Jakarta, VIVA – Setiap orang memiliki karakter dan cara yang berbeda dalam menghadapi tekanan maupun mengelola emosi. Ada yang cenderung tenang saat menghadapi konflik, tetapi ada pula yang lebih mudah marah, impulsif, atau bereaksi secara emosional.
Perbedaan tersebut sering kali dikaitkan dengan temperamen, yaitu kecenderungan dasar seseorang dalam merespons situasi tertentu.
Belakangan ini, istilah temperamental kembali menjadi perbincangan setelah muncul dalam sejumlah pemberitaan kasus kriminal. Namun, banyak orang masih mengira bahwa sifat tersebut hanya dipengaruhi oleh kepribadian semata.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa temperamen terbentuk dari kombinasi berbagai faktor biologis dan lingkungan yang saling memengaruhi sejak usia dini hingga dewasa. Lantas, apa saja faktor yang dapat membentuk seseorang menjadi pribadi yang bertemperamen tinggi? Berikut penjelasannya, sebagaimana dilansir dari Nature, Sabtu, 27 Juni 2026.
1. Faktor genetik atau bawaan lahir
Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap temperamen adalah genetik. Para peneliti menemukan bahwa sebagian karakter dasar seseorang sudah mulai tampak sejak bayi, seperti tingkat kepekaan terhadap rangsangan, kemampuan menenangkan diri, hingga kecenderungan mudah marah.
Meski demikian, faktor genetik bukanlah penentu mutlak. Memiliki kecenderungan temperamental bukan berarti seseorang pasti akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah melakukan kekerasan. Gen hanya memberikan potensi, sementara perkembangan sifat sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup.
2. Pola asuh sejak masa kanak kanak
Lingkungan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan anak mengendalikan emosi. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh hangat, konsisten, dan penuh perhatian umumnya lebih mampu mengenali serta mengelola perasaannya.
Sebaliknya, pola asuh yang keras, penuh hukuman, sering membentak, atau mengabaikan kebutuhan emosional anak dapat meningkatkan risiko munculnya perilaku agresif maupun kesulitan mengendalikan amarah saat dewasa.
3. Pengalaman traumatis
Trauma masa kecil maupun pengalaman hidup yang menyakitkan juga dapat memengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Kekerasan dalam rumah tangga, perundungan, pelecehan, kehilangan orang terdekat, atau tekanan berkepanjangan dapat membuat seseorang menjadi lebih sensitif terhadap stres.
Pada sebagian individu, pengalaman tersebut dapat memicu respons emosional yang lebih kuat sehingga mereka lebih mudah marah atau bereaksi secara berlebihan ketika menghadapi situasi tertentu.





