Bisnis.com, JAKARTA — PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) resmi mengalihkan fokus bisnis dari sektor perhotelan ke jasa pertambangan. Transformasi tersebut ditempuh melalui akuisisi PT Venturi Tambang Perkasa (VTP) sebagai upaya membalikkan kinerja keuangan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru.
Direktur FITT Ou Yang mengatakan akuisisi VTP menjadi langkah strategis yang akan mengubah struktur bisnis perseroan dari perusahaan berbasis perhotelan menjadi investment holding yang berfokus pada sektor jasa pertambangan.
"Kami berharap melalui akuisisi ini terjadi pembalikan struktural dari hotel yang merugi menuju bisnis jasa tambang yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan," ujarnya dalam Paparan Publik, Jumat (26/6/2026).
Sepanjang 2025, VTP membukukan pendapatan sebesar Rp128,7 miliar dengan laba operasional sekitar Rp36 miliar. Perusahaan yang beroperasi di wilayah pertambangan nikel di Luwuk, Sulawesi itu juga mencatat total aset Rp169 miliar serta volume produksi mencapai 742.321 ton nikel.
Untuk merealisasikan akuisisi tersebut, FITT terlebih dahulu merestrukturisasi portofolio bisnis dengan melepas dua anak usahanya, yakni BMP dan FAW.
Perseroan menjual 99,99% saham BMP kepada PT Berkarya Bersama Servindo (BBS) senilai Rp21,9 miliar serta 99,96% saham FAW kepada PT Pratama Global Servindo (PGS) senilai Rp46,9 miliar.
Baca Juga
- Pesona Kuat Batu Bara, dari ABMM Lo Kheng Hong, MEJA, Hingga FITT
- Suspensi Dicabut, Saham FITT Melonjak 24,73% Pasca Pengumuman Peralihan Usaha
- Hotel Fitra (FITT) Akan Banting Setir ke Sektor Usaha Pertambangan
Dari transaksi tersebut, FITT memperoleh dana sebesar Rp67,9 miliar. Sebagian dana akan digunakan untuk mengakuisisi 50% saham VTP dari PT Sheng Yue Hengli dengan nilai transaksi Rp46,5 miliar, sedangkan sisanya dialokasikan untuk memperbaiki struktur permodalan melalui restrukturisasi utang.
Manajemen menilai langkah tersebut akan memperkuat kesehatan keuangan perseroan sekaligus memberikan ruang untuk berekspansi ke sektor yang memiliki prospek pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan industri perhotelan.
Target Jadi Holding Jasa TambangOu Yang menjelaskan transformasi bisnis akan dilakukan secara bertahap. Pada fase pertama selama satu hingga dua tahun, perseroan akan memprioritaskan proses integrasi VTP dan penataan struktur bisnis.
Selanjutnya, dalam kurun tiga hingga lima tahun, FITT berencana memperluas bisnis sekaligus melakukan diversifikasi, termasuk mengevaluasi peluang meningkatkan kepemilikan saham di VTP menjadi lebih dari 50% apabila sejalan dengan strategi investasi perseroan.
Dalam jangka panjang atau lebih dari lima tahun, FITT menargetkan terbentuknya ekosistem bisnis pertambangan yang terintegrasi sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan.
Ou Yang menegaskan transformasi tersebut merupakan komitmen perseroan untuk beradaptasi dengan perubahan industri sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi para pemegang saham.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





