dia masuk mau kerja ada seniornya, ditekan."

Karena itu, Kemenkes telah membuka kanal pengaduan bagi tenaga kesehatan yang mengalami intimidasi, kekerasan, maupun bullying.

DPR Usulkan AI Bantu Daerah Kekurangan Dokter

Dalam rapat tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh mengusulkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai solusi sementara untuk membantu pelayanan kesehatan di daerah yang kekurangan dokter.

Menurutnya, teknologi dapat membantu analisis awal penyakit sebelum pasien memperoleh pelayanan langsung dari dokter.

"Bisa enggak dibantu AI paling tidak untuk membantu pasien kita menganalisis penyakit."

Ia menilai solusi tersebut penting karena proses mencetak dokter membutuhkan waktu yang panjang.

Menkes: AI Bisa Membantu, tapi Bukan Solusi Utama

Menanggapi usulan tersebut, Budi mengatakan pemanfaatan AI maupun telemedicine memang dapat menjadi pendukung layanan kesehatan.

Namun, ia mengingatkan agar teknologi tidak menggeser fokus utama pemerintah untuk memperbanyak dokter.

"Mungkin kita boleh didahului dengan telemedicine."

Meski demikian, menurutnya akar persoalan tetap harus diselesaikan.

"Yang secara fundamental harus dijawab adalah kekurangan dokter itu terjadi terutama di daerah-daerah terpencil."

Budi menegaskan dokter tetap tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

"Dokter dan tenaga kesehatan ini kan mesti melihat, mesti menyentuh pasiennya juga."

Karena itu, pemerintah akan tetap memprioritaskan peningkatan jumlah dokter sekaligus pemerataan distribusi tenaga kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tanah Longsor Terjang Benhil Jakpus, Satu Rumah Warga Hancur
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Hari Lingkungan Hidup 2026, Wali Kota Kediri Ajak Warga Pulihkan Sungai Kedak dari Pencemaran
• 4 jam laluberitajatim.com
thumb
Lee Do Hyun Diincar Jadi Pembunuh Bayaran di Drakor Aksi Baru
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Koper WN Thailand Bikin Curiga Petugas, Isinya Tumpukan Dolar AS
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Kemendag Tegaskan Marketplace dan Social Commerce Bukan Produsen, Ini Batasannya
• 22 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.