BOGOR, KOMPAS.com - Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengangkut langsung seorang pengemis yang kedapatan duduk di trotoar samping Gedung PLN ULP Kota Bogor, Jumat (26/6/2026).
Peristiwa itu terjadi saat Dedie bersama jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berjalan dari arah PLN menuju Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) untuk meninjau pembongkaran.
Di tengah perjalanan, ia melihat seorang pengemis yang tengah bersantai dengan beralaskan kardus di trotoar.
Baca juga: Stasiun Bogor Punya Akses Baru, Lebih Luas dan Dilengkapi Kanopi
Dedie kemudian menghampiri dan menanyakan asal-usul pria tersebut.
"Mau dibalikin ke rumah, ke Riau enggak? Riau-nya di mana?" tanya Dedie kepada pengemis tersebut.
Namun, tawaran itu langsung ditolak.
Baca juga: Ada Perayaan HUT Kota Bogor ke-544, Jalan Sudirman Bogor Ditutup Total Besok
"Jauh, Pak. Jangan (dipulangin) dong," jawab pengemis tersebut.
Dedie kemudian menegaskan bahwa trotoar bukan tempat untuk tinggal.
Ia juga memastikan pengemis asal Riau tersebut akan ditangani oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor.
"Orang Riau ya. Enggak boleh di sini Pak, masa tinggal manusia di sini (trotoar). Nanti (diurus) sama Dinsos ya," jelas dia.
Baca juga: Pria Tewas Tertabrak KRL di Bogor, Sempat Mondar-mandir di Rel
Saat dikonfirmasi wartawan, Dedie mengatakan masih banyak warga, baik dari Kota Bogor maupun luar daerah, yang datang untuk mencari penghasilan dengan mengandalkan belas kasihan.
Karena itu, ia meminta Dinsos melakukan pendataan agar Pemkot Bogor dapat mengambil langkah penanganan yang tepat.
Dedie menambahkan, jika memungkinkan, pihaknya akan memulangkan para pengemis ke daerah asalnya.
Baca juga: Kemarin Masih Bisa Beli Dada Ayam, Sekarang Tahu Tempe Aja, Cerita Pengguna Pertamax di Bogor
“Kemudian kalau memang dibutuhkan yang bersangkutan kita kembalikan kepada keluarganya, ya kita kembalikan. Sudah beberapa kok. Makanya kalau tidak, tentu ini akan menjadi beban Kota Bogor juga ya,” kata dia.
“Kasihan kan tadi disampaikan beliau adalah warga dari Riau. Mungkin dulu ya atau beberapa waktu yang lalu mungkin udah kehabisan ongkos ya nanti kita data. Banyak yang seperti itu,” sambungnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang