Mengapa Trump Tidak Menggulingkan Rezim Iran?

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

oleh Shi Kejian

Banyak pendukung Trump di internet tidak dapat menerima putusan tentang penandatanganan perjanjian damai (lebih tepatnya, nota kesepahaman) antara AS dan Iran. Salah satu pandangan mereka adalah bahwa rezim Iran telah membantai begitu banyak warganya. Tetapi rezim tersebut bukannya digulingkan malahan diberikan kesempatan negosiasi.

Hal ini sama saja dengan AS secara diam-diam mendukung kediktatoran dan pembantaian. Pandangan yang lain menunjukkan bahwa sebelum perang AS-Iran, Trump secara terbuka telah bernjanji akan mendukung perjuangan rakyat Iran, tetapi hasil akhirnya adalah berdamai dengan rezim diktator. Sikap plin-plan ini tidak dapat diterima.

Penulis percaya bahwa Trump memilih untuk bernegosiasi daripada melanjutkan perang untuk menggulingkan rezim Iran memiliki beberapa alasan seperti berikut:

Pertama, upaya untuk menggulingkan rezim telah dilakukan, tetapi sudah terbukti bahwa perlawanan sipil Iran tidak cukup untuk melawan kelompok bersenjata seperti Garda Revolusi. Jika AS ingin menggulingkan rezim Iran, maka dibutuhkan pengerahan pasukan darat ke Iran. Namun, jajak pendapat warga sipil AS menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak menghendaki AS terlibat terlalu dalam di perang Iran, jadi menolak pengiriman pasukan.

Kedua, setelah tergulingnya rezim Khamenei, lanskap politik menjadi samar. Iran sangat mungkin dijadikan sebagai arena perebutan kekuasaan antara berbagai faksidi Iran. Jika kekacauan meletus seperti di Irak atau Libya, kehidupan warga sipil Iran akan menjadi lebih bergejolak dan sulit.

Ketiga, penulis merasa bahwa Trump memiliki sifat yang penuh kasih sayang dan murah hati, sehingga ia tidak akan, seperti para pemimpin yang lebih muda, bertindak gegabah untuk menggulingkan pemerintahan diktator demi keadilan yang dangkal. Trump selalu mempertimbangkan biayanya yang harus dibayar, seperti korban jiwa di antara warga sipil dan tentara setempat, dampaknya terhadap ekonomi global dan kesejahteraan nasional, apakah perbandingan biaya dan keuntungan bisa sepadan, dan apakah ada alternatif yang lebih baik?

Trump telah mempertunjukkan pendekatan luar biasa yang ia gunakan dalam menangani isu Venezuela. Alih-alih menggulingkan pemerintah setelah menangkap mantan Presiden Nicolas Maduro, ia bekerja sama dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez untuk secara bertahap membantu transisi Venezuela.

Sejauh ini, proses transisi relatif berhasil. Venezuela telah mengubah citra internasionalnya, tidak lagi bersekutu dengan Iran atau Kuba, memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat, menjadi daya tarik bagi perusahaan-perusahaan besar Barat untuk menanamkan modal, dan mengadakan pembicaraan dengan tokoh-tokoh oposisi untuk membahas “peta jalan untuk dialog transisi demokrasi.”

Penghidupan masyarakat sampai batas tertentu mengalami perbaikan, antrean panjang di SPBU telah hilang, produksi serta ekspor minyak terus meningkat. Meskipun masih banyak kesulitan dalam merevitalisasi ekonomi dan mereformasi sistem politik, namun semua langkahnya tertuju pada demokrasi dan kebebasan. Baru-baru ini bersama dengan Amerika Serikat, Venezuela berhasil menyingkirkan hambatan dalam proses demokrasi, yaitu dengan melenyapkan kepala geng “Tren de Aragua” Nino Guerrero.

Oleh karena itu, mengingat serangan militer terhadap Iran tidak cukup untuk menggulingkan pemerintahan teokratis, maka AS memilih untuk bernegosiasi dengan pemerintah saat ini dan menggunakan pendekatan dua arah “deterensi kekuatan ditambah insentif ekonomi” untuk secara bertahap mengarahkan Iran agar mengurangi sikap permusuhannya, dan berfokus terhadap pembangunan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah pilihan terbaik.

