HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Ajang Pemilihan Duta Bahasa Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) 2026 resmi menetapkan para pemenang terbaik. Kegiatan yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini berlangsung pada pertengahan Juni 2026 di Makassar.
Dari ajang tersebut, Zulfiqri Saputra Samsul terpilih sebagai Terbaik I Putra, sementara Nilayanti dinobatkan sebagai Terbaik I Putri. Sebanyak 20 finalis, terdiri atas 10 peserta putra dan 10 peserta putri dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, mengikuti rangkaian seleksi yang berlangsung secara ketat.
Zulfiqri lahir di Pangkajene, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), pada 17 Desember 2004. Ia merupakan mahasiswa angkatan 2023 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin. Di sela aktivitas akademiknya, ia gemar membaca dan mendengarkan musik, serta aktif mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bahasa, pendidikan, dan pengembangan diri.
Bagi Zulfiqri, mengikuti ajang Duta Bahasa bukan sekadar mengejar gelar. Ia ingin memperdalam pemahaman tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sekaligus berkontribusi dalam upaya pelestarian bahasa.
Motivasi utama mengikuti Duta Bahasa kata di, adalah untuk lebih memahami dan menguasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
“Selain itu, saya juga ingin mengabdi dan berkontribusi bersama Balai Bahasa dalam meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia serta melestarikan bahasa daerah,” ujarnya.
Perjalanan menuju prestasi tersebut tidaklah mudah. Pada 2024, Zulfiqri sempat mengikuti seleksi Duta Bahasa, tetapi gagal melaju hingga tahap karantina. Alih-alih menyerah, pengalaman itu justru menjadi bekal untuk mempersiapkan diri lebih baik.
“Saya pernah mengikuti Duta Bahasa tahun 2024, tetapi belum lolos sampai tahap karantina. Karena itu, saya mencoba lagi pada 2026 dan alhamdulillah berhasil. Prosesnya panjang, mulai dari pelaksanaan Krida Kelompok, memperdalam materi kebahasaan, hingga mempersiapkan diri menghadapi setiap tahapan seleksi,” katanya.
Selama mengikuti seleksi, tantangan terbesar yang dihadapi adalah rasa kurang percaya diri dan ketakutan berbicara di depan banyak orang. Namun, ia berusaha mengubah pola pikirnya dengan terus berlatih dan fokus pada proses.
Dahulu dia sering merasa minder dan berpikir orang lain jauh lebih baik. Namun dia sadar tidak ada manusia yang sempurna dan semua orang pasti pernah melakukan kesalahan saat berbicara. Dia belajar untuk lebih percaya diri dan fokus pada proses berkembang.
“Selama persiapan, saya memanfaatkan waktu sebaik mungkin, bahkan sering belajar hingga larut malam agar benar-benar siap menghadapi setiap tahapan,” tuturnya.
Saat namanya diumumkan sebagai Terbaik I Putra, Zulfiqri mengaku diliputi rasa syukur sekaligus tidak menyangka dapat meraih pencapaian tersebut.
“Alhamdulillah saya sangat bersyukur dan juga cukup terkejut. Jujur, saya tidak pernah menyangka bisa menjadi Terbaik I. Momen ini mengajarkan bahwa saya terpilih bukan karena sudah sempurna, melainkan karena mau terus belajar, berkembang, dan bekerja sama dengan orang lain,” ungkapnya.
Dalam kesehariannya, Zulfiqri meyakini bahwa bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing dapat digunakan secara berdampingan tanpa saling menggantikan.
Belajar bahasa asing tidak berarti melupakan bahasa sendiri. Di kampus dia menggunakan bahasa Inggris untuk keperluan akademik, tetapi dalam keseharian tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
“Saat berada di lingkungan keluarga maupun masyarakat, saya juga berusaha menggunakan bahasa daerah sesuai konteks. Bagi saya, ketiganya saling melengkapi, bukan saling menggantikan,” jelasnya.
Sebagai Duta Bahasa Sulselbar 2026, Zulfiqri berkomitmen mendekatkan isu kebahasaan kepada generasi muda melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan mereka. Ia ingin memanfaatkan media sosial untuk menghadirkan konten edukatif yang menarik, sekaligus menginisiasi berbagai kegiatan literasi yang melibatkan anak-anak dan remaja.
Ia berharap masyarakat tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi, tetap menjaga kelestarian bahasa daerah, serta menjadikan teknologi sebagai sarana memperkuat penggunaan bahasa, bukan menggesernya.
“Jangan takut mencoba hal baru hanya karena merasa belum cukup baik. Saya sendiri pernah gagal, tetapi dengan terus berusaha akhirnya bisa sampai di titik ini. Jangan takut gagal, karena kegagalan sering kali menjadi langkah awal menuju keberhasilan,” pesannya.
Ke depan, Zulfiqri bertekad menjadikan amanah sebagai Duta Bahasa sebagai ruang untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Ia ingin aktif berkontribusi dalam berbagai program kebahasaan, mengembangkan gerakan literasi, serta menginspirasi generasi muda agar semakin bangga terhadap kekayaan bahasa dan budaya Indonesia. (*/)
(Itto/Magang Fajar)





