JAKARTA, DISWAY.ID-- Transisi hijau gencar digaungkan. Salah satunya yakni kendaraan listrik, yang menjadi langkah strategis Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE).
Transisi kenderaan listrik bukan tanpa sebab. Pasokan minyak dunia yang menipis berpotensi mengganggu ketahanan energi nasional.
BACA JUGA:Survei Litbang Kompas Sebut Kepercayaan Publik ke Polri 82,4%, Habiburokhman Ikut Kasih Pujian
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan, kendaraan listrik bisa menjadi solusi untuk mengurangi emisi karbon.
Selain itu, dapat menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) serta mengurangi beban subsidi energi di masa depan.
"Dengan semakin berkurangnya ketergantungan terhadap BBM, Indonesia akan lebih siap menghadapi gejolak harga energi dan gangguan pasokan minyak dunia," kata Febri dalam keterangannya di Jakarta, Jumat 26 Juni 2026.
BACA JUGA:Weekend Gelap, IHSG Ambruk Menjelang Akhir Pekan
Menurutnya, manfaat kendaraan listrik telah dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya pelaku transportasi online.
Penggunaan kendaraan listrik terbukti mampu menekan biaya operasional pengemudi hingga ratusan ribu rupiah setiap bulan.
"Penghematan biaya operasional dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memperkuat daya beli masyarakat," ujarnya.
Oleh karena itu, ia melihat peluang Indonesia dalm pengembangan industri kendaraan listrik secara serius.
BACA JUGA:PN Jaktim Larang Media Siarkan Live Streaming Sidang Dokter Tifa!
"Hingga Juni 2026, tercatat sebanyak 91 produsen kendaraan listrik telah beroperasi di Indonesia, mencakup kendaraan roda dua, roda empat, hingga kendaraan komersial," ungkapnya.
Hal itu berdasarkan tingginya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik yang dapat dilihat dari peningkatan penjualan kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir.
Pada periode Januari hingga April 2026, market share kendaraan listrik (gabungan HEV, PHEV, dan BEV) untuk roda empat telah mencapai kisaran 26,3 persen.
- 1
- 2
- »





