Curhat Petugas Sensus Ekonomi 2026: Warga Bilang "Dari Dulu Disensus, Enggak Dapat Bantuan"

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Petugas Sensus Ekonomi 2026 mengungkap sejumlah warga masih menolak didata saat petugas mendatangi rumah mereka untuk melakukan pendataan dari rumah ke rumah.

Petugas Sensus Ekonomi di wilayah Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Dzulfikri mengatakan, alasan penolakan yang digunakan warga beragam.

"Sebenarnya mereka sekarang ini tidak mau dicacah karena mereka berpikir bahwa, 'Ini sensus gunanya apa sih? Dari dulu sudah disensus-sensus, enggak dapat bantuan-bantuan begitu'," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (26/6/2026).

Baca juga: Kenapa Sensus Ekonomi Jakarta Tanyakan Gaji hingga Perhiasan Saat Pendataan?

Selain itu, ada pula warga yang meminta petugas datang di lain waktu karena sedang memiliki aktivitas lain.

"Ada kayak yang, 'Udahlah, nanti aja saya lagi sibuk gitu, ini kan bisa nanti,' gitu. Ada yang begitu juga. Dan ada juga yang kayak skeptis sekali untuk memberikan jawaban tentang, 'Memang saya tidak mau didata'," ujar dia.

Menurut Dzul, kondisi tersebut menjadi tantangan yang kerap dihadapi petugas selama melakukan pendataan.

Baca juga: Gak Boleh, Privasi! Petugas Sensus Ekonomi 2026 Dimarahi Warga saat Tanya Gaji

Untuk mencoba mengatasi hal tersebut, ia biasanya lebih dulu memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan pelaksanaan Sensus Ekonomi.

"Kita harus memberikan pengertian kepada responden yang akan kita mintai datanya. Kita tidak bisa langsung meminta begitu, tapi mesti ada izin dan memberikan pengertian bahwa data ini yang kita minta itu tidak digunakan sembarangan dan tidak disalahgunakan," ucap dia.

Ia menjelaskan, petugas juga memiliki prosedur apabila mengalami penolakan dari warga.

Baca juga: Curhat Petugas Sensus Ekonomi di Jakbar: Kerap Ditolak Warga hingga Dicurigai Penipu

Petugas akan kembali mendatangi rumah tersebut hingga tiga kali agar warga bersedia mengikuti pendataan.

Selama bertugas di sejak 15 Juni 2026, Dzul mengaku bersuyukur belum pernah harus kembali mendatangi rumah warga hingga tiga kali.

"Sampai sekarang, Alhamdulillah paling susah baru dua kali," kata dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Apabila hingga kunjungan ketiga warga tetap menolak didata, petugas akan meminta pendampingan ketua RT atau RW setempat agar proses pendataan dapat dilakukan.

"Ketika ketiga kalinya beliau masih menolak kami, kami minta pendampingan dari RT atau RW sekitar agar data-data yang diberikan dari responden itu mau untuk menyampaikan apa yang kami tanyakan," tambah dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Sesi 1 Ditutup Anjlok ke Level 5.835,11, Bursa Asia Juga Kompak Merah
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Mensesneg Beberkan Faktor Pemicu Terjadinya PHK dan Cara Memitigasinya
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Menteri Keuangan RI Larang Anaknya Jadi Pegawai Negeri
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
FITT Tinggalkan Bisnis Hotel, Bidik Pertumbuhan lewat Akuisisi Perusahaan Tambang
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Jaksa Agung Minta Jaksa Baru Ubah Kultur Koruptif hingga Feodal di Kejaksaan
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.