jpnn.com, SURABAYA - Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya mengembangkan teknologi pirolisis guna mengolah sampah plastik di kawasan hutan bakau menjadi bahan bakar bermanfaat untuk para nelayan setempat.
Kepala Brida Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji di Surabaya, Jumat, mengatakan persoalan sampah di kawasan bakau tidak hanya berasal dari aliran sungai, tetapi juga terbawa arus laut saat terjadi pasang.
BACA JUGA: SIG Manfaatkan Sampah Hingga Limbah Sebagai Bahan Bakar Alternatif
Dia menjelaskan di saluran Kebon Agung sebenarnya telah dipasang screen penyaring sampah oleh Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya. Namun, sampah plastik masih ditemukan menumpuk di kawasan bakau karena terbawa gelombang laut.
"Ternyata ketika pasang, justru laut membawa sampah masuk ke situ (mangrove), nyantol ke akar-akar napas mangrove," ujarnya.
BACA JUGA: Gandeng Resinergi, SIG Tingkatkan Penggunaan Bahan Bakar Alternatif dari Sampah Perkotaan
Ia menjelaskan kondisi tersebut menjadi tantangan karena sebagian besar sampah tersangkut di sela-sela akar bakau sehingga sulit diambil.
Untuk mengatasinya, Brida menggagas pelibatan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pelajar, hingga masyarakat untuk mengumpulkan sampah plastik yang tidak lagi memiliki nilai jual.
BACA JUGA: Reduksi Emisi Gas Rumah Kaca, SIG Tingkatkan Penggunaan Bahan Bakar Alternatif
"Kalau botol plastik masih ada harganya. Untuk sampah kresek yang rusak itu tidak ada nilainya, tetapi banyak mengambang dan nyantol di mangrove. Nah, yang non-valuable itu yang ingin kita kumpulkan," katanya.
Sampah plastik tersebut selanjutnya akan diolah menggunakan teknologi pirolisis hingga menghasilkan minyak bakar yang diharapkan dapat dimanfaatkan kembali oleh nelayan di kawasan pesisir.
"Kalau nelayan saat tidak mencari ikan, bisa mencari sampah plastik di mangrove, nanti diberikan kepada kami untuk diproses. Hasilnya berupa minyak bakar bisa kami berikan lagi untuk bahan bakar motor tempel mereka," tuturnya.
Sekretaris Brida Kota Surabaya Mamik Suparmi menjelaskan teknologi pirolisisdifokuskan pada pengolahan sampah plastik yang selama ini sulit didaur ulang dan tidak memiliki nilai ekonomi.
"Botol plastik masih punya nilai karena bisa dicacah dan didaur ulang. Nah, yang (plastik) jelek-jelek ini yang tidak berguna, kita kumpulkan lalu dilakukan pirolisis sehingga kembali menghasilkan minyak," ujar dia.
Menurut dia, minyak hasil pirolisis tersebut nantinya dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar.
Saat ini, Brida bekerja sama dengan Fakultas Teknik (FT) serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melakukan riset sekaligus mengembangkan alat pirolisis.
"Nah, kita sedang melakukan riset sekaligus mengembangkan alatnya," katanya.
Selain mengembangkan inovasi pengelolaan sampah bakau, Brida juga membuka ruang kolaborasi riset melalui platform berbasis web BRIGHT (BRIDA Research, Internship Growth and Holistic Training).
"Brida mewadahi untuk riset dan inovasi, termasuk magang mahasiswa. Dari riset dan magang itu diharapkan lahir ide-ide baru yang berkembang menjadi inovasi nyata," kata Mamik.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




