Ringkasan Berita:
- Ratusan skateboarder dari berbagai daerah berkumpul di Tulungagung untuk merayakan Go Skateboarding Day 2026.
- Komunitas skateboard menyoroti kerusakan fasilitas skatepark dan belum adanya pembinaan atlet dari pemerintah daerah.
- Skateboard Tulungagung dinilai memiliki potensi melahirkan atlet, namun hingga kini masih sebatas komunitas.
- Para skateboarder berharap bisa masuk pembinaan KONI agar mampu bersaing di ajang nasional seperti PON dan FORNAS.
Tulungagung (beritajatim.com) – Ratusan pemain skateboard dari berbagai daerah di Jawa Timur memadati skatepark Alun-alun Tulungagung dalam perayaan Go Skateboarding Day 2026. Selain menjadi ajang silaturahmi dan kompetisi, momen Hari Skateboard Sedunia itu juga dimanfaatkan komunitas untuk menyuarakan perlunya pembinaan atlet serta perbaikan fasilitas skatepark yang mulai rusak.
Panitia Go Skateboarding Day 2026 Tulungagung, Irfan Abror Naim, mengatakan peringatan Hari Skateboard Sedunia sejatinya diperingati setiap 21 Juni. Namun, komunitas skateboard di Tulungagung memilih menggelar perayaan pada 24 Juni 2026 agar dapat diikuti lebih banyak peserta dari berbagai daerah.
“Sebenarnya peringatan Hari Skateboard Sedunia jatuh pada tanggal 21 Juni. Tapi di Tulungagung merayakan pada tanggal 24 Juni 2026,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Perayaan Go Skateboarding Day 2026 diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari kompetisi high ollie, long ollie, best trick, game of skate (GOS), mural graffiti, fingerboard, hingga penampilan DJ dan musik hip hop.
Menurut Irfan, peserta yang hadir berasal dari berbagai kota di Jawa Timur, di antaranya Surabaya, Sidoarjo, Malang, Blitar, Madiun, Trenggalek, Kediri, Tulungagung, serta sejumlah daerah lainnya.
“Komunitas skateboard yang datang cukup banyak. Dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Blitar, Madiun, Trenggalek, Kediri, Tulungagung dan beberapa wilayah lain,” terangnya.
Irfan menjelaskan, komunitas skateboard di Tulungagung saat ini beranggotakan sekitar 40 orang. Meski sebagian besar masih menjadikan skateboard sebagai hobi, tidak sedikit yang memiliki keinginan untuk meniti karier sebagai atlet profesional.
“Kalau di Tulungagung ada sekitar 40 pemain skateboard. Ini masih sekadar hobi, tapi ada anak-anak yang ingin ke jalur atlet,” jelasnya.
Namun hingga kini, komunitas skateboard Tulungagung belum mendapatkan pembinaan resmi dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Padahal di sejumlah daerah lain, cabang olahraga skateboard telah berkembang dan mampu mengirim atlet ke berbagai kejuaraan bergengsi, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON) maupun Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS).
“Sebenarnya KONI pernah datang kepada kami untuk menawarkan bergabung ke jalur atlet. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar dari KONI,” paparnya.
Karena itu, komunitas berharap skateboard di Tulungagung dapat segera masuk dalam program pembinaan olahraga prestasi sehingga para atlet muda memiliki kesempatan berkembang dan membawa nama daerah di tingkat nasional.
“Pembinaan di Tulungagung belum ada, jadi kami hanya komunitas. Tapi harapan kami bisa masuk ke KONI untuk menjadi atlet seperti daerah lain,” ungkapnya.
Selain persoalan pembinaan, Irfan juga menyoroti kondisi fasilitas skatepark di Tulungagung. Saat ini terdapat dua lokasi skatepark, yakni di Alun-alun Tulungagung dan Taman Pinka. Namun, hanya skatepark di Alun-alun yang masih dapat digunakan meski sebagian fasilitas mulai mengalami kerusakan.
“Fasilitas skatepark sebenarnya sudah banyak yang rusak. Sedangkan di skatepark Taman Pinka tidak bisa digunakan karena design terlalu ekstrem,” pungkasnya. [nm/beq]




