Kurs rupiah terhadap dolar AS melemah ke level Rp 17.980 pada perdagangan Jumat (26/6), pukul 10.27 WIB.
Dikutip dari Bloomberg, kurs rupiah melemah 36 poin atau 0,20 persen.
Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, menjelaskan beberapa mata uang di regional Asia Tenggara turut mengalami pelemahan.
Dolar Singapura melemah 0,08 persen atau 0,0010 poin ke level 1,29 per dolar AS. Lalu Bath melemah 0,24 persen atau 0,0079 poin ke level 33,410.
“Nah, kita juga tidak seburuk Korean won sama Thailand baht ya untuk pelemahan hari ini,” lanjutnya.
Selain menguatnya dolar AS secara regional, Myrdal juga menjelaskan bahwa saat ini investor global sedang melakukan profit taking.
“Apalagi kan ada warning yang disampaikan oleh MSCI. Walaupun kalau kita lihat peringkatnya sama, tapi kan untuk porsi investasi dari MSCI juga sudah jauh berkurang ya untuk di Indonesia saat ini,” ujarnya.
Permintaan Valas Tinggi
Di samping itu, Myrdal juga menilai permintaan valas yang tinggi di akhir bulan untuk pembiayaan impor utamanya impor manufaktur dan impor BBM juga berpengaruh.
Selain untuk pembiayaan impor, Myrdal juga menyebut permintaan valas lainnya yang rutin dilakukan di akhir bulan adalah untuk pembayaran utang luar negeri.
Economist and Fixed Income Analyst BCA Sekuritas, Felix Darmawan, menjelaskan pelemahan rupiah pagi ini karena pasar masih sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan.
“Mengingat saat ini pelaku pasar masih lebih banyak merespons spekulasi dibanding fundamental yang sudah pasti,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, ia melihat pergerakan pasar saat ini masih ada dalam tahap memantau situasi terlebih dahulu.
“Dengan demikian, pendekatan wait‑and‑see masih dominan, seiring investor menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum mengambil positioning yang lebih tegas lagi,” kata Felix.





