JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat Transportasi Deddy Herlambang menyoroti klaim Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta tentang 93 persen wilayah di ibu kota sudah terlayani transportasi umum (transum).
"Mengenai klaim dari Pemprov bahwa 93 persen wilayah sudah terlayani, tolok ukurnya kemungkinan besar adalah ketersediaan secara fisik saja," ucap dia ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (25/6/2026).
Namun, mengenai kualitas dari operasionalnya belum teruji apakah benar-benar mempermudah penumpang atau tidak.
Baca juga: HUT ke-499 Jakarta, Pengamat: Solusi Macet Bukan Proyek Transportasi, tapi ERP
Ia memberikan contoh, di jalur tertentu seperti Kebayoran, Jakarta Selatan, dulu hampir setiap menit terjangkau oleh Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) atau Metromini.
Bahkan seringkali Kopaja dan Metromini mengetem lama untuk menunggu para penumpang.
Sementara ketika Metromini dan Kopaja dihapuskan, waktu tunggu atau headway bus penggantinya seperti Transjakarta masih sering lama sekitar 10 hingga 15 menit.
Bahkan bisa lebih terutama ketika di siang hari, di mana armada yang melintas semakin jarang.
"Jadi, polanya tidak bisa hanya yang penting ada. Indikator yang benar adalah ketersediaan dengan headway yang cepat, misalnya setiap lima menit itu baru bisa menjanjikan," sambung dia.
Kurangnya bus kecilMeski armada Transjakarta terlihat banyak yang berlalu lalang di jalan ibu kota, keberadaannya belum mampu menggantikan Kopaja dan Metromini.
Deddy menilai, untuk menggantikan peran Kopaja dan Metromini, maka masih kekurangan sekitar 4.000 bus Transjakarta berukuran 3/4 atau disebut Minitrans.
Pengamat Transportasi itu bilang, jumlah bus Transjakarta ukuran 3/4 jumlahnya masih sangat sedikit hanya sekitar 118 unit.
Oleh karena itu, Deddy mendorong agar Pemprov Jakarta tidak hanya memperbanyak bus berukuran besar.
"Bus besar itu menambah kemacetan dan tidak bisa bergerak luwes masuk ke jalan-jalan kecil di daerah seperti Kebayoran, Cinere, atau Ciledug," jelas dia.
Baca juga: Penyebab Warga Jakarta Malas Naik Transum: Tetap Terjebak Macet, Lebih Boros Ongkos
Bus Transjakarta berukuran besar hanya mampu menjangkau jalan protokol saja, sementara jalan lingkungan tidak terjangkau, sehingga membuat para pengguna harus menyambung kendaraan lain.
Padahal dulu, Metromini dan Kopaja masuk hampir ke seluruh jalan lingkungan, sehingga membuat banyak masyarakat mengandalkannya ketika bepergian seperti ke pasar, mengantar anak sekolah, dan lain sebagainya.
"Itulah mengapa masyarakat masih memilih menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor, karena kuantitas transportasi umum yang memadai masih kurang," tutur Deddy.
Transit berkali-kaliSelain itu, penyebab lain transportasi umum belum diminati warga adalah proses transit yang harus berkali-kali.
Berdasarkan riset dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), integrasi transportasi yang nyaman maksimal hanya tiga kali transit.
Apabila proses transit terlalu banyak, bisa membuat masyarakat menjadi tidak nyaman ketika naik transportasi umum.
Oleh karena itu, yang diharapkan adalah moda pengumpan (feeder) yang terintegrasi dengan angkutan utama seperti MRT, LRT, dan KRL, jumlahnya memadai.
Baca juga: 2 Jam Vs 1,5 Jam: Warga Jakarta Pilih Macet Ketimbang Transit Berkali-kali
Angkutan pengumpan ini lah yang menghubungkan pemukiman, perkantoran, atau sekolah ke stasiun terdekat.
"Jangan sampai transit hanya ada di ujung jalur saja. Stasiun-stasiun di tengah juga memerlukan pengumpan," tutur dia.





