REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Teknologi kecerdasan buatan (Al) terus berkembang dan mulai diadaptasi di berbagai sektor, termasuk kesehatan. Bahkan kini, aplikasi chatbot berbasis Al sudah lumrah digunakan sebagai salah satu sumber informasi kesehatan bagi anak muda. Lantas apakah lambat laun peran dokter akan tergantikan Al?
Dokter sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, mengatakan Al tidak akan pernah bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosis dan menangani pasien. Karena bagaimanapun, Al adalah mesin yang cara kerjanya bergantung pada algoritma dan prompt yang diberikan pengguna sehingga diagnosisnya tidak akan valid.
Baca Juga
Dokter Imbau Anak Muda Jangan Gampang Percaya Konten Kesehatan dari Medsos
Sering Self-Diagnose Lewat AI dan Medsos? Dokter Ingatkan Risikonya
Psikolog Bedah Pola Asuh 'Anak Emas' Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan
Berbeda dengan Al, dokter akan melakukan eksplorasi lebih mendalam terhadap kondisi pasien. Ketika pasien mengeluhkan batuk atau sesak napas, dokter akan menggali berbagai faktor lain yang mungkin berkaitan dengan kondisi tersebut.
"Al tidak akan pernah menggantikan peran dokter. Al itu diatur oleh algoritma yang hanya menjawab prompt keluhan utama pengguna. Nah kalau dokter akan menanyakan keluhan, pemeriksaan fisik misalnya pakai stetoskop, bahkan kadang butuh penunjang seperti pemeriksaan laboratorium. Jadi diagnosis dokter itu akan akurat," kata dr Ray saat diwawancara Republika di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut dr Ray, Al juga cenderung berfokus pada satu keluhan yang dimasukkan pengguna dalam prompt. Akibatnya, sistem bisa langsung mengarahkan pada dugaan kondisi tertentu yang belum akurat.
Self-diagnose (ilustrasi). - (Dok. Freepik)
Sebagai contoh, ketika seseorang mengeluhkan sulit tidur, Al bisa saja langsung memberikan diagnosis insomnia. Sementara itu, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih menyeluruh karena gangguan tidur bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti gangguan tekanan darah maupun kondisi kesehatan lainnya.
"Itulah sebabnya, Al tidak akan pernah bisa menggantikan peran tenaga kesehatan, apalagi peran dokter untuk mendiagnosis," ujar dr Ray.
Meski demikian, ia tak memungkiri platform Al bisa menjadi sarana untuk meningkatkan literasi kesehatan terutama bagi anak muda. Menurutnya, Al bisa dimanfaatkan sebagai medium untuk skrining atau mengidentifikasi risiko penyakit.