Dilema Nasib Investasi Bandara Kertajati

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana pembukaan kembali penerbangan jet dan internasional di Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO) memunculkan kembali dilema transportasi udara di Jawa Barat. 

Di satu sisi, masyarakat menginginkan akses penerbangan yang lebih dekat ke pusat kota. Di sisi lain, reaktivasi bandara tersebut berisiko menghambat upaya pemerintah mengembangkan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati (KJT) yang dibangun dengan investasi yang tidak sedikit. 

Pemerintah kini mulai mempersiapkan optimalisasi Bandara Husein Sastranegara menyusul terbitnya Surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Nomor AU.102/1/8/DRJU.DAU/2026.

Surat tersebut membuka jalan bagi bandara yang berlokasi di Kota Bandung itu untuk kembali melayani penerbangan niaga berjadwal domestik dan internasional menggunakan pesawat jet maupun propeller.

Wakil Menteri Perhubungan Suntana mengatakan proses reaktivasi masih berjalan dan pemerintah berharap aktivitas pesawat jet dapat beroperasi mulai tahun ini.

“Masih berprogres, insyaAllah [rampung tahun ini],” ujarnya, Kamis (25/5/2026). 

Baca Juga

  • Sekitar Bandara Kertajati Masuk Zona Merah Kekeringan
  • Fiskal Menyusut, Infrastruktur di Penyangga Bandara Kertajati Kini Tergantung Pusat
  • Umrah Jadi Jalan Masuk Menghidupkan Ekonomi Daerah, BI Andalkan Bandara Kertajati

PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports pun mulai melakukan berbagai persiapan operasional. Perseroan telah membentuk Tim Operational Readiness Activation and Transition (ORAT) untuk memastikan kesiapan bandara sebelum kembali melayani penerbangan komersial berskala besar.

Koordinasi pun terus dilakukan dengan berbagai pihak, mulai dari TNI AU, maskapai, operator ground handling, Imigrasi hingga Bea Cukai.

Di sisi operasional, sejumlah pekerjaan dilakukan untuk mendukung pengoperasian pesawat jet. Persiapan mencakup peningkatan kapasitas layanan keselamatan penerbangan, penambahan fasilitas pemadam kebakaran, penguatan personel keamanan, perbaikan landas pacu, kesiapan apron, hingga pembenahan terminal penumpang domestik dan internasional.

Corporate Secretary Group Head InJourney Airports Arie Ahsanurrohim mengatakan, optimalisasi Bandara Husein ditargetkan dipercepat mulai Agustus 2026. Percepatan tersebut, juga tetap melalui proses verifikasi kesiapan bandara dari Kemenhub. 

Menurutnya, masih diperlukan sejumlah penyesuaian regulasi terkait status internasional bandara dan kebijakan pembatasan operasional yang sebelumnya diterapkan pemerintah.

“Kami upayakan percepatan di bulan Agustus 2026 dan semoga seluruh perangkat ekosistem bandar udara bisa mendukung target yang ditentukan,” ujarnya kepada Bisnis. 

Arie menambahkan, pembahasan mengenai posisi Bandara Husein dan Kertajati masih berlangsung bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, BIJB, serta Kementerian Perhubungan.

Bandara Kertajati


Dilema Kertajati

Rencana tersebut langsung memunculkan perdebatan mengenai masa depan Kertajati yang selama ini diproyeksikan menjadi pintu gerbang utama penerbangan Jawa Barat.

Wakil Ketua Umum Bidang Kajian Strategis Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Ilham Malik menilai pembukaan kembali Husein tidak dapat semata-mata didasarkan pada preferensi masyarakat yang menginginkan akses lebih dekat ke pusat kota.

Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan aspek keselamatan, efisiensi sistem transportasi nasional, investasi negara yang telah digelontorkan, dampak ekonomi kawasan, hingga keberlanjutan operasional bandara dalam jangka panjang.

Ilham menjelaskan bahwa Kertajati pada awalnya dibangun untuk mengatasi keterbatasan Bandara Husein yang berada di kawasan perkotaan padat dengan kondisi geografis yang menantang.

Sementara kedekatan lokasi Husein dengan pusat aktivitas Bandung Raya membuat bandara tersebut tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Sebelum pembatasan operasional diberlakukan, Husein melayani sekitar 40 hingga 50 penerbangan per hari dengan tingkat utilisasi yang tinggi.

