tvOnenews.com - Di tengah meningkatnya tuntutan regulator, investor, dan masyarakat terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan, perusahaan dituntut untuk melihat keberlanjutan dari perspektif yang berbeda. Bukan lagi sebagai biaya tambahan atau kewajiban pelaporan, tetapi sebagai faktor yang dapat meningkatkan daya saing dan menciptakan nilai jangka panjang.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Febryanti Simon, Managing Partner SW Sustainability Center, saat menjadi panelis dalam acara Asia-Pacific Sustainable Business Summit 2026 (Global Sustainability Development Congress), sebuah forum yang mempertemukan para pemimpin bisnis dan praktisi keberlanjutan dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.
Dalam sesi diskusi yang mengangkat tema Embedding Sustainability into Business Performance, Febryanti menyoroti pentingnya menghubungkan agenda keberlanjutan dengan tujuan bisnis dan kinerja keuangan perusahaan.
Menurutnya, banyak organisasi masih memandang keberlanjutan sebagai pusat biaya (cost center). Padahal, ketika inisiatif keberlanjutan mampu menurunkan biaya operasional, mengurangi risiko bisnis, meningkatkan akses terhadap pendanaan, maupun memperkuat kepercayaan investor, maka keberlanjutan telah bertransformasi menjadi sumber penciptaan nilai.
"Pertanyaannya bukan lagi apakah keberlanjutan menciptakan nilai, tetapi apakah perusahaan mampu mengukur dan menunjukkan nilai tersebut kepada para pemangku kepentingan. Di sinilah peran fungsi keuangan menjadi sangat penting," ujar Febryanti.
Diskusi juga menyoroti bagaimana perusahaan-perusahaan terbaik di Asia akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Menurut Febryanti, keberhasilan perusahaan tidak akan ditentukan oleh banyaknya komitmen atau target keberlanjutan yang diumumkan, melainkan oleh keberanian perusahaan mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam keputusan investasi dan strategi bisnis.
"Banyak perusahaan sudah memiliki kebijakan dan target keberlanjutan. Namun yang membedakan para pemimpin pasar dengan perusahaan lainnya adalah apakah faktor keberlanjutan benar-benar memengaruhi keputusan investasi, inovasi, dan pengalokasian sumber daya perusahaan," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa alokasi modal akan menjadi indikator paling nyata untuk menilai keseriusan perusahaan dalam menjalankan transformasi keberlanjutan.
"Jika keberlanjutan telah menjadi bagian dari pertimbangan investasi dan pengambilan keputusan strategis, maka keberlanjutan tidak lagi menjadi program tambahan, melainkan bagian dari DNA perusahaan."




