JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pengendara motor dan mobil nekat menerobos jalur khusus Transjakarta (busway) di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (27/6/2026) pagi. Ironisnya, aksi pelanggaran itu terjadi saat arus lalu lintas di jalur reguler terpantau lancar.
Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, kendaraan yang masuk ke jalur busway justru terjebak di belakang bus Transjakarta yang sedang berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di Halte Taman Kota.
Fenomena itu terjadi berulang kali. Baik arus lalu lintas menuju Cengkareng maupun ke arah Grogol di jalur reguler Jalan Daan Mogot terpantau ramai lancar tanpa hambatan berarti.
Baca juga: Pemotor di Cengkareng Tendang Separator Busway Saat Terjebak Bus Transjakarta
Mayoritas pemotor sudah melakukan pelanggaran sejak melintas di jalan layang (flyover) Pesing yang seharusnya steril dari kendaraan roda dua. Setelah turun dari flyover, mereka melaju di lajur kanan dan masuk ke area busway.
Namun, saat bus Transjakarta berhenti di halte, para pengendara itu tidak bisa bergerak dan terpaksa mengantre di belakang bus. Beberapa kali terdengar bunyi klakson dari para pemotor yang tidak sabar menunggu bus kembali berjalan.
Banyaknya kendaraan yang menerobos jalur busway meski kondisi lalu lintas di jalur reguler lancar mengundang keheranan warga.
Hani (28), seorang pejalan kaki yang kerap menggunakan layanan Transjakarta, mengaku bingung dengan pola pikir para pengendara yang memilih melanggar aturan.
"Emang sering pada di belakang bus masuk jalur (busway). Cuma bingung juga, padahal kan di luar enggak macet, kalau di jalur malah harus berhenti kalau Transjakartanya berhenti," kata Hani saat ditemui Kompas.com di JPO Halte Taman Kota, Sabtu.
Baca juga: 27 Juni di Jakarta: Naik Transjakarta, MRT, dan LRT Cuma Rp 1, Ancol hingga Ragunan Gratis
Menurut Hani, para pengendara kemungkinan mengira terjadi kemacetan di depan sehingga memilih masuk ke jalur busway. Padahal, kondisi di jalur reguler justru lancar.
"Mungkin mereka mikirnya di depan macet, jadi masuk ke busway, ternyata malah di busway lebih macet penuh motor, di luarnya lancar," ucap Hani.
Ia juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas. Menurutnya, penerapan tilang elektronik (ETLE) kerap tidak efektif karena masih ada pengendara yang sengaja menutupi pelat nomor kendaraan.
"Pakai ETLE juga percuma kalau ditutupin pelatnya, emang enggak ada kesadaran sih SDM-nya buat taat aturan," sambungnya.
Kekesalan serupa diungkapkan Ananda (26), pengguna setia Transjakarta. Ia mengaku terganggu dengan ulah para pelanggar yang memenuhi jalur busway.
Menurut Ananda, para pengendara yang menerobos jalur khusus itu bahkan kerap menyalahkan bus Transjakarta dengan membunyikan klakson karena berhenti cukup lama di halte.
Baca juga: Transjakarta Hapus Rute 1N dan 10D Mulai 1 Juli, Ini Alasannya
"Banyak, mereka klakson-klakson, padahal kan mereka yang salah, ngapain masuk jalur Transjakarta udah tahu sempit dan melanggar. Seharusnya itu kalau orang naik transportasi umum bisa bebas dari macet, kan ada jalurnya sendiri, tapi malah penuh motor, bikin nambah macet," ujar Ananda.





