Dunia fashion terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Perubahan ini menuntut hadirnya karya-karya baru agar tren fesyen tak berhenti. Namun, di balik setiap karya fesyen yang lahir, dibutuhkan talenta-talenta berbakat dari para desainer yang menjadi penggeraknya.
Berdasarkan pengamatan Thresia Mareta, Advisor JF3 sekaligus pendiri Lakon Indonesia—jumlah brand fesyen yang ia temui menurun dari sekitar 200 menjadi 150. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa dibutuhkannya generasi penerus agar industri fesyen Indonesia terus maju.
“JF3 sudah berjalan selama 22 tahun. Tahun ini kami melihat ada satu kekhawatiran soal generasi desainer berikutnya. Kelihatannya memang dibutuhkan desainer yang mampu mengeksekusi sebuah ide menjadi suatu kenyataan (karya),” ujar Thresia.
Berangkat dari kekhawatiran tersebut, JF3 kemudian menginisiasi sebuah kompetisi bertajuk Future Fashion Designer (FFD). Kompetisi ini menantang para desainer muda untuk menciptakan busana dari nol hingga menjadi sebuah karya utuh, mulai dari memilih dan membeli bahan, merancang desain, membuat pola bahan, hingga menjahitnya.
“Ini bukan sekadar kompetisi ide atau konsep, tetapi ini adalah benar-benar kompetisi kemampuan. Jadi mereka harus punya kemampuan, bukan hanya menggambar, tetapi juga membuat pola, mengerti soal menjahit, memahami serat bahan, warna, dan lain-lain,” tambah Theresia.
Dalam menjalankan kompetisi ini, JF3 berkolaborasi dengan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute karena dikenal sebagai sekolah mode pencetak desainer ternama. Theresia menilai bahwa sekolah tersebut dapat mendukung tujuan JF3 dalam mencetak generasi desainer penerus industri fesyen Indonesia.
“Kami memerlukan seseorang yang tidak hanya dapat sharing ideation, tetapi juga eksekutor yang sangat baik. Jadi kami memilih Susan Budihardjo Fashion Forward Institute,” ujar Theresia.
Lima tantangan berbeda dengan waktu dan budget terbatasKompetisi ini berlangsung selama dua minggu, mulai dari 12–26 Mei 2026, dengan melibatkan lima finalis. Dalam kurun waktu tersebut, para finalis harus menyelesaikan lima koleksi dengan tantangan yang berbeda-beda, di antaranya: Prototype, The Curve, Re’Heritage, Multifunction, dan Opposite.
Selain tantangan tema yang beragam, kelima finalis juga dihadapkan pada keterbatasan waktu dan anggaran. Hal tersebut menuntut mereka untuk terampil mengatur semuanya, layaknya ditempa sebagai desainer sesungguhnya.
“Mereka mendapat uang belanja Rp 500 ribu untuk membuat satu tampilan (di antara dua tantangan). Mereka dibawa ke toko Tanah Abang, bukan toko keren-keren,” ujar Susan Budihardjo, pendiri Susan Budihardjo Fashion Forward Institute.
Di tengah tantangan yang menuntut mereka menyelesaikan setiap tugas, tak dimungkiri ada rasa lelah yang dihadapi finalis. Para juri pun melihat bagaimana perjuangan para finalis hingga menangis saat membuat karya.
“Jadi ada drama juga; ada yang nangis; ada yang stres,” cerita Susan.
Melihat perjuangan tersebut, Desainer Aksesori Rinaldy A. Yunardi yang turut menjadi juri dalam kompetisi ini mengaku bangga kepada kemampuan para finalis.
“Aku menghargai bagaimana cara mereka bekerja yang selalu siap dan menunjukkan karyanya,” ungkap Rinaldy.
Terdapat 12 juri yang menilai karya finalisTak tanggung-tanggung, kompetisi FFD ini menghadirkan 12 juri yang mewakili industri fashion. Kursi juri diisi oleh Thresia Mareta, Susan Budihardjo, Rinaldy A. Yunardi, Hian Tjen, Caren Delano, Sofie, Yongki Komaladi, Sarie Febriane, Didi Budiardjo, Richard Hartono, Ary Juwono, dan Djafar.
Para juri datang sekitar empat hingga lima jam sebelum karya selesai untuk memberikan komentar. Dari situ, para finalis belajar mempertimbangkan masukan dari orang lain. Hal tersebut menjadi bagian pengalaman yang penting karena saat terjun ke dunia fesyen—mereka akan dihadapkan dengan berbagai pendapat di masyarakat.
“Jadi dalam waktu singkat itu mereka mendengar masukan dari orang lain. Hal tersebut menguji mereka bagaimana bisa mengatur waktu, kemudian ada komentar dari juri tentang apa yang harus mereka wujudkan agar hasilnya menjadi lebih baik,” ungkap Susan.
Salah satu desainer ternama sekaligus juri kompetisi ini, Hian Tjen memberikan masukan kepada para finalis mengenai bagaimana hasil rancangan mereka terlihat saat dikenakan oleh orang lain. Dari situ, finalis dapat memperoleh sudut pandang yang lebih objektif untuk mengevaluasi dan menyempurnakan karya.
“Aku kasih mereka komentar, tapi balik lagi ke mereka sendiri—seperti apa koleksi yang mereka pikirkan,” ujar Hian Tjen.
Pemenang FFD 2026Kompetisi FFD hanya memilih satu pemenang dari lima finalis. Gelar juara tersebut kemudian jatuh ke tangan Arron Bryan, desainer muda asal Jayapura. Dewan juri menilai Arron mampu menunjukkan konsistensi sejak tantangan pertama hingga babak final.
Melalui koleksinya, Arron menerjemahkan budaya Papua ke dalam harmoni desain kontemporer. Namun, perjalanan menuju kemenangan tidak semudah yang dibayangkan. Arron mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama kompetisi terletak pada proses merancang desain yang berpacu dengan waktu terbatas.
“Challenge terberat aku itu dari segi desain dan waktu. Jadi bagaimana kita membuat desain yang pantas kita tampilkan ke juri dengan waktu yang cuma dua hari atau bahkan satu setengah hari untuk mengeksekusi sebuah karya,” cerita Arron kepada kumparanWOMAN.
Selain hadiah uang tunai senilai Rp 50 juta yang ia bawa pulang, ada hal lain yang menurut Arron tak kalah berharga: kesempatan bertemu dengan para profesional dari berbagai bidang, serta mendapatkan teman baru melalui kompetisi ini.
Tak hanya sang juara, seluruh finalis FFD akan mendapat kesempatan yang sama untuk menampilkan karya mereka di panggung JF3 Fashion Festival 2026, berdampingan dengan karya desainer Indonesia hingga internasional.