Karena pengalaman Venezuela menunjukkan bahwa ketika pemimpin garis keras yang paling keras kepala dan ekstrem ( Nicolas Maduro) disingkirkan, penggantinya mungkin lebih bersedia untuk menyelesaikan masalah secara damai. Setelah penangkapan Maduro, penggantinya, Rodriguez, menunjukkan fleksibilitas yang cukup besar. Dengan pembunuhan Khamenei dan pemimpin garis keras lainnya dari Garda Revolusi, kepemimpinan pemerintah saat ini mungkin secara bertahap beralih ke pemimpin pragmatis seperti Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Setelah perjanjian damai dengan presiden Iran, Trump berulang kali mengisyaratkan bahwa Iran memiliki pemimpin baru, dan bahwa “pemimpin yang mencapai nota kesepahaman dengan Amerika Serikat” ini mudah untuk diajak bekerja sama. Kemudian, pada 18 Juni tahun ini, Ketua Parlemen Gharibaf secara terbuka menyatakan: “Iran harus berfokus terhadap pembangunan ekonomi dan menghindari konfrontasi. Iran harus membebaskan rakyatnya dari tekanan ekonomi dan membangun bangsa.”

Ini adalah pernyataan yang tidak mungkin bisa diterima oleh kelompok garis keras Iran 4 bulan lalu. Pada saat itu, Garda Revolusi mengancam akan menangkap, menghukum, dan mengeksekusi menteri luar negeri, presiden, dan ketua parlemen yang pragmatis karena pengkhianatan.

Jadi, bagaimana sikap Garda Revolusi saat ini? Wakil Presiden AS Vance baru-baru ini mengungkapkan bahwa pimpinan Garda Revolusi secara diam-diam mengatakan kepada AS: “Kami mungkin pernah memiliki permusuhan sebelumnya, kami mungkin pernah memiliki ketidakpercayaan, tetapi kami percaya bahwa cara kami berbisnis dengan AS selama 47 tahun terakhir adalah sebuah kesalahan. Mari kita mencoba lagi!” …

Sikap seperti itu juga tidak mungkin dapat dinyatakan pada 4 bulan lalu, karena pimpinan Garda Revolusi saat ini benar-benar berbeda, yang lama semuanya telah lenyap, dan telah terjadi banyak perubahan. Oleh karena itu, kepemimpinan baru ini jelas lebih rasional, tidak seekstrem dan sefanatik pendahulunya, karena yang baru ini, mereka tidak memiliki banyak dendam, maka mereka tidak khawatir kalau dimintai pertanggungjawaban, bahkan jika mereka berkompromi. Kekhawatiran mereka adalah tidak terlalu radikal, untuk menghindari operasi pemenggalan kepala.

Sementara itu, jika Iran dapat memenuhi janjinya, seperti meninggalkan program nuklirnya, AS secara bertahap dapat mencairkan aset luar negeri Iran dan mencabut sanksi. Ini akan memberi mereka prospek nyata untuk masa depan yang lebih baik dan motivasi untuk berubah. Jika rencana ini berhasil, pengaruh kaum pragmatis akan meningkat, kubu garis keras akan secara bertahap melunak, dan perubahan internal di Iran akan menjadi mungkin.

Tentu saja, Iran memiliki sejarah menipu komunitas internasional, membuat janji sambil diam-diam mengembangkan senjata nuklir. Namun, keadaan sekarang berbeda. Presiden AS sebelumnya cenderung menjalankan kebijakan pemuasan (Appeasement Policy), tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan Iran.

Oleh karena itu, bahkan jika mereka mengetahui situasi tersebut, mereka menutup sebelah mata, membiarkan bahaya berlalu dan menyerahkannya kepada presiden berikutnya, yang pada akhirnya menyebabkan perang AS-Iran saat ini. Setelah pemerintahan Trump menginstruksikan serangan, mereka memahami konsekuensi buruk dari kebijakan pemuasan itu, baru sadar perlu menerapkan pemantauan dan inspeksi secara ketat, siap bertindak kapan saja jika ditemukan pelanggaran.

Lebih lanjut, Trump menyatakan pada KTT G7 yang baru saja berakhir bahwa Angkatan Udara AS memantau fasilitas nuklir Iran dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka bahkan dapat membaca papan nama fasilitas yang masuk dan keluar.

Di bawah strategi “wortel dan tongkat” ini, patut dicoba untuk memberikan kesempatan kepada kepemimpinan baru Iran saat ini melakukan perubahan total, karena ini adalah pilihan realistis dan terbaik bagi rakyat Iran, Amerika Serikat, negara-negara tetangga, dan dunia. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Raja Charles III Ungkap Tagihan Pajaknya, Setor Rp 580 M dalam 2 Tahun
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Dedi Mulyadi: Pemprov Jabar Jamin Biaya Pengobatan Korban Penganiayaan dan Penyekapan hingga Sembuh
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Menkeu Purbaya Bentuk Tim Khusus Awasi Anggaran MBG hingga Seluruh Daerah
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
OPINI: Notaris di Persimpangan
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Sudirman-Thamrin Ditutup, Ini Jalur Alternatif Saat HUT Jakarta
• 10 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.