Menurut Ilham, dalam kajiannya, risiko terbesar dari pembukaan kembali Husein secara penuh adalah terjadinya kanibalisasi pasar yang berpotensi memperlambat pengembangan Kertajati.

Karena itu, Ilham menilai persoalan utama yang harus diselesaikan pemerintah justru terletak pada konektivitas menuju Kertajati.

"Salah satu tantangan utama Kertajati sejak awal adalah aksesibilitas menuju bandara," ujarnya.

Pihaknya mendorong pemerintah memperkuat konektivitas melalui jalan tol, kereta api, bus rapid transit, shuttle bus, hingga integrasi antarmoda agar waktu tempuh menuju Kertajati menjadi lebih kompetitif.

Ilham tersebut juga mengusulkan penerapan konsep Multi-Airport System dengan pembagian fungsi yang jelas antara kedua bandara. Dalam skema tersebut, Kertajati berperan sebagai hub internasional dan regional, sementara Husein difungsikan sebagai bandara kota dengan kapasitas penerbangan yang lebih terbatas.

Suara Konsumen

Terpisah, Pengamat Penerbangan sekaligus Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia Alvin Lie memandang pembukaan kembali penerbangan jet dan internasional di Husein merupakan respons atas kebutuhan nyata masyarakat Bandung yang selama ini tidak terakomodasi.

Alvin mengingatkan bahwa Bandara Husein sebelumnya pernah melayani penerbangan internasional ke Kuala Lumpur dan Singapura sehingga status tersebut bukan hal baru. Sebut saja Indonesia AirAsia, SilkAir (kini telah bergabung dengan Singapore Airlines), hingga Malindo Air. 

Tantangan terbesar saat ini, kata dia, adalah mempersiapkan kembali fasilitas bandara setelah lama tidak melayani penerbangan berjadwal berskala besar.

Dia menilai pembenahan terminal, akses penumpang, fasilitas kargo, serta sarana pendukung lainnya menjadi syarat penting agar bandara kembali menarik bagi maskapai maupun pengguna jasa.

Lebih jauh, Alvin menilai upaya mendorong perpindahan penumpang Bandung ke Kertajati selama beberapa tahun terakhir tidak berjalan sesuai harapan.

Menurutnya, sebagian masyarakat justru memilih berangkat melalui Jakarta karena pilihan maskapai dan rute yang lebih beragam dibandingkan Kertajati.

Alvin melihat hal ini sebagai suara konsumen yang memang perlu ditindaklanjuti. Terbukti bahwa konsumen lebih kuat daripada kekuasaan pemerintah di saat pemerintah berusaha memaksakan konsumen Bandung ke Kertajati. Namun, ternyata ditolak oleh konsumen.

"“Ini adalah kenyataan baik yang harus diakui oleh pemerintah tentang kegagalannya dalam proyek Kertajati tersebut. Bandara Husein ini memang sudah sangat dibutuhkan," ujarnya.

Alvin juga mengungkapkan sejumlah maskapai telah mulai menanyakan peluang kembali membuka rute dari Bandung, terutama untuk penerbangan lintas pulau dan internasional.

Menurutnya, Bandung memiliki potensi kuat sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan pariwisata yang dapat mendukung pertumbuhan trafik penerbangan jika akses udara kembali tersedia secara optimal.

Di tengah perdebatan tersebut, pemerintah masih menghadapi pekerjaan besar untuk menentukan posisi ideal dua bandara utama di Jawa Barat. 

Meski demikian, sebelumnya telah muncul rencana optimalisasi KJT sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Bahkan, Amerika Serikat membidik bandara di Majalengka menjadi pemeliharaan pesawat Hercules di Asia. 

Sementara bagi BDO, sekalipun bandara di tengah kota tersebut kembali aktif, urban management atau padatnya Bandung menjadi tantangan Pemprov Jabar maupun Pemkot Bandung.  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapolri Mutasi 1.121 Personel: Dua Kapolda Baru, Polresta Dibentuk di IKN
• 9 jam lalukompas.id
thumb
OpenAI Rilis Chip AI Buatan Sendiri Jalapeño, Kurangi Ketergantungan Nvidia
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
PSI soal Kedatang Jokowi di Lampung: Kami Yakin Akan Meratakan Dukungan di Mesuji
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Pekan Sita Serentak 2026, Ratusan Aset Wajib Pajak Disita di Jabar dan Jatim
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Saham Apple Turun Tajam usai Naikkan Harga iPad hingga MacBook
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.