Iran telah menutup lalu lintas melalui selat Hormuz sehingga membuat harga bahan bakar, pupuk, dan barang-barang lainnya melonjak.
IDXChannel - Sejak awal perang dengan AS dan Israel, Iran telah menutup lalu lintas melalui selat Hormuz sehingga membuat harga bahan bakar, pupuk, dan barang-barang lainnya melonjak.
Namun, serangan pada hari Kamis (25/6/2026) terhadap kapal komersial terdaftar Singapura, Ever Lovely, kembali memicu ketegangan antara antara AS dan Iran.
Dilansir dari laman AlJazeera Sabtu (27/6/2026), Presiden AS Donald Trump sebelumnya pada hari Jumat memperingatkan bahwa ia menganggap insiden Ever Lovely sebagai "pelanggaran bodoh" terhadap memorandum tersebut.
Kesepakatan itu dimaksudkan untuk memicu periode 60 hari di mana Iran diwajibkan untuk melakukan upaya terbaik untuk memungkinkan kapal komersial melewati selat tanpa biaya. Namun, gencatan senjata yang sudah goyah itu kesulitan untuk dipertahankan, karena Israel terus membombardir Lebanon, yang melanggar ketentuan memorandum tersebut.
Sebagai tanggapan, Iran mengatakan pekan lalu bahwa mereka akan menutup Selat Hormuz sekali lagi sebagai akibat dari serangan di Lebanon.
Terbaru, Amerika Serikat (AS) kembali menyerang Iran sebagai tanggapan atas insiden sehari sebelumnya ketika sebuah kapal kargo dihantam oleh drone Iran. Komando Pusat AS, yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah mengatakan telah mengeluarkan tanggapan yang kuat terhadap serangan kemarin.
"Pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pantai,” kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan. Serangan AS dilaporkan terjadi di dekat pelabuhan Sirik di Iran selatan setelah pengumuman tersebut.
Setelah itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah membalas dengan serangan terhadap instalasi militer AS di wilayah tersebut. Dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita pemerintah IRNA, IRGC memperingatkan, “Jika agresi berulang terjadi, tanggapan kami akan lebih luas dari ini," tutur dia.
(kunthi fahmar sandy)





