Grid.ID - Kriminolog Universitas Indonesia (UI) baru-baru ini buka suara soal sifat pelaku penyekapan di Bandung. Dirinya menyinggung soal cara Taufik Hidayat melakukan manipulasi ke korban.
Kabar tertangkapnya pelaku penyekapan di Bandung, Taufik Hidayat memang menggegerkan publik. Pasalnya, ia sempat menjadi buron.
Dikutip dari Kompas.com pada Jumat (26/6/2026), Taufik Hidayat akhirnya ditangkap. Dirinya dirungkus pihak kepolisian di rumah mantan bosnya.
Hal itu Kanit Reskrim Polsek Jatinangor, Ipda Hendi Setiawan yang melihat foto wajah pelaku langsung mengenalinya. Pasalnya, ia pernah menangani kasus Taufik Hidayat.
Karena hal itu, ia langsung menghubungi mantan bos Taufik Hidayat untuk membujuk pelaku menyerahkan diri. Meski sempat berusaha lari akhirnya Taufik Hidayat ditangkap.
"Dulu pelaku memiliki kasus di wilayah hukum Pacet dan kebetulan saya yang menanganinya," jelasnya.
Hendi mengungkap bahwa pelaku sempat ingin melarikan diri. Tak hanya itu, Taufik Hidayat sempat ingin bunuh diri lantaran ketakutan dirinya sudah masuk ke Daftar Pencarian Orang (DPO).
"Pelaku sempat berniat kabur ke Sumatera dan berniat mengakhiri hidup, namun akhirnya berhasil dibujuk," lanjut dia.
Penangkapan Taufik Hidayat ini pun didengar oleh korbannya, YTR. Dirinya mengaku bahagia lantaran pria yang selama ini menyiksanya telah diringkus polisi.
Tak hanya itu, YTR meminta polisi agar mmeberikan hukuman yang berat. Mengingat dirinya kini mengalami cacat dan kesulitan melihat.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, YTR mengalami kesulitan untuk melihat lantaran matanya sudah dilukai. Tak hanya itu, beberapa luka juga tampak di tubuhnya.
Sedangkan, dikutip dari Tribunnews pada Jumat (26/6/2026), kriminolog UI sekaligus ayah dari penyanyi Idgitaf yakni Prof. Adrianus Meliala, buka suara terkait dengan kasus penyekapan di Bandung ini. Dirinya pun menyinggung soal manipulasi yang dilakukan pelaku.
"Ya tentu lalu dalam rangka memastikannya, kita mesti tahu dulu atau kita bisa apa mewawancarainya setelah yang bersangkutan tertangkap," kata Prof. Adrianus.
Dirinya juga menilai bahwa apa yang dialami YTR bisa terjadi karena dua faktor. Pertama karena tekanan yang hebat, atau karena korban merasa bahwa kesediaannya untuk diperlakukan seperti itu adalah bentuk kesetiaan.
Hal itulah yang menurutnya menjadi alasan YTR mampu bertahan. Terlebih, kejadian tersebut sudah berlangsung selama 3 tahun.
"Ketika sang pelaku ini lalu melakukan kekerasan pun bukan dianggap sebagai sesuatu yang dalam tanda kutip jahat, tapi dianggap sebagai bagian dari tanda kesetiaan dirinya kepada sang pelaku. Makanya kemudian lalu bisa bertahan sampai 3 tahun begitu," jelasnya.
Ia juga menyinggung mengenai pelaku yang begitu cerdik memanipuasi korban. Pelaku mampu terlihat baik-baik saya di depan orang lain.
Tak hanya itu, ia menilai pelaku juga pintar memanipulasi keadaan. Sehingga, lokasi tempat mereka tinggal tampak tidak ada masalah.
Menurut Adrianus, kondisi lingkungan di sekitar lokasi turut memengaruhi lambatnya proses pertolongan saat kejadian. Dari foto lokasi, ia menilai kawasan tersebut tidak berada di permukiman yang padat sehingga bantuan dari warga sekitar menjadi terbatas.
Hal itu juga yang akhirnya membuat YTR tidak bisa berteriak meminta tolong. Hingga kejadiannya berlangsung selama 3 tahun.
"Kalau kita lihat gambar ini aja kan terlihat bahwa sebetulnya tidak berada di pemukiman yang padat ya, di depan kosong, lalu mungkin hanya ada satu dua di kiri kanan," kata Adrianus.
"Lalu di atas mungkin juga di antara mereka itu adalah pekerja-pekerja yang sibuk ya. Alhasil kemudian tidak ada orang yang bisa di diharap dari sisi pertolongan," sambungnya. (*)
Artikel Asli




