JAKARTA, KOMPAS.com – Memasuki usia ke-499 tahun, Jakarta terus berbenah menjadi kota metropolitan dengan sistem transportasi publik yang semakin beragam.
Kini, warga memiliki banyak pilihan moda, mulai dari TransJakarta, KAI Commuter (KRL), MRT Jakarta, hingga LRT Jakarta.
Kehadiran berbagai moda ini tak hanya mengubah wajah mobilitas ibu kota, tetapi juga perlahan mengubah cara warga menjalani kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Jakarta Menuju Kota Global, Sudahkah Transportasi Publiknya Ramah Lansia dan Disabilitas?
Jika selama ini transportasi publik kerap diasosiasikan dengan pekerja kantoran yang mengejar waktu, realitas di lapangan menunjukkan cerita yang lebih luas.
Moda transportasi umum juga menjadi penopang hidup bagi berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pedagang kecil, pekerja informal, hingga lansia.
Bagi sebagian warga, transportasi publik bukan sekadar pilihan untuk menghindari kemacetan, melainkan kebutuhan dasar untuk bekerja, berdagang, hingga menjaga keberlangsungan hidup keluarga.
Andalan pekerja: efisien dan terprediksiSetiap pagi, Aritama (34), karyawan swasta asal Bekasi, memulai rutinitasnya dengan naik KRL menuju Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta ke kantor.
Menurutnya, transportasi publik menjadi solusi paling realistis untuk mobilitas harian.
“Karena paling masuk akal. Dulu sempat naik motor, tapi capek banget. Macet, panas, belum risiko di jalan. Kalau bawa mobil juga biaya bensin, tol, parkir mahal. Jadi transportasi umum lebih efisien,” kata Aritama saat ditemui di kawasan Dukuh Atas, Kamis (25/6/2026).
Ia merasakan perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada integrasi antarmoda yang membuat perjalanan lebih mudah diprediksi.
Baca juga: Bagi Kelompok Rentan, Transportasi Publik Jakarta Bukan Pilihan, melainkan Kebutuhan
“Kalau dibanding beberapa tahun lalu, jauh lebih nyaman. Sekarang pilihan moda banyak dan saling terhubung. Buat pekerja kantoran seperti saya, ini sangat membantu,” ujarnya.
Kemudahan akses informasi rute serta sistem pembayaran non-tunai juga menjadi nilai tambah. Namun, persoalan klasik belum sepenuhnya hilang, yakni kepadatan saat jam sibuk.
“Begitu rush hour, kenyamanan turun drastis karena terlalu padat. Kadang buat masuk gerbong saja susah,” katanya.
Meski demikian, Aritama tetap memilih transportasi publik karena waktu dan biaya lebih terkendali.
Transportasi publik juga menjadi urat nadi bagi pedagang kecil seperti Hayat (61), penjual makanan keliling di kawasan Pasar Baru hingga Senen.